Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2022

Apa Itu Astabrata ?

 


Astabrata (8 Watak Kepemimpinan) yang harus dimiliki raja raja Jawa saat memimpin di nusantara. Astabrata merupakan nasehat Sri Rama pada Arya Wibisana (adik Rahwana) yang akan menjadi raja di Alengka untuk menggantikan kakaknya itu.

1. Watak Dewa Indra (Dewa Hujan). Seorang pemimpin hendaknya senang memberikan anugerah pada rakyatnya yang baik dan berjasa. Kebijakan yang dibuat harus mampu memberikan kesuburan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

2. Watak Dewa Yama (Dewa Kematian). Seorang pemimpin harus berani menghukum siapa yang bersalah menurut hukum dan perundangan yang berlaku secara adil.

3. Watak Dewa Surya (Dewa Matahari). Seorang pemimpin harus bisa melakukan redistribusi pendapatan bagi rakyatnya. Menarik pajak bagi yang mampu dan menggunakan untuk kepentingan umum.

4. Watak Dewa Soma (Dewa Bulan). Seorang raja harus memberikan belas kasih kepada seluruh rakyat, sehingga rakyat bisa bahagia.

5. Watak Dewa Bayu (Dewa Angin). Seorang raja harus dapat menyentuh seluruh perikehidupan rakyat, tanpa pandang bulu, dan setiap kebijakannya bisa menyentuh aspirasi rakyat. Rakyat bisa merasakan hidup penuh kekeluargaan, rukun guyub, saling memberi saling menerima. Sesuai dengan watak angin yang selalu bertiup ke sana ke mari memberikan kesejukan, dorongan, dan arah menuju manusia yang sesungguhnya. Seorang raja harus menghayati filsafat angin dan diterapkan dalam kebijakannya.

6. Watak Dewa Kuwera (Dewa Kekayaan/Dewa Bumi). Sebagai mana bumi yang memiliki segala sumber daya dan kekayaan, seorang raja harus menjadi sumber kekayaan baik materi maupun spirit untuk membuat rakyatnya sejahtera. Bumi itu belas kasih, ikhlas, rela berkorban dan bersedia menjadi tumpuan siapa saja. Walaupan selalu diinjak, dicangkul, tapi bumi selalu memberikan yang terbaik.

7. Watak Dewa Waruna (Dewa Laut). Seorang raja hendaknya mempunyai kedalaman dan keluasan wawasan sebagaimana lautan atau samudra, sehingga dapat menyelesaikan permasalahan rakyatnya, tangguh menghadapi karang persoalan kehidupan, dan menjadi sarana pelayaran bangsanya menuju kejayaan.

8. Watak Dewa Agni (Dewa Api). Seorang raja harus mempu memberikan semangat atau motivasi pada rakyatya untuk berbuat kebajikan bersama. Dan seorang raja harus bisa membasmi kejahatan sebagaimana api membakar kayu bakar bahkan harus mampu menyucikan peradaban yang rusak.

Sumber : Epochtimesindonesiadotcom

Minggu, 19 Juni 2022

KIdung Uler Kambang

Tirto tirto wijiling angkoso
(Air menetes dari langit)

Sayuk rukun rukun karo kacane

(Harus rukun pada teman)

Jo lali lo mas kowe gotong royong nyambut gawe
(Jangan lupa, sampeyan gotong royong dalam bekerja)

Romo nyenyuwuno mrih kasembadaning sedyo
(Ayah meminta pada kemampuan diri ber-swasembada)

Kinclong alah alah kinclong

(Bersinarlah Bersinarlah)

Kinclong guwayane Mubyar murup mencorong katon tejane
(Bersinarlah pancaran wajah menyala  terang)

Gones yo romo ramane dewe
(Percaya pada ayah sendiri)

Kawi limo putrane dahyang durno

(Pandito Durno beranak lima)

Poncosilo dasaring nagri utomo
(Pancasila dasar utama Negara)

Ala ora pati ayu nanging nggregetake
(Walaupun tidak terlalu cantik tapi menyakitkan)

Yo la yo mas yo la yo mas

(Baiklah Kak, baiklah)

Man eman man eman romo
(Aduh sayang, Bapak)

Lir puspito wernaning kusumeng puro
(Untaian bunga menghiasi keindahan kota)

Brambang mas sak sen limo berjuang labuh negoro
(Bawang merah, lima satu sen, berjuanglah demi  negara)

Brambang mas sak sen telu berjuang dimen bersatu
(Bawang merah, tiga satu sen, berjuang harus bersatu)

                                                             Yo la yo mas                                                            
(Baiklahk Kak)

Ora butuh godhong kayu butuhku tentrem rahayu
(Tidak butuh daun kayu, butuhku selamat dan tenteram)

Ora butuh mas kae kae butuhku tentrem atine

(Tidak butuh emas, butuhku hati yang tenteram)

 

Syair Kidung : Uler Kambang

Karangan : Ki Narto Sabdo

 


Minggu, 05 Juni 2022

Apa Itu Punden?

Punden adalah lokasi situs yang bisa berupa bangunan atau makam, sebagai tempat untuk mencari kekuatan spiritual. Punden makam biasanya dikaitkan dengan sosok cikal bakal pendiri/babat alas atau pembuka wilayah jaman dulu.

Berikut, 4 punden yang berada di wilayah Kecamatan Karangpilang - Surabaya.

1. Situs Punden Makam Kembar Mbah Jemuwah –Lokasi Makam  Kebraon Gg. Tegal, Karangpilang - Surabaya.   

Ia lupa, sudah berapakali ziarah ke makam kembar. Barangkali itu bisa dikatakan bukan ziarah lagi, karena makam kembar sudah dianggap sebagai makam tempat bermenung diri, saat ia mendapatkan dirinya lagi suntuk dan bosan dengan rutinitas. Iapun sepenuhnya sadar, bahwa  makam tak mampu mengabulkan do’anya karena kematian adalah tidur panjang yang bisu. Hanya karena Ia begitu menghormati arwah leluhur, maka disempatkan juga untuk berziarah beberapa menit sambil mengenang peristiwa kematian yang cepat atau lambat pasti datang kepadanya. Suasana makam itu begitu sejuk dan damai. Di sekeliling makam terdapat banyak pohon besar dan rindang. Apalagi ditambahi dengan suara kicau burung kutilang dan prenjak disaat saat hening, membuat jiwanya tenteram dan merasa damai. Di makam kembar itu, orang biasa menebarkan bunga kembang setaman dan ubo rampe sesajian, sehingga kadang harumnya tercium karena terbawa angin. Kadang sebelum pulang, ia menyempatkan diri mengambil sekuntum bunga kenanga dari sesajen itu untuk diselipkan di daun telinganya. Dulu, ia sering tiduran di samping makam sambil melihat tingkah burung yang berkejaran di ranting pohon, tetapi setelah seekor ular menubruk  pahanya, maka tiduran itu tidak dilakukan lagi.

2. Situs Punden Mbah Ireng – Lokasi samping Makam Islam Kebraon, Jl. Kebraon II- Karangpilang - Surabaya.

Saat itu ia merasa aneh karena ada rumah cungkup kecil di tepi kuburan. Suasana yang sepi membuatnya terusik ingin masuk kedalam cungkup. Pelan pelan ia membuka pintu, lalu ia masuk perlahan dan terkejut karena tempat itu dipakai sebagai tempat ritual penghormatan arwah leluhur. Itu bisa dilihat dari bangunan kalangan yang berbentuk empat bujur sangkar, kira kira 1x1 meter panjang sisinya. Didalamya terdapat alas kain putih untuk menampung kembang setaman dan ubo rampe sesajen. Sesaat kemudian ia melakukan semedi ingin mersakan aura mistis tempat itu. Tiba tiba ia mendengar suara burung merpati yang ternyata berada diatas dahan.  Merpati itu memiliki pagupon dicabang pepohonan beberapa meter dari cungkup. Suasana yang rimbun dibelakang cungkup rupanya menarik perhatian banyak burung liar, diantaranya prenjak dan perkutut. Suasana yang tenang dan adem, sungguh cocok untuk tempat ber-semedi atau tirakat malam hari. Di tiang cungkup terdapat santi aji  yang bertuliskan. “Rendah dimata manusia, tinggi di mata Tuhan” “Jangan mengukur bajumu di badan orang lain” dan  “Jer basuki mowo beyo”

3. Situs Punden Makam Nyai Suci. Lokasi di area Makam Bogangin, Jl. Raya Mastrip – Kedurus-Karangpilang. Surabaya

Makam diteduhi cungkup minimalis yang cukup bersih dan asri hingga  membuatnya rela untuk tiduran disamping makam. Tak jarang Ia meraih sapu ijuk yang tersedia, untuk membersihkan sisa dupa dan daun kering yang terserak terbawa angin hingga masuk ke dalam cungkup. Kain putih yang menyelimuti makam membawa oroma mistis dan suci. Pas didepan makam  berkibar bendera merah putih, mungkinkah  Nyai Suci dulunya bekas pejuang? Di tubuh bangunan makam  terdapat ceruk untuk menebar bunga setaman. Di atas makam tersedia bacaan ayat suci Qur’an/ kitab tahlil, yang bisa digunakan untuk mengirim do’a. Didalam ruangan cungkup bisa dipakai untuk duduk santai atau tiduran. Bila bernasib mujur, maka akan bertemu banyak burung kutilang, prenjak, pipit dan perkutut yang hinggap di pohon sekitar makam dengan menyuarkan kicauannya yang khas.

4. Situs Punden Makam Mbah Kethu. Lokasi di area Makam Bogangin, Jl. Raya Mastrip – Kedurus – Karangpilang – Surabaya.

Entah mengapa disebut Mbah Kethu. Mungkin karena terdapat kethu/songkok dan tasbih besar yang bertengger di rangka bangunan makam. Bangunan makam terbilang besar mirip menhir dengan lubang memanjang yang berfungsi untuk menebar sesajen atau kembang setaman. Suasananya yang adem dan sejuk karena semilir angin membuat makam ini kadang dibuat tiduran oleh para peziarah. Ketika ia bersemedi disisi makam, ia tiba tiba tersentak terkejut karena terdengar bunyi ranting pohon yang jatuh menimpa atap seng atau bunyi buah ketepeng yang jatuh karena tiupan angin. Taka da tanda tahun wafat bagi Mbah Kethu yang biasa terbaca pada nisan sebuah makam. Makam ini tepat dibawah pohon besar yang entah apa namanya serta pohon ketepeng yang berdiri tak jauh dari makam, sehingga makam akan menerima limpahan sampah daun dan debu, bila tak sering sering disapu, maka makam ini akan nampak kotor.

Sabtu, 16 April 2022

Makna Sluku Sluku Bathok

Makna tembang dolanan Sluku Sluku Bathok karangan Sunan Kalijaga.

Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo (sluku-sluku bathok, bathoknya geleng-geleng).Berasal dari kata ‘Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah’ (masuk masuklah bathinmu, bathinmu kepada Tuhan).

Sirama menyang sala (bapak pergi ke sala). Berasal dari kata ‘Sharimi Yasluka’ (petik dan ambillah satu jalan masuk).

Oleh-olehe payung mutha (oleh-olehnya payung mutha)Berasal dari kata ‘Laailaha illaallah hayun wal mauta’ (meng-Esakan Allah dari hidup sampai maut).

Mak jenthit lolobahBerasal dari kata ‘mandzalik muqarabah’ (maka siapa yang dekat pada Allah).

Wong mati ora obah (jasad yang sudah meninggal tidak dapat bergerak). Berasal dari kata ‘hayun wal mauta innalillah’ (dari hidup hingga mati adalah milik Allah).

Yen obah medeni bocah (kalau dia bergerak akan membuat takut anak-anak). Berasal dari kata ‘mahabbatan mahrajuhu taubah’ (kecintaan yang menuju pada taubat).

Yen urip goleka dhuwit (tapi kalau dia masih hidup, cari uanglah). Berasal dari kata 'yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq' (sesungguhnya manusia diciptakan dari air yang memancar). 

Sumber : krjogjadotcom

Kamis, 10 Februari 2022

Makna HONOCOROKO

Makna dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka, yang mengandung ajaran Tauhid…

01. Hananira Sejatine Wahananing Hyang,

      Asalmu karena kehendak Allah


02. 
Nadyan ora kasat-kasat pasti ana,

      Walaupun tidak nampak tetapi ada


03. 
Careming Hyang yekti tan ceta wineca,
      Allah yang Kuasa tidak bisa ditebak (dinyatakan),

 

04. Rasakena rakete lan angganira,
      Rasakan dalam tubuhmu

 

05. Kawruhana ywa kongsi kurang weweka,
      Ketahui sampai kurang waspada

 

06. Dadi sasar yen sira nora waspada,
      Jadi salah kalau kurang waspada

 

07. Tamatna prahaning Hyang sung sasmita,
      Nyatakan Allah memberi petunjuk

 

08. Sasmitane kang kongsi bisa karasa,
      Petunjuk sampai bisa merasakan

 

09. Waspadakna wewadi kang sira gawa
      Waspadalah rahasia yang kau bawa

 

10. Lalekna yen sira tumekeng lalis (sekarat),
      Lupakan sampai sekaratil maut (menjelang ajal/koma),

 

11. Pati sasar tan wun manggya papa,
      Mati yang salah menjadi susah

 

12. Dasar beda lan kang wus kalis ing goda;
      Dan beda bagi yang tidak tergoda

 

13. Jangkane mung jenak jenjeming jiwarja,
      Tujuannya hanya tentram jiwanya

 

14. Yitnanana liyep luyuting pralaya (angracuta yen pinuju sekarat ),
      At’tauhid atau khusyuk waktu sekaratil maut,

 

15. Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan,
     Ternyata sepi (hilang) sifat dunia,

 

16. Madyeng ngalam paruntunan (?) aywa samar,
      Dalam alam barzah ternyata samar (gaib),

 

17. Gayuhane tanalijan (tan ana lijan) mung sarwa arga,
      Tujuan tidak lain hanya satu

 

18. Bali Murba Misesa ing njero-njaba
      Pulang menguasai Lahir Batin (Esa),

 

19. Tukulane wida darja tebah nista,
      Tumbuhnya benih menjauhkan aniaya

 

20. Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.

      Hati-hati manuju jalan kedunia.

 

Sumber : Buku Wedaran Wirid I,

karangan Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono.

Surabaja : Djojobojo, 1962-64


Minggu, 07 April 2013

Manusia Jawa?



Apa itu Manusia Jawa?
Adalah sebuah masyarakat yang memiliki filsafat hidup yang berpusat pada konsep harmoni. Konsep hidup bermasyarakat ini memiliki 2 landasan pokok yaitu,
Pertama, menghindari konflik dan menjaga sifat hidup rukun seperti tercantum dalam peribahasa rukun agawe santoso crah agawe bubrah artinya “kerukunan akan menjadi kuat, perselisihan hanya akan mendatangkan kehancuran”.
Kedua, sikap hidup ini harus dilandasi dengan siksp saling menghormati yang bertujuan pada terciptanya keselarasan hidup. Prinsip hidup manusia Jawa juga diungkapkan dalm ungkapan tata titi tentrem karta raharja yang berarti “tertata, cermat, tenteram dan sejahtera”. Dan untuk mengontrol nilai itu manusia Jawa memiliki beberapa norma sosial yang merupakan kendali perilakunya dalam hidup bermasyarakat, yaitu rukun, tepa-slira, jujur, andhap asor, aja dumeh, tulung-tinulung, wani ngalah, wani wedi, wani isen, kepotangan budi dll.

Manusia Jawa juga mengakui adanya kekuatan yang Maha Tinggi.  Terhadap kekuatan ini manusia berada pada posisi yang lemah dan tak memiliki kekuatan apapun seperti dalam ungkapan ora ono daya pikuwat saka manungsa kajaba among saking pitulunganing Gusti Allah artinya “tiada daya dan kekuatan apapun dari manusia kecuali hanya dengan bantuan Allah”

Manusia Jawa memiliki kepercayaan bahwa “hidup itu ada yang menghidupkan”. Oleh sebab itu segala kejadian yang dialami manusia merupakan kehendak Tuhan. Pandangan ini memberikan kekuatan dan semangat hidup manusia Jawa bahwa segala perbutan  dunia ini diupayakan sebagai sarana manecapai ridho Tuhan yang membutuhkan kebaikan hidup ketika didunia (utama) dan meninggalkan perbuatan buruk atau (nistha) sehingga dapat mencapai derajat manusa utama (manungsa utama). Kehendak yang kuat ini bertujuan untuk mencapai manunggaling manungsa kelawan gusti atau “bersatunga antara manusia dengan Tuhan” yang secara simbolis harus dipahami sebagai kembalinya manusia pada asalnya. Dalam hal ini manusia Jawa melambangkan kesatuan itu sebagai warangka (sarung keris) dengan curiga (mata keris).
 
Manusia Jawa percaya pada takdir Allah, pasrah ing ngarsa gusti atau pasrah pada kehendak Tuhan. Segala sesuatu yang menimpa dirinya selalu dikembalikan dan dilandasi pada adanya kemurahan Tuhan sesuai dengan ungkapan nrimo ing pandum, artinya segala rejeki yang diterimanya dipercaya merupakan kehendak Tuhan.

Manusia Jawa meyakini bahwa hidup itu hanya sebentar dan harus dilanjutkan untuk menjalani perjalanan panjang untuk menuju Tuhan Yang Maha Pencipta, sesuai ungkapan urip iku mung saderma mampir ngombe artinya “hidup itu hanyalah sekedar mampir untuk minum”. Oleh karena itu hidup adalah kesempatan untuk mencari bekal sebanyak banyaknya, bukan bekal harta melainkan bekal kebajikan dan amal perbuatan luhur.

Manusia Jawa memiliki sifat pasrah dan sumarah, dalam artian manusia sekedar berusaha sedangkan Tuhanlah yang menentukan sesuai dengan ungkapan beja cilaka dipesti pangeran atau “kebahagiaan dan penderitaan manusia ditentukan oleh Tuhan”

Manusia Jawa memiliki kebiasaan laku prihatin, yaitu pengekangan hawa nafsu yang diungkapkan dengan cegah dahar kelawan guling atau “mengurangi makan dan tidur” Bila ini dilaksanakan, maka akan diperoleh kebersihan lahir batin yang dilandasi oleh sikap eling lan waspada (selalu ingat dan waspada kepada Tuhan) terhadap keburukan yang datang dan godaan nafsu. Beberapa laku lain yang biasa dilakukan oleh manusia Jawa adalah semedhi, tirakat, tingkeban, brokohan, sepasaran, selapanan dan tedhak siten.
(Sumber : Ismail Yahya MA Dkk, 2009-3)

Ritual Adat Kejawen?



Apa itu ritual adat kejawen?
Adalah prosesi upacara kegiatan budaya lokal Jawa yang dikreasi untuk memperingati hari atau peristiwa penting yang berhubungan dengan keagamaan. Ritual ini dilakukan untuk mengakomodir budaya lokal agar kearifan lokal tidak hilang dan masih dapat diruntut jejak asal muasalnya. Ritual ini digagas oleh para walisanga, yaitu para penyebar agama Isl;am di pulau Jawa yang amat toleran pada budaya lokal sebelum kedatangan Islam, yaitu budaya animisme dinamisme Hindu dan Budha. Para wali tidak menghilangkan budaya yang sudah mengakar dan sudah ada tetapi mereka cukup mengubah substansinya.

Bersama ini kami sajikan beberapa ritual adat masyarakat Jawa yang masih kental pengaruh kebudayaan kerajaan Jawa Islam di lingkungan keraton Surakarta dan Jogjakarta.

1. RitualKirab pusaka keraton, yaitu arak arakan mengusung pusaka keraton (tombak, keris dll) meneglilingi keraton Surakarta pada tanggal 1 Sura/ Muharram. Ritual ini berasal dari ritual hajat dalem wilujengan nagari atau ritual untuk keselamatan negara yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit. Upacara ritual kirab pusaka memiliki sifat religius magis, paercaya pada hal hal yang bersifat magis, keramat, sacral dalam pengertian memiliki 4 hal pokok yaitu arwah leluhur, pepunden, pusaka pusaka keraton dan mahluk ghaib.

2. Ritual Yaqawiyyu, yaitu ritual memperingati hari meninggalnya / haul Ki Ageng Gribik, yang adalah penyebar agam Islam di wilayah Klaten yang dilakukan tiap bulan Sapar/Saffar. Upacara ini berupa rebutan gunungan kue apem, yang dulunya diberikan oleh Ki Ageng Gribik dalam mengatasi bahaya kelaparan di wilayah Jatinom, Kalten. Dengan demikian maka masyarakat di wilayh ini dapat meneladani kesederhanaan, kemuliaan budi pekerti dan keteladanan hidup yang diberikan oleh Ki Ageng Gribik atau Sunan Geseng..

3. Ritual Sekaten, yaitu upacara riual memperingAti maulId atau kelahiran Rasul Allah Muhammad SAW yang dilaksanakan oleh keraton Surakarta maupun Jogjakarta setiap tanggal 5 – 12 bulan Mulud / Rabiul Awal.
Terdapat 4 makna Sekaten, yaitu :

a. Merupakan ungkapan rasa kecintaan pada Nabi Muhammad dalam bingkai budaya Jawa. Sekaten berasal kata syahadatain atau kalimat syahadat (asyhaduallah illahaillah wa asyhaduanna Muhammadarasulullah) yang artinya Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan Sealin Allah dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad adalah Rasul Allah..

b. Startegi dakwah. Dahulu ketika musik gamelan dibunyikan di dalam masjid, maka orang yang datang ingin mendengarkan diminta untuk mengucapkan kalimat syahadat terlebih dulu.

c. Ucapan rasa syukur atas limpahan rahmat dan kesejahteraan Allah pada Raja dan rakyatnya yang ditandai dengan ritual simbolik uapacara pemeberian Raja yang berupa gunungan hasil bumi yang diperebutkan.
d. Buah buahan dan sayuran merupakan smbol rakayat Jawa yang agragis.

4. Ritual Grebeg, yaitu ritual selamatan beriringan mengikuti gunungan tumpeng besar berupa hasil bumi yang diarak. Gunungan tumpeng diarak ke masjid yang diikuti oleh penghulu keraton, ulama dan rakyat. Terdapat 3 grebeg yang dilakukan oleh keraton Surakarta dan Jogjakarta, yaitu :
  1. Grebeg Mulud, untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad yang diadakan tiapa bulan Mulud/ Rabiul Awal.
  2. Grebeg Sawal, untuk memperingati datangnya Hari Raya Idul Fitri diadakan tiap bulan Sawal.
  3. Grebeg Besar, untuk memperingati Hari Raya Idul Adha/ Hari Raya Qurban yang diadakan tiap bulan Besar/Dzulhijah

5. Ritual Peksi Buraq, yaitu upacara memperingati peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad SAW yang dilakukan oleh keraton Jogjakarta setiap bulan Rajab.  Dalam ritual ini digambarkan burag dengan simbol 2 ekor burung jantab dan betina yang bertengger di taman sorga. Buraq adalah kendaraan rasul pada saat Isra' Mi’raj yaitu Isra’ yang merupakan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, Palestina dan Mi'raj yaitu perjalanan dari Masjidil Aqsa ke sidratul muntaha (langit ke-7) untuk memenuhi panggilan Allah..

6. RitualSadranan, yaitu upacara pemberian sesaji untuk menghormati arwah leluhur yang diadakan pada setiap tanggal 17 – 24 bulan Ruwah/Sya;ban. Biasanya ritual ini dilakukan dengan membersihkan kuburan leluhur yang telah meninggal, acara munjung atau berkunjung ke sanak famili dan ditutup dengan acara kenduri.
(Sumber : Ismail Yahya Ma. Dkk, 2009)




                

Apa Itu Kejawen?



Apa itu Kejawen ?
Kejawen adalah pandangan hidup orang Jawa, yang menekankan pada ketentraman batin, keselarasan, keseimbangan, sikap menerima terhadap semua peristiwa yang terjadi, sambil menempatkan individu dibawah masyarakat dan alam semesta.

Apa isi Kejawen?
Isi dari Kejawen adalah nilai nilai, etika dan spiritualitas yang terinspirasi dari tradisi Jawa. Masyarakat secara turun temurun mewarisi kekayaan, pengetahuan dan kebudayaan Kejawen ini.
Secara umum masayarakat Jawa diajarkan untuk menjalani hidup dengan mengikuti :
1. Tata urip atau tata hidup yang bermakna dalam kehidupannya, seseorang harus merencanakannya dengan baik agar tercapai apa yang dicita-citakannya.
2. Tata krama yang bermakna seseorang harus memiliki perilaku sopan santun dan unggah ungguh dalam hidup bermasyarakat.
3. Tata laku yang bermakna dalam setiap langkah kehidupannya seseorang harus memperhitungkannya dengan cermat.
Untuk memperoleh hidup yang bahagia dunia akhirat dengan jalan Kejawen, maka seseorang harus mampu memahami jagad gede (alam semesta) dan jagad cilik (diri pribadi). Setelah mampu memahami kedua jagad itu, maka harus mampu pula untuk menyatukannya agar diperoleh  keselarasan hidup. Konsep filosofi ini diwujudkan dalam 5 hal, yaitu :

1. Manunggaling kawula kalawan Gusti (bersatunya manusia dengan Sang Pencipta), yang diwujudkan dalam bentuk melenyapkan egoisme dan ke-akuan sehingga akan tercapai dunia yang sesungguhnya. Berikut 4 jalan mistik atau laku batin yang harus dilalui : 

a. Panekung, artinya semedhi secara khusyuk dan tak tergoda oleh ap
b. Dyana, artinya tekad kuat lahir bathin yang untuk sampai kepada Tuhan. 
c. Sumarah / Sumeleh artinya tidak mengharap apapun kecuali haknya. 
d. Paramita artinya kehidupan lahir batin yang menuju kesempurnaan, yaitu sikap legawa (baik hati), susila (sopan), waspada, tepa slira (rendah hati) dan wicaksana (bijaksana)

2. Memayu hayuning bawana (penciptaan hidup dalam kedamaian di bumi), yang dilakukan untuk memberikan rasa tenteram, tidak tertekan, nyaman dan mengedepankan prinsip kemanusiaan (semua harus dihormati tanpa melihat status dan pangkat derajatnya)

3. Sepi ing pamrih rame ing gawe (giat bekerja bukan karena dilandasi besarnya imbalan)

4. Sangkan paraning dumadi (memahami darimana berasal, dimana ia hidup dan hendak kemana) 

5. Budi luhur (berakhlak mulia)

(Sumber : Ismail Yahya, MA dkk, 2009-18)

Jumat, 29 Juni 2012

Apa Itu Islam Kejawen (versi Budhiroso)?


Islam Kejawen (versi. Budhiroso) adalah ajaran budaya Jawa yang bernuansa ke-Islaman biasanya disertai dengan doa berbahasa campuran Arab dan Jawa. Pada umumnya ajaran ini meliputi 5 hal, yaitu :
  1. Ajaran tentang Tingkah laku / Lelakon
  2. Ajaran Ritual Kebathinan
  3. Ajaran tentang Ramalan/Astrologi
  4. Ajaran tentang Hidup Sehat
  5. Ajaran tentang Cara Menikmati Kesenangan Hidup

a. Ajaran Lelakon adalah segala tingkah laku yang diarahkan untuk menuju ketentraman bathin.
  1. Tirakat : melakukan perbuatan untuk membersihkan diri untuk mencapai ketenangan bathin.Contoh : Ojo turu sore sore atau menahan tidak tidur semalaman, tujuannya untuk mendapatkan petunjuk/wangsit dari Allah SWT
  1. Prihatin : melakukan suatu amalan untuk menahan godaan nafsu/penghematanContoh : Cegah dahar lan sare atau mengurangi makan dan tidur, tujuannya untuk penghemtan atau menangkal tindakan jahat dari seseorang (tenung, sihir dll)
  1. Puasa : melakukan suatu pantangan dalam hal asupan melalui mulut/indraContoh : puasa mutih (makan nasi saja), puasa pati geni (tidak melihat api)
  1. Samadhi : melakukan perenungan diri dengan sikap/posisi tubuh yang diatur sedemikian rupa sehingga peredaran darah menjadi lancar.Contoh : Samadhi di bawah pohon, gua, tepi kali, sanggar dll.

b. Ajaran Ritual Kebathinan
1. Larung sesaji/sesajen : membuat sesaji/hidangan yang dipersembahkan pada kekuatan alam.atau pada kekuatan Tuhan yang menguasai bidang tertentu.
Contoh : Sesaji pada saat akan tanam padi, upacara petik laut saat akan mencari ikan di laut
2. Wayangan : menyelenggarakan cerita pewayangan semalam suntuk
3. Ruwatan : ritual membuang sial pada anak anak, desa atau dusun.
4. Slametan : makan bersama atau membagikan makanan pada sanak sedulur atau tetangga/sahabat
5. Wadal : upacara pengorbanan hewan (tanam kepala binatang, sembelih ayam warna tertentu dll)
6. Kungkum : mandi di sungai pada bulan 1 suro atau tahun baru Islam, tujuannya untuk membersihkan diri.
7. Upacara mantenan : upacara yang mengiringi saat akan menjadi pengantin bagi wanita dan pria, misalkan : upacara siraman, midodareni, pangkon timbang dll
8. Tedak siti : upacara saat anak dilepas dari gendongan untuk bermain di tanah.
9. Mocopat : ritual pembacaan puisi puisi nasihat kehidupan

c. Ajaran Tentang Ramalan/astrologi
  1. Penentuan hari bak/buruk, bila akan bepergian atau melaksanakan hajatan
  2. Penentuan sifat anak dari weton (tanggal lahir)
  3. Tafsir mimpi
  4. Penentuan sifat seseorang saat akan mencari pasangan.
5.   Penafsiran pertanda alam/firasat : gerhana, kedatangan hewan liar
6.  Peruntungan dagang

d.. Ajaran tentang Hidup Sehat
1. Pantang makan makanan tertentu
2. Resep membuat jamu dari tanaman obat
3. Yoga atau olah tubuh dengan posisi tertentu/Samadhi/Obori
4. Pengucapan jampi jampi/ mantra/doa

e.Ajaran tentang Mencari Kesenangan Hidup
  1. Ilmu tenang senjata/keris
  2. Ilmu katuranggan atau memiliki binatang piaraan
  3. Ilmu pelet/memikat wanita
  4. Ilmu tentang (gairah) wanita
  5. Ilmu Khodam (bergaul dengan mahluk halus) 

Jumat, 25 Mei 2012

Apa Itu Pancasikep Kejawen?


Ki Ageng Salam  menerima wangsit langsung melalui pesan penampakan seorang leluhur dandiperintahkan untuk  menyebarkan paham
 PANCASIKEP KEJAWEN, yang berdasarkan wangsit itu, ternyata adalah :

1. Memayu Hayuning Bawono :
    Turut serta menjaga kelestarian alam, yaitu dengan cara menghijaukan planet bumi agar tidak rusak secara perlahan.

2. Manunggaling Kawula Lan Gusti
Suatu sikap perilaku tentang kemanunggalan antara atasan dengan bawahan atau majikan dengan buruh. 

3. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mbangun Karsa, Tutwuri Handayani
 Suatu sikap perilaku sopan santun kepemimpinan dalam organisasi/kelompok, yaitu

Ing Ngarso Sung Tulodho, maknanya: “ Bila menjadi atasan harus bisa menjadi panutan bagi bawahannya”

Ing Madya Mbangun Karsa, maknanya : “ Bila posisinya ditengah harus  mampu membangun  gagasan/ide”

Tutwuri Handayani, maknanya : “Bila  posisinya dibelakang, harus menjadi pengikut yang mamapu memberikan kekuatan"

4. Setya Tuhu  Lan Sadu
(Ilmu tentang bagaimana menjadi pegawai yang baik)
Setya artinya kesetiaan, maksudnya pegawai yang baik harus memiliki kesetiaan pada pekerjaan yang diembannya.

Tuhu  artinya kesungguhan, maksudnya pegawai yang baik harus bersungguh sungguh dalam menekuni pekerjaannya.
Sadu artinya kerendahan hati, maksudnya pegawai yang baik harus memiliki kerendahan hati dihadapan publik.

5. Tanggap Ing Sasmito
(Ilmu tentang kemampuan membaca rasa/perasaan)
artinya tahu diri lalu bereaksi peduli akan keadaan sekitar atau pesan didekatnya atau yang disampaikan. 


$$$

Kamis, 04 Agustus 2011

Apa Itu Barikan?

Barikan adalah makan bersama yang dilakukan ditempat terbuka, biasanya di halaman. Dalam acara Barikan, tumpeng dibagi dalam wadah daun pisang lalu makan bersama sama. Barikan bertujuan untuk merukunkan, mengakrabkan, membina perasaan bersatu/guyub dalam kelompok. Barikan bisa juga berfungsi untuk mendamaikan kelompok yang bertikai.
Berkumpul bersama sudah menjadi perilaku manusia. Ketika merasa bahwa sepi itu adalah neraka. Siapa yang butuh kesepian? Tak banyak orang yang butuh kesepian, kecuali bagi mereka yang sedang tafakkur dalam pencarian, baik mencari sepi untuk menemukan solusi atau mencari sepi untuk menghindari stress dan kejenuhan, karena keramaian dipandang sudah terlalu membisingkan. Kebersamaan bisa dilarutkan bersama sembari bernyanyi, makan-makan atau sekedar mengumbar obrolan. Berkumpul bersama sembari makan disebut barikan. Itu upacara sakral, Bung! Bisa dilakukan untuk merukunkan kabilah yang sedang bertikai atau mencari solusi untuk mengatasi masalah – juga merupakan tindakan rasa bersyukur sembari memperingati hari yang dihormati, atau hari hari penting. Dengan barikan semua individu akan larut dalam satu rasa, baik rasa dilidah oleh sajian masakan, hidangan itu atau rasa bersatu atas kehadirannya disitu. Sesibuk apa sih barikan itu? ya yentu akan menciptakan kesibukan. Ibu-ibu akan menyiapkan masakan untuk makan besar, para bapak akan meyiapkan alas-tikar untuk beratu dalam lingkaran memanjang, yang bisa saja memakan ruas jalan atau sebidang luasan di halaman. Do’a-pun dipanjatkan oleh sesepuh desa atau kelompok, lalu tudung makanan beraeka warna dibuka, dan mulailah menyantap hidangan itu dengan kidmat dan penuh selera. Setelah tandas habis, maka hajatpun terhelat sudah. Rasa guyub dan ayom-ayem akan melingkupi setiap peserta yang hadir. Selamat barikan-selamat makan-makan. Teruslah bersatu, tolaklah untuk diadu. Selamat!  
$$$