Selasa, 23 September 2014

Apa itu sungkem?



Apa itu sungkem?
Sungkem adalah prosesi pemberian hormat berupa sembah-sujud, menyerahkan diri, pasrah pada seseorang yang berkuasa, lebih tua,  yang dituakan atau yang dihormati. Dengan melakukan prosesi sungkem berarti telah terjadi suatu pengakuan akan pengaruh orang atau seseorang yang diberi penghormatan dengan sungkem. Sungkem biasa terjadi pada seseorang yang memiliki hubungan keluarga/darah (anak kepada ayah-ibunya, mertuanya atau rajanya atau orang yang memiliki kuasa yang terkait dengan dirinya). Sungkem seseorang biasanya dilakukan pada hari hari penting, misalkan hari raya idul fitri, pertemuan keluarga, upacara adat keraton pada hari hari tertentu saat terdapat acara penting. Sungkem sesungguhnya memiliki nuansa spiritual, berupa ikatan bathin, kerabat-kekeluargaan atau kekuasaan.

Sungkem Terakhir
Tersebutlah abdi dalem keraton Majapahit, Sabdo Palon dan Naya Genggong. Kedua abdi itu merasa gelisah karena junjungannya Prabu Brawijaya V atau Girindriwardhana akan berpindah keyakinan.
“Ampun beribu ampun Gusti Prabu, apakah niat paduka untuk pindah ageman itu, sudah dipikir masak masak? tanya Sabdo Palon.
“Aku sudah mantap akan memeluk "agama rosul" itu, sesuai dengan pertanda atau wangsit yang aku dapat, jadi kepindahan itu bukan sekedar kemauanku tapi kemauan sang waktu, kemauan Gusti Kang Akaryo Jagad.
“Tapi Gusti, bagaimana kalau rakyat selak dan tidak setuju dengan niat Gusti Parbu? tanya Noyo Genggong.
“Aku sudah perkirakan semuanya, untuk itu, aku rela bila harus kehilangan tahta Majapahit!
Merepih-luluh hati kedua abdi dalem itu. Dengan mata berkaca kaca, mereka seakan tak percaya dengan tekad sang Prabu, junjungannya yang telah mereka abdi selama hidupnya. Dengan hati remuk, kedua abdi dalem itu melepas udengnya dan menyerahkan kepada Prabu Brawijaya V seraya tunduk-takzim dan berucap bahwa mereka akan setia pada agama leluhurnya dan tak sanggup mengikuti jejak junjungannya itu, untuk pindah ageman agama. Lalu Sabdo Palon dengan berat hati berujar :
“Ketahuilah paduka, bahwa 500 tahun lagi, maka akan muncul agama baru yang akan dianut rakyat Jawa, yaitu agama budhi yang akan menggantikan "agama rosul" yang paduka anut itu”. Kemudian keduanya sungkem pada Prabu Brawijaya V lalu moksa, hilang lenyap tak berbekas. Ternyata itu sungkem terakhir para abdi dalem keraton Majapahit, Sabdo Palon- Noyo Genggong.

&&&

.



.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar