Dalam wujud kesempurnaan fisik dengan dua sinkronisasi anggota bagian tubuh yang membelah, yaitu mata menerawang pemandangan alam, lubang hidung tempat keluar masuk penghisap-pompa oksigen, telinga menangkap sinyal getaran suara, tangan kanan kiri terjuntai sama panjang, kaki berjalan silih berganti, meniti jalanan. Semuanya sudah dalam saji kesempurnaan. Jari tangan kaki kita, tidak tumbuh kembar, tapi berbeda bentuk dan fungsinya. Alat pencengkeram itu dapat dikontrol untuk menimbulkan gerak jari terkembang-remas, yang terkoordinasi tanpa cela. Demikian pula dua bentukan sebangun yang bersebelahan anggota tubuh kita itu, menopang keseimbangan kiri-kanan, dalam keserasian fungsi dan organomic. Kita sebagai Homo Sapien, si manusia berpengetahuan, cerdas dan bijak telah tumbuh melalui evolusi yang "mengherankan" dengan memiliki organ tubuh pengecap rasa, yaitu lidah. Dengan alat kontrol rasa ini, maka kita berhak menolak asupan makanan, yang tak berasa, sesuai dengan selera kita. Juga berkesempatan untuk memanjakan lidah semau kita, asal kita suka. Sementara ditempat aman tersembunyi, kita memiliki organ seks untuk difungsikan sebagai alat perkelaminan dan penyaji kenikmatan bila sudah dianggap remaja-dewasa .Sebagai organ tunggal, yang berfungsi untuk menangguk nikmat ragawi secara orgasme seksual atau berfungsi sebagai alat reproduksi, tentu harus kita fungsikan secara terkontrol dan bertanggung jawab. Ini kesempatan ragawi, kala tubuh kita masih berfungsi secara normal. Tidak ada jalan lain yang lebih normal daripada meladeni keinginan purba dari alat pengecap lidah dan genitalia. Awas, bila tak terkontrol dan tak berhati hati, maka daya dukung pipa kapiler darah tak mampu menampung luapan sumbatan kolesterol, yang akan membawa risiko letal dan terpecahnya kulit kelamin terkena penyakit menular, makanya janganlah difungsikan secara serampangan. Ayo manjakan ulah rasa kita, cecap semua nikmat duniawi, selagi nafas masih bersemayam didada. Rahayu!
SULUK JAGAD: "Alam terkembang jadi Ayatullah, Ayatullah terkembang jadi Guru". Selamat datang, ayo bergabung! Salam Rahayu, Sagung Dumadi! dari Paguyuban Budhiroso Sejati. Pertanyaan, kritik dan saran, harap ditujukan langsung ke roosdiansyahpribadi@gmail.com. Donasi mohon ditransfer ke Bank Mandiri Norek 140-00-1351363-6
Tampilkan postingan dengan label Udarasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Udarasa. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 September 2015
Jalan Tunggal Menuju Urat Tuhan
Dalam wujud kesempurnaan fisik dengan dua sinkronisasi anggota bagian tubuh yang membelah, yaitu mata menerawang pemandangan alam, lubang hidung tempat keluar masuk penghisap-pompa oksigen, telinga menangkap sinyal getaran suara, tangan kanan kiri terjuntai sama panjang, kaki berjalan silih berganti, meniti jalanan. Semuanya sudah dalam saji kesempurnaan. Jari tangan kaki kita, tidak tumbuh kembar, tapi berbeda bentuk dan fungsinya. Alat pencengkeram itu dapat dikontrol untuk menimbulkan gerak jari terkembang-remas, yang terkoordinasi tanpa cela. Demikian pula dua bentukan sebangun yang bersebelahan anggota tubuh kita itu, menopang keseimbangan kiri-kanan, dalam keserasian fungsi dan organomic. Kita sebagai Homo Sapien, si manusia berpengetahuan, cerdas dan bijak telah tumbuh melalui evolusi yang "mengherankan" dengan memiliki organ tubuh pengecap rasa, yaitu lidah. Dengan alat kontrol rasa ini, maka kita berhak menolak asupan makanan, yang tak berasa, sesuai dengan selera kita. Juga berkesempatan untuk memanjakan lidah semau kita, asal kita suka. Sementara ditempat aman tersembunyi, kita memiliki organ seks untuk difungsikan sebagai alat perkelaminan dan penyaji kenikmatan bila sudah dianggap remaja-dewasa .Sebagai organ tunggal, yang berfungsi untuk menangguk nikmat ragawi secara orgasme seksual atau berfungsi sebagai alat reproduksi, tentu harus kita fungsikan secara terkontrol dan bertanggung jawab. Ini kesempatan ragawi, kala tubuh kita masih berfungsi secara normal. Tidak ada jalan lain yang lebih normal daripada meladeni keinginan purba dari alat pengecap lidah dan genitalia. Awas, bila tak terkontrol dan tak berhati hati, maka daya dukung pipa kapiler darah tak mampu menampung luapan sumbatan kolesterol, yang akan membawa risiko letal dan terpecahnya kulit kelamin terkena penyakit menular, makanya janganlah difungsikan secara serampangan. Ayo manjakan ulah rasa kita, cecap semua nikmat duniawi, selagi nafas masih bersemayam didada. Rahayu!Senin, 07 Oktober 2013
Jalan Tak Terduga
Ini
jalan tak biasa, walaupun demikian melaluinya pun tidaklah sesederhana
yang kau kira. Maaf saja bila segala karsaku kau rengkuh jua. Tak
apalah dirimu berlaga di pembaringan, senantiasa menepikan harapan dan
sejumput sayang. Kalau
kau kembali, bilang terus terang, kerna rasa sayang ini tak hilang jua,
walaupun turun gerimis bernada pilu. Aku pasti pulang, kapan itu,
tanyakan pada buluh perindu yang berderit lirih menanti sebilah
keputusan menentukan. Kemaren lusa, katanya ada kabar dari saudara,
kabar apakah itu? Tak sudah engkau berbilang kata, berbusa busa,
menyemprot keheningan malam nan manja. Mari sini, ini sengaja kurangkai
untukmua. Seuntai kembang mayang berwarna ceria, kesetiaan itu sudah
usang, tapi cobalah untuk bertandang bersama hembusan angin, yang
terbawa dari gulma, ladang, atau lelapangan. Tak ada sepi bagiku,
seonggok piring sisa pesta kemarin masihlah membayang dalam cerocos
dingin malam. Tak sabar aku menunggu, segera tinggalkan kenangan masa
lalu, bersenda gurau bukanlah tabu, asal waktu remang tiba segera
pulang. Ini kembang belumlah layu benar, segera sirami dengan sekedar
ungkapan, tak pandang bulu tak pandang sembilu. Tuan, tadi pagi ada
tamu, katanya tuan harus segera menghadap, pesannnya, jangan bawa masa
lalu, mungkin itu ada benarnya, tak tahulah Tuan, bahwa hidup dan
kehidupan itu, jalin menjalin bak tikar pandan. Pakaian putih ini,
selalu kau jaga agar bersih senantiasa menjelang. Aku ini citra lagak
lagumu, yang berkokok leksana ayam jantan berkalang, menantang,
menerjang, mencari pengganti tahta dan kekuasaan. Lekaslah berdandan
Tuan, bersimbah harum kesuma lautan. Tak inginkah Tuan beristirah barang
sejenak, setelah seharian berkubang keringat berlanjut lanjut. Segera
lantunkan lagu kenangan, walaupun tak jua ketemu, riangkan waktu bersama
setitik kehangatan. Jangan ragu, hidup bukanlah sekedar memakan kayuhan
dan menguapkan masa lalu. Segera datang dan jumpa, saudara jauh mungkin
masih bisa dikenang. Melajulah kedepan, angin buritan tak akan
mengganggu. Melajulah cinta, angin muson kan segera tiba. Mari bersua,
menepi pantai harapan.$$$
Balada Pekerja Kontrak
Pagi
buta bermenung diri menanti lolongan mentari. Keringat ini masih
meneteskah, kuharapkan begitu adanya. Sudah saatnya berhenti menari
diatas gunungan pasir, melembutkan pinggir pinggir jalanan. Saat bunyi
desing sekop menyalak
bertalu bergantian, didera sayang napas jalanan. Tak sudi aku mampir,
walaupun sejenak. Kerinduan pada tingkah gadis yang bermanja diselera
candanya, masih membuatku muak. Deru nafas ini jangan dianggap tabu, tak
berkesudahan, sebab pijakan dunia bisa saja mengkilirkan jejarian
telapak kaki kita. Keaatas mana berlelahan pergi? Mungkin hanya berputar
putar menuangkan pesona diri, mari bersolek selagi sempat, tertundapun
tak biarkan kau barang semenit. Berjalan kaki kearah temaram cahya
padang rembulan seraya menekuk perasaan cinta yang menghempas diatas
buih kenangan, berlalu lalang dalam doa yang dihibahkan keharibaan sang
bumi, meranggas. Kutunggu suara merdu bunyi pasir yang jatuh diatas
peraduan bak truk, yang dulu sempat kita jalani lekuk lakunya diantara
desah nafas manja gadis merana. Saat yang paling menyenangkan bagi laku
kita, mungkin panggilan lembut akhir minggu, ketiga sejumput uang
hinggap berselip. Lusuh itu memang, tapi kalaulah pacar tak juga
datang, sebatang cerutu klobot mungkin bisa mengundang. Sudahlah, kita
jalani saja sisa hidup ini, toh tetap saja gurih nikmat itu hanya
nuansa. Kunanti kau diujung bukit, saat saat ku merasa merindu, pada
dera manja anak juragan, bolehlah kau tawarkan sebagai teman sepenunggu.
Ini bukit menunggu saudara, bertetakan godam, berhingar di telinga para
saudagar yang datang menawarkan harapan. Bukit ini terasa hampa tanpa
kehadiran awan, bersenda gurau disaat jeda kerja tiba. Berharap pada
belas kasihan adalah fatamorgana, semuanya harus diperjuangkan,
dilelahkan, dilayukan. Sampai suatu saat terdengar suara roboh matahari
yang kelelahan saat segumpal terang datang menjelang diterpa lampu
malam. Selesai sudah bias mengkilat di tubuh ilalang, yang bakal pergi
saat kemarau tiba. Semuanya bisa saja dirunding, asalkan ada saat
bicara. Jangan anggap enteng pertemuan itu, dipandang sebelah mata tak
usah bimbang.
Angin Liar Retak
Malam
remang melantunkan lagu lamanya, dingin berkesepian, menakutkan. Tak
tahukah engkau, saat ini bintang dilangit lagi bermuram durja, disaput
mendung menggantung, tak henti hentinya merengek rengek pada rembulan,
agar segera diturunkan serinai hujan. Sebahagia akukah engkau, yang
bermalam dengan sepotong daging kambing rebus, kuah belimbing berbacam
ikan sepat kering dan saos wijen. Hidup ini agak liat memang, tapi kalau
engkau mengunyahnya dengan pelan dan hati hati, tak ada kenikmatan yang
tak bisa dikecap. Jangan dikenang. Siapa yang menghujat? Entahlah,
kebosanan kadang sering datang tanpa diundang. Siapa takut? Kejenuhan
bisa jadi membawa nikmat bila sempat kau hantarkan beserta sekaleng bir
dan sebungkus popcorn rasa pedas. Lupakan semuanya, kekasih yang malas
berdandan lagi, setelah puas mengarungi berlekuk kenikmatan berhidup
ranjang. Ayo tunggu apalagi, kekasih lama menanti di perempatan jalan.
Bagaimana dengan kenangan ikan panggang di pantai lapuk, bukankah baunya
terasa gurih dan menantang. Dimana para pecundang? Lupakan saja, toh
permainan hidup tak boleh dibawa ke tempat tidur, apalagi
mempermasalahkan dengkur kekasih yang kelelahan. Bagaimana dengan anak
anak? Wah, biarkan saja, mereka adalah dunia kecil kita, yang merasa tak
memilikinya tanpa tangisan merajuk, merengek, memanja. Kekasihku,
katanya dengan menggelayutkan selingkar tangannnya yang kukuh dan
sedikit ramping, masak apa kita hari ini, atau kita serahkan saja
sementara, pada koki langganan kita, nan gendut dan sedikit
menjengkelkan, kala merasa hidangannya belum sempurna benar, sementara
tangan kita tak sabar, ribut melulu memainkan sendok garpu di meja
pesanan. Segeralah berangkat dewasa wahai kekasih kecilku, kapan kita
bersua. Aku sudah tak ragu menunggu, sebait puisi, segelas sampanye,
sepotong daging panggang, cukup untuk menorehkan kenangan runyam pada
malam purnama menjelang. Katanya, tak suka daging panggang, baunya yang
mengundang dan meranggas selera, serasa membuatku selalu ingin berlarian
di padang rumput ilalang sepi. Sebaiknya kita menepi saja, disini sudah
terasa lapang, segera lepas seleramu, jangan sampai aku memendam makian
yang tak berkesudahan.
Jumat, 13 September 2013
Horor Terik Pagi
Masih kuingat masa itu,masa kecil saat bermain naik-loncatan di bibir perahu pasir,yang bergerak perlahan, didayung-pundak sebilah bambu ditepi kali Brantas ini, tapi media menyebutnya kali Mas, Karena, konon dulu airnya keruh berwarna kuning-mentah, sekarang tatkala kisah ini mengalir dalam guratan nadi
rasaku, airnya bening kehijauan. Pertanda, kwalitas air Brantas
mulai sehat.
Pagi yang melahirkan angin semilir, disela hanyutan onggokan
sampah softex, buntalan bulu-ayam dan kemasan
plastik, membuatku miris-gelisah. Kenapa dibuang ke sungai, menjadikan sesak
nafas para ikan-penghuni air dan merusak pemandangan. Angin pagi dibulan
sembilan menggoyang-anggukkan daun
pisang yang tumbuh ditepiannya, membuat sekelompok ikan cucut mengambang
dipermukaan pinggir, air kali yang mengalir tenang, saling bermesraan, meng-kencani betinanya bergantian, tanpa
perseteruan.
Pohon ketepeng yang tumbuh liar, daunnya menjuntai ke permukaan kali, membuat
keteduhan asri, hingga sekelompok ikan cucut sesapu lidi itu kerasan berada
dalam naungan-teduhnya. Di sebelah sana, terdapat seonggok gulma-enceng gondok
berdaun lebat, akarnya yang lembut tampak membayang dipermukaan, tempat para
ikan dan siput air menitipkan telurnya. Terlihat seekor anak biawak melompat
lompat, berayun didedaunan itu, mencoba meraih seekor capung yang hinggap,
untuk melepas rasa laparnya di pagi itu. Perahu tambang, dengan juru mudi
bercaping, dengan pakaian lorek-Madura, bergerak mengendalikan perahu, tubuhnya
yang ringkih, berlenggak-lenggok lembut-menetegang, mengantarkan para
penyeberang ber-sepeda motor, pejalan kaki atau buruh pabrik berseragam,
berangkat kerja, yang siap memacu produksi demi kemajuan perusahaan para
tuannya. Lengannya yang berotot, lembut-kuat, menari-nari merambati 2 tambang
sejajar, sebagai tambatan perahu itu, yang hanyut-mengalir. Hanya dengan 10 sen
dollar atau seribu rupiah, kali itu sudah terseberangi, katanya daripada jalan
memutar panjang menyita waktu. Pangkalan perahu itu terbuat dari jalinan bambu,
yang dipatok mengitari dermaga mini terbuat dari papan.
Dulu 1293, konon delapan perahu Jung-Mongol, mengaliri
sungai ini menuju Kediri, untuk melakukan hukuman pada Kertanegara. Sekarang
tiada lagi perahu yang mengaliri kali ini, walaupun untuk mengeruk
pasir-dasarnya, katanya dasar kali ini sudah dipenuhi dengan endut atau ekstrak
sampah limbah kertas, hilang sudah kenangan indah masa kecilku, 1970-an.
Beberapa bulan yang lalu, ikan kali pada mabuk,
menggelepar-gelepar menanti ajal. Walaupun telah membuat penduduk tepian kali
bersoak karena rejeki dadakan, dengan berrkintal tangkapan, tapi tetap saja
bibit-anak ikan pada mati sia-sia, memupuskan harapan hidupnya dan musnah tak
bersisa, seperti ikan sili, papar, bulus, areng-areng dan kijing.
Kali ini harus diberdayakan dengan menjadikannya tempat
wisata air dan studi biota air tawar, jika ingin tampak mengalir, bening
bersih, asri dan sehat.
(Kali Brantas-Kebraon, Surabaya 10 September 2013)
Minggu, 08 September 2013
Misteri Jelang Maghrib
Saat rona masih menyala menerangi ujung langit barat, jelang
sore, aku meradang. Diatas, langit biru muda menangkup senja disaput tipis awan
stratocomuls , yang berlapis lapis seputih kapas. Kukayuh sepeda mungilku menuju persawahan. Binar hatiku, tatkala mendengar derai canda ceria sekelompok
remaja, diatas sepeda motornya, berderet deret menghiasai jalanan. Para gadis remaja memeluk sore,
menanti tutup matahari,
Tertawa bangga, memamerkan pahatan tattoo gaya
India di
lengannya. Di tepi jalan persawahan menuju makam itu, aku rehat. Tepekur takzim mendengar suara alam, menikmati hawa sejuk
menyegarkan. Angin lembut menggoyang dedaunan mangga, dirinai kicauan
gelisah sekawanan burung gereja yang bersiap menutup harinya untuk berangkat
tidur. Sesekali terdengar kotekan suara percil, si anak kodok
bersaut-sautan disela sela singkapan tanah persawahan yang selepas bajak, berbaris
seperti gumpalan roti. Airnya yang menggenang, membuat suasana persawahan terasa
dingin-tenang. Di-ujung sana,
ditepi pematang, terlihat bendera plastik hitam putih -partai petani- berkibar menancapkan kegagahannya,
menjaga para petani yang bekerja keras berjuang menumbuhkan harapannya. Sementara itu, suara salawat pujian pada rosul dari menara
masjid berkumandang lembut, menyambut kematian siang. Seorang petani dengan tabung semprotan pupuk dipunggungnya,
belum mengakhiri kewajibannya, berusaha terus menjagahamparan bibit padi bak beledu menghijau itu, untuk tumbuh
subur. Sore kian remang, burung Dedali gelisah terbang
kesana-kemari, sesekali menjeritkan isyarat untuk segera istirah mengakhiri
kehidupan siangnya. Kelelawar saling berkejaran, mencicit, memulai kehidupannya
dengan mengejar betinanya, menagih janji untuk bercinta. Sepi-sore, awal senja yang tenang dan sejuk itu, membuat dadaku terasa lapang. Dan saat terdengar suara adzan berkumandang, aku pulang
dengan hawa sejuk merasuk dada, untuk hadir menyerahkan diri-kalah di altar
persembahan iman. Rama ramapun sibuk menjalankan takdir keluar malamnya. Disaksikan bulan sabit coklat, mengangkasa, menggaris tipis
bak alis perawan dengan hiasan setitik bintang sore, bertengger manja
disampingnya. Sesaat akan meninggalkan persawahan itu, masih sempat
kutoleh beberapa petak-menikar, hambaran gabah tertabur diatas lumpur
persemaian, penuh pengharapan. Terima kasih Pak Tani, semoga panen kali ini membawa
keberhasilan, keberuntungan dan kesetiaan pada tanah lumpur persawahan yang
konon, kian hari kian susut luasnya.
(Sawah Bogangin, Surabaya-8 September 2013)
Kamis, 05 September 2013
Spiritualisme Subuh
Romantisme Lepas Subuh
Suara tapak langkah teriring adzan subuh.
Kusebut asma Allah menggugah keridhoannya.
Gusti, aku tidak sholat pagi ini.
Maafkan aku, bila tak berjamaah menyebutMu.
Tergerak berdingin-sepi di pagi buta ini.
Aku ingin menanti matahari.
Aku bosan dikamar sepi.
Aku berjalan mencari arti pagi-subuh membuta.
Tekeq, si burung malam itu mencicit, merintihkan suaranya,
seakan menyampaikan pesan misteri kehidupan.
Tepian waduk itu bergeragal, terasa menajam dikulit, nyeri.
Tapi oleh dinginnya subuh yang menyayat, nyeri itu
terlupakan.
Sesampai di rumah-gubuk beratap ijuk, kurebahkan rehat tubuh
penatku,
diatas balai balai bambu, yang kusam oleh waktu.
Sareh. Tenang. Sepi suara. Di sela sela dingin udara
mengembun yang mengulit,
sesekali terdengar celoteh-merdu burung Kutilang menyambut
pagi di ujung sana.
Sementara, subuh-pagi masih terkilau oleh cahaya lampu
perumahan, yang-
bayangannya tertangkap temaram permukaan air waduk,
membentuk pilar lembut berjajar, seperti tonggak tonggak asmara-merana.
Diatas kepala, rasi Orion yang perkasa, menggantung lembut,
dihiasai tebaran tipis mega, ditaburi gemintang yang berkedip silih berganti
memancarkan keindahan sihir-magisnya.
Sepi-mencekam ini begitu indah dan tenang, setenang hamparan
muka air waduk yang meng-kaca didepan mata.
Kawan, bukankah sesungguhnya kita-pribadi ini sendirian,
sementara anak adalah buah cinta, titipan Tuhan dan isteri
adalah sisihan.
Beruntung kehampaan pagi-mati ini tak berlarut.
Tak lama kemudian, diufuk timur diatas genting dan pepohonan
tampak merambat nyala binar cahya mentari pagi memerah, menapaki takdirnya yang
ghoib.
Disambut gelisah puluhan kelelawar yang menghabiskan jatah
waktu gugahnya dengan berlalu-lalang terbang menyisir muka waduk, yang sesekali
memainkan paruhnya menyambar permukaan air membentuk gelobmang kecil -nan
lembut.
Saat langit timur merah-putih saga, merambat menantang,
akupun pulang.
Diiringi capung yang berseliweran disela-sela langkah kaki,
bak pesawat terbang mini yang ringan dan menggemaskan.
Celoteh-ribut burung Kutilang-pun bersahut-sahutan
riuh-merdu, menaburkan keceriaan..
Selamat datang matahari, selamat tinggal alam subuh yang
sepi.
Dan kerutinan hidup-kerja-pun kembali menjelang.
(Waduk Kedurus-Surabaya, 6 Sepetmeber 2013)
Langganan:
Postingan (Atom)





