Senin, 09 Juli 2012

Apa itu Sakaratul Maut?

Bagaimana rasanya menjelang ajal atau sakaratul maut, saat di pembaringan? Saya akan coba gambarkan situasi itu buat anda. Ketika anda sehat, maka anda mampu menggerakkan seluruh anggota badan anda, sesuai dengan arah gerak sendi engsel tulang rangka. Anda bisa menggenggam sebuah HP dengan lembut, hingga HP itu tidak jatuh atau rusak. Disini syaraf motorik dan sensorik bekerja dengan baik, sesuai dengan keinginan anda. Lalu bagaimana jika anda sakit menjelang ajal? Anda tak mampu meraih sebuah HP apalagi menggenggamnya. Anda tak mampu menggerakkkan tangan anda. Apabila gerakan ini tak dapat anda lakukan, maka dapat dipastikan anda sedang mengalami kematian syaraf kesadaran, lalu menunggu datangnya sakaratul maut. Semua indera perasa anda tak berfungsi dengan baik. Anda tak mampu lagi merasakan manis atau pahit, pendengaran jadi lamur/berkurang daya tangkapnya, penglihatan jadi kabur. Nah, malam harinya ketika anda bangun dari tidur, anda akan merasakan dingin yang luar biasa, sehingga anda ingin diselimuti untuk mengusir dingin itu. Lalu dengan perlahan mata anda akan terpejam. Antara sadar dan tidak, tiba tiba akan terdengar suara sesuatu yang berdengung mirip suara lebah, mengitari anda. Itu pertanda datangnya utusan Allah, yaitu molekat Mikhail, malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk mencabut nyawa manusia. Suara itu berputar putar mendekat lalu menjauh, seakan memberi tahu kepada anda bahwa sesuatu mahluk akan datang dan mengajak anda untuk pergi. Nyawa anda akan dicabut lewat mana? Hidung atau ujung kuku ibu jari kaki (jempol). Sesuai aliran nafas, maka yang paling ringan sakitnya adalah dicabut dari perut lalu keluar melalui nafas di lubang hidung. Sakit tidaknya waktu nyawa keluar, tergantung kesiapan anda untuk rela mati atau tidak. Jika anda masih memberati hidup di dunia atau masih ingin hidup terus atau tidak rela mati, maka nyawa akan dicabut terbalik, yaitu dari ubun ubun tereus ke perut lalu keluar melalui ujung ibu jari kaki. Sakitnya luar biasa. Oleh karena itu, mungkin anda pernah mendapat cerita bahwa sebelum meninggal seseorang meludah ludah dan bergulingan di tempat tidur sambil terus merintih, itu dapat disebabkan karena si calon mati belum rela melepas kehidupan didunia. Setelah nyawa keluar dari badan, maka suara yang berdengung itu (mirip helicopter), terus berputar putar disekitar anda. Seakan mau menuntun anda untuk mengikutinya keluar dari alam fana/dunia. Biasanya selama 3 hari, anda masih menekuni tubuh anda. Anda ingin berbicara dengan sanak sedulur yang menangisi tubuh anda, tetapi suara tak bisa keluar. Ya anda sudah mati. Anda ingin memegang sesuatu, tapi tak bisa karena tanpa raga. Setelah dimakamkan, maka malaikat Mungkar Nakir segera datang, begitu para pelayat sudah membalikkan badan. Anda akan ditanya tentang segala sesuatu mengenai tindakan anda ketika hidup didunia. Bersikaplah setenang tenangnya, jawablah semua petanyaan dengan pelan dan mantap. Pertanyaannya sekitar “apakah pernah membaca kitab suci?”, “Apakah pernah mendapat bimbingan dari GURU? Dan “ Apakah segala perbuatan yang anda lakukan sudah menyebut nama Tuhan lebih dulu, bila risikonya berkaitan dengan nasib orang lain?”

Pada hari ke-4, maka anda akan dibangkitkan dari kubur, lalu diajak oleh suara itu (suara isyarat saja, tanpa memakai bahasa apapun) untuk bertemu dengan sanak sadulur yang sudah meninggal. Anda akan diarahkan menuju suatu pintu yang bersinar terang, itu pintu pelepasan namanya. Pintu untuk menuju alam barzah (alam penantian). Bila anda menolak untuk mengikuti suara penuntun itu, maka akan terdengar suara angin ribut yang menakutkan, maka mau tidak mau anda akan menuruti kemana suara itu menuntun. Setelah anda melewati pintu pelepasan, maka anda akan dipertemukan dengan sanak sadulur. Berkumpulnya  anda dengan sanak sadulur ini menandakan bahwa keberadaan anda sudah berada  di alam barzah (alam penantian). Semua amalan anda sudah terputus, kecuali bila anda memiliki keturunan yang baik, ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah (amalan yang bisa dinikmati orang banyak, misalkan bikin jembatan, sumur, tempat ibadah dll).

 (Pengetahuan tentang skaratul maut diatas didapat dari hasil terawangan dengan laku samadhi dan berdoa di makam -yang baru dikubur)

$$$

Jumat, 29 Juni 2012

Apa Itu Islam Kejawen (versi Budhiroso)?


Islam Kejawen (versi. Budhiroso) adalah ajaran budaya Jawa yang bernuansa ke-Islaman biasanya disertai dengan doa berbahasa campuran Arab dan Jawa. Pada umumnya ajaran ini meliputi 5 hal, yaitu :
  1. Ajaran tentang Tingkah laku / Lelakon
  2. Ajaran Ritual Kebathinan
  3. Ajaran tentang Ramalan/Astrologi
  4. Ajaran tentang Hidup Sehat
  5. Ajaran tentang Cara Menikmati Kesenangan Hidup

a. Ajaran Lelakon adalah segala tingkah laku yang diarahkan untuk menuju ketentraman bathin.
  1. Tirakat : melakukan perbuatan untuk membersihkan diri untuk mencapai ketenangan bathin.Contoh : Ojo turu sore sore atau menahan tidak tidur semalaman, tujuannya untuk mendapatkan petunjuk/wangsit dari Allah SWT
  1. Prihatin : melakukan suatu amalan untuk menahan godaan nafsu/penghematanContoh : Cegah dahar lan sare atau mengurangi makan dan tidur, tujuannya untuk penghemtan atau menangkal tindakan jahat dari seseorang (tenung, sihir dll)
  1. Puasa : melakukan suatu pantangan dalam hal asupan melalui mulut/indraContoh : puasa mutih (makan nasi saja), puasa pati geni (tidak melihat api)
  1. Samadhi : melakukan perenungan diri dengan sikap/posisi tubuh yang diatur sedemikian rupa sehingga peredaran darah menjadi lancar.Contoh : Samadhi di bawah pohon, gua, tepi kali, sanggar dll.

b. Ajaran Ritual Kebathinan
1. Larung sesaji/sesajen : membuat sesaji/hidangan yang dipersembahkan pada kekuatan alam.atau pada kekuatan Tuhan yang menguasai bidang tertentu.
Contoh : Sesaji pada saat akan tanam padi, upacara petik laut saat akan mencari ikan di laut
2. Wayangan : menyelenggarakan cerita pewayangan semalam suntuk
3. Ruwatan : ritual membuang sial pada anak anak, desa atau dusun.
4. Slametan : makan bersama atau membagikan makanan pada sanak sedulur atau tetangga/sahabat
5. Wadal : upacara pengorbanan hewan (tanam kepala binatang, sembelih ayam warna tertentu dll)
6. Kungkum : mandi di sungai pada bulan 1 suro atau tahun baru Islam, tujuannya untuk membersihkan diri.
7. Upacara mantenan : upacara yang mengiringi saat akan menjadi pengantin bagi wanita dan pria, misalkan : upacara siraman, midodareni, pangkon timbang dll
8. Tedak siti : upacara saat anak dilepas dari gendongan untuk bermain di tanah.
9. Mocopat : ritual pembacaan puisi puisi nasihat kehidupan

c. Ajaran Tentang Ramalan/astrologi
  1. Penentuan hari bak/buruk, bila akan bepergian atau melaksanakan hajatan
  2. Penentuan sifat anak dari weton (tanggal lahir)
  3. Tafsir mimpi
  4. Penentuan sifat seseorang saat akan mencari pasangan.
5.   Penafsiran pertanda alam/firasat : gerhana, kedatangan hewan liar
6.  Peruntungan dagang

d.. Ajaran tentang Hidup Sehat
1. Pantang makan makanan tertentu
2. Resep membuat jamu dari tanaman obat
3. Yoga atau olah tubuh dengan posisi tertentu/Samadhi/Obori
4. Pengucapan jampi jampi/ mantra/doa

e.Ajaran tentang Mencari Kesenangan Hidup
  1. Ilmu tenang senjata/keris
  2. Ilmu katuranggan atau memiliki binatang piaraan
  3. Ilmu pelet/memikat wanita
  4. Ilmu tentang (gairah) wanita
  5. Ilmu Khodam (bergaul dengan mahluk halus) 

Sabtu, 23 Juni 2012

Apa Itu Perilaku Hidup?

“Lapang, Lempang dan Lempeng”
Dalam menjalani laku kehidupan di alam dunia, ajaran Kejawen Budhiroso ingin mewujudkan perilaku hidup yang normal dilandasi dengan jalan kehidupan yang 
“Lapang, Lempang dan Lempeng”.
Lapang bermakna memiliki pandangan hidup yang luas.
Lempang bermakna mampu menaklukkan halangan kehidupan.
Lempeng bermakna menjalani kehidupan dengan lurus.

Senin, 11 Juni 2012

Cooling Down Project




  Blog ini dibuat khusus untuk para murid agar memiliki kwalitas 
hidup yang sehat, lurus dan bersih.
Selamat makaryo dan semoga andhika sehat selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. 



BETAPA BESAR IKAN INI
MUSTAHIL ADA YANG MEMELIHARANYA, KECUALI GUSTI KANG AKARYO JAGAD (TUHAN YANG MENGUKIR ALAM)
http://www.youtube.com/watch?v=acVxidc42fI


Tamu Kita








Apa Itu Meguru?


Riwayat sekolah formal (meguru) yang pernah di jalani Ir. Roosdiansyah Pribadi alias Ki Ageng Salam :

  1. Sekolah Taman Kanak Kanak (TK Bunda Petiwi) – Surabaya, 1969.
      Kenangan tak terlupakan : “menumpahkan setampah roti goreng karena meraih
      tampah ketika masih dalam sunggian di kepala, ibu terpaksa mengganti 15 potong roti
      goreng)

  1. Sekolah Dasar Negeri V – Surabaya, 1976
Prestasi Rangking 2 di kelas, rangking 1 adalah Ir. Eddy S*encahyo MM, seorang ahli kimia dan lingkungan – Jakarta, teman seperjuangan di Paguyuban Seni Budaya Jawa Timur di Unit Kesenian Loedreok ITB)
Pengalaman tak terlupakan : mulai pacaran cinta monyet dengan Sri Pa*gestuti (pindah ke Mojokerto) dan lolos dari sambaran petir di siang bolong
.
3. Sekolah Menengah Pertama SMP Taman – Sidoarjo, 1979
Prestasi Rangking 2 di kelas, rangking 1 adalah Miftah Yulia*to, mantan Mahasiswa Teknik Sipil ITS Surabaya.
Pengalaman tak terlupakan : pembaca teks proklamasi dalam setiap upacara bendera (tugas giliran kelas)

  1. Sekolah Menengah Atas SMAN 4 Surabaya, 1982.
Prestasi Rangking 1 (tunggal) THB (Tes Hasil Belajar) Semester V di sekolah (7 kelas-kira kira 280 murid), mendapat sertifikat penghargaan. Diberitakan dari mulut kemulut  sebagai “Bintang Pelajar SMA
4, karena popular di sekolah sebagai pemain teater..

Pengalaman tak terlupakan : tampil dalam acara teater rakyat memperingati Hari Natal, lalu dapat teguran dari guru agama Islam dan saat bawa pacar (gadis Su*da, tercantik di kelas)  sepeda motor CB 100 tangki jumbo (paling bergengsi saat itu) lalu mogok jauh dari tempat bensin, malunya minta ampun (lupa lihat indikator volume bensin di speedometer, karena saking senengnya, abis “nembak” diterima, putus pelan pelan saat kuliah di Bandung).

4. Kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jurusan Teknik Perminyakan, 1991.
Prestasi buncit, IP = 3 skala 5 dan selama  7.5 tahun menuntut ilmu sambil kerja sampingan sebagai PKL dagang buku bekas dan menekuni dunia panggung hiburan melawak.
Pengalaman tak terlupakan : -saat disanjung dengan standing applaus saat muncul dihadapan penonton Lodroek ITB, karena tampil selayaknya pemain teater professional. Setelah terkenal di Bandung 1984, capek “say to hello”saat bertemu penggemar karena privasi terganggu, dari peristiwa ini saya malas jadi orang terkenal. Lumayan bisa kenal baik dengan Neno Warisman.

Ir. Roosdiansyah Pribadi (Ki Ageng Salam) pernah tercatat sebagai mahasiswa Politeknik Perkapalan ITS (1982), Teknik Perminyakan ITB Bandung (1982) dan Fakultas Ekonomi Universitas Pajajaran Banduung (1983).

Apa Itu Ritual Pemujaan?

Ritual Pemujaan.
Adalah suatu prosesi upacara  pengakuan manusia pada kekuatan besar diluar dirinya yang sulit dikendalikannya/dikuasainya dan juga dilakukan sebagai upaya konsolidasi untuk mencapai “damai” dengan kekuatan itu. 

Budhiroso percaya bahwa Allah bisa berwujud banyak, bila menunjukkan kekuasaannya di bumi, yaitu berupa Malaikat atau Dewa.

Contoh ritual pemujaan adalah :

1. Dalam sebuah cerita yang tertulis di kitab suci, dikisahkan bahwa ketika habil dan kabil, dua orang bersaudara saling memperebutkan adiknya untuk diperistri, maka sang ayah (Adam), memberi solusi dengan mempersembahkan sesajian berupa 2 ekor kambing yang diletakkan di puncak bukit. Kambing persembahan siapa yang tersambar petir (dikehendaki Allah), maka ialah yang berhak mengawini adiknya.

2. Suku Tengger (pemeluk agama Hindu Tengger) di Jawa Timur melakukan ritual melemparkan sesajian ke kawah gunung Bromo, memberikan sesajian hasil panen kepada Sang Hyang Widi dan para leluhur sebagai rasa syukur atas buah panen yang didapat musim itu.

3. Setiap menjelang musim tanam, suku Jawa membuat sesajen berupa bumbu dapur kepada penguasa padi Dewi Sri, agar panen berhasil sesuai harapan. 

Dalam ajaran Aliran Kebatinan Budhiroso TIDAK MENGENAL ritual pemujaan karena Budhiroso bukan merupakan aliran keagamaan. Budhiroso hanya memperbolehkan penganutnya untuk menghormati para dewa/jin atau yang dipercaya sebagai penguasa spiritual suatu wilayah dengan mendirikan prasasti atau peringatan yang bertujuan untuk melestarikan kondisi alam.

Apa Itu Sifat Tuhan?


Sifat sifat Tuhan

1. Sifat Pangeraniro (Tuhanmu) Yang Awal / azali, Tak terkait Dengan Alam   

a. Pangeraniro Itu Tunggal, Satu atau Esa.
Penjelasannya : - Sebuah telur itu “tunggal”, apakah sifat Tuhan itu seperti ini? Tidak, karena telur terdiri dari kulit keras (cangkang), kulit lembut (ari), putih telur, kuning telur dan rongga udara (5 unsur menyatu dalam satu benda). Ketunggalan Tuhan itu tidak demikian sifatnya, tapi  ketunggalan Tuhan itu seperti sebongkah “arang” yang terdiri dari “satu unsur karbon saja”. Tuhan tak tergantung pada bentuk tertentu, karena bentuk hanyalah merupakan hasil tangkapan indera mata atau hasil kekayaan visual/rupa yang tertangkap indera mata. Bentuk Tuhan sebenarnya hanya bisa ditemui setelah mati
.
    1. Pangeraniro Itu Hidup, Urip atau Tidak Mati.
Penjelasannya : Karena Tuhan itu hidup, maka Tuhan itu bergerak. Karena bergerak, maka Tuhan itu memiliki tujuan agar eksistensi "kehidupannya" bermanfaat.

    1. Pangeraniro Itu Bisa Membagi/Membelah Diri.
Penjelasannya : Tuhan itu bisa membagi dirinya menjadi kembar, baik itu kembar dua, tiga atau lebih dari itu. Semua kehendak itu tentu dimaksudkan agar Tuhan bermanfaat untuk mencapai tujuanya.

    1. Pangeraniro Itu Kreatif.
Penjelasannya : Kreatifitas merupakan salah satu sifat Tuhan. Jadi Tuhan itu tidak bodoh. Dengan sifat kreatif ini, maka Tuhan bisa disebut Sang Pencipta.

    1. Pangeraniro Itu Kekal/Abadi/Langgeng/Berkesinambungan.
Penjelasannya : Agar dapat bermanfaat selama lamanya dan "terus menerus berkreasi", maka Tuhan itu memiliki sifat kekal, selalu ada dari masa ke masa dan tidak tergantung waktu.

    1. Pangeraniro Itu Tidak Pernah Terlihat Oleh Manusia
Penjelasannya : Tuhan itu tidak menyerupai sesuatu atau apa yang pernah dilihat manusia. Jadi kalau Tuhan itu menyerupai sesuatu, maka ia bukan lagi Tuhan Sang Pencipta, tapi hanyalah hasil karya ciptaan/rekaan imajinasi manusia belaka.

    1. Pangeraniro Itu Kuat/Perkasa
Penjelasannya : Tuhan itu tidak lemah, tapi kuat. Tuhan memiliki kekuatan yang tidak bisa hilang sehingga menjadikan diriNya mampu untuk membuat diriNya kekal atau tak berakhir dan hidup terus menerus.

    Karena manusia adalah mahluk berfikir, maka Tuhan memberikan petunjuk/tuntunan hidup untuk bergaul satu dengan lainnya di dunia baik melalui utusan/malaikat atau langsung. 

    2. Sifat Pangeraniro (Tuhanmu) yang terkait dengan hasil tiupan Roh Ketuhanan pada manusia.
      Sebagai hasil tiupan Roh Ketuhanan ini, maka manusia memiliki sifat kreatifitas yang “tinggi” dan berperilaku seolah olah sebagai "Wakil Tuhan" di dunia. Dengan kemampuan memutus siklus kehidupan, sebab akibat dan keseimbangan alam.

     a. Manusia bisa menciptakan hewan baru tanpa melalui proses pembuahan sel telur dan sel sperma secara normal, tapi “sel sperma” hanya diambilkan dari sekutip sel telinga binatang (teknologi cloning domba Dolly),

    b. Manusia mampu membuat hujan buatan dengan menaburkan bahan bahan kimia ke angkasa tanpa harus mengandalkan adanya mendung/asap karena panas api

    c. Tenaga nuklir bisa dihasilkan dari peluruhan atom U-239 menghasilkan energi panas yang besar.

    $$$

    Sabtu, 02 Juni 2012

    Apa Itu jagad raya?


    Jagad Raya
    Bagaimana sih kias menerangkan proses penciptaan jagad raya dari “tidak ada” menjadi “ada” hanya dengan sabda Pangeraniro yaitu kunpayakun, jadilah maka terjadi.

    Jagad raya yang nyata dan dapat dirasa panca indera (dilihat dan diraba), misalkan batu dan tanah tidak boleh lepas dari sifat fisika dan kimia benda itu. Batu bisa diubah menjadi tepung batu dengan menggerusnya memakai bahan yang lebih keras, misalkan besi atau baja. Tanah bisa diubah menjadi batu yaitu dengan membakarnya pada suhu tertentu hingga berubah wujud menjadi batu bata yang keras.

    Sebuah kamper atau kapur barus yang diletakkan dalam sebuah kotak, maka akan menghilang dalam beberapa bulan melalui proses menyublim (padat menjadi gas). Wujud kamper tidak ada lagi alias tidak kelihatan kerena berubah menjadi bentuk gas. Ini proses fisika namanya. Ini proses dari “ada” menjadi “tidak ada”.

    Sebuah ruang kulkas yang kosong (bagian es), setelah melalui proses pembekuan pada suhu tertentu akan menampakkan gumpalan kristal es. Udara yang tak kelihatan berubah menjadi kelihatan (gumpalan es) yang kelihatan. Ini juga proses fisika dari “tidak ada” menjadi “ada”

    Jagad raya berasal dari 2 gumpalan gas raksasa yang membeku berbenturan lalu meledak (big bang) hingga menghasilkan serpihan 100.000.000.000 galaxy (1 galaxy terdiri dari kumpulan dari kira kira 3.000.000.000 bintang/matahari dan gas).  Saya meyakini ada benturan karena bentuk galaxy berbeda beda tapi semuanya mengarah pada sesuatu yang berputar), sedangkan para ilmuwan meyakini hanya ada satu gumpalan gas raksasa. Inilah satu satunya teori yang diyakini benar adanya oleh para ilmuwa sampai saat ini..

    Seorang ilmuwan fisika modern Albert Einstein berteori bahwa “materi” bisa diubah menjadi “energi”. Disini secara gampang bisa disebutkan bahwa “sebongkah arang” bisa berubah menjadi abu setelah melepaskan “energi panas”.(arang hilang berubah menjadi panas). Bila yang dimaksudkan bahwa kunpayakun adalah proses penciptaan seketika jagad raya dari keadaan “tidak ada/kosong/suwung/tanpa wadah” menjadi “ada/isi”, maka saya tak mampu menerangkan karena ini berarti menyangkut kekuasaan Awoh yang bersifat ghoib/diluar akal nalar. Percaya pada hal ghoib ini merupakan salah satu rukun Iman. Suatu rukun keimanan yang harus diyakini, 
    bila ingin menjadi muslim. 

    $$$

    Kamis, 31 Mei 2012

    Apa Itu Pangeraniro?


    Bagiamana menerangkan wujud Pangeraniro?

    Siapa Pangeraniro itu?
    -    Pangeraniro (Tuhanmu) adalah sosok Sang Pencipta mula/awal jagad raya seisinya dan Pangeraniro Maha Kuasa, sebelum mahluk manusia turun kebumi. Setelah manusia berada di bumi, maka Awoh bukan satu satunya Sang Maha Pencipta di jagad raya, karena faktanya Awoh tak mampu menciptakan mobil atau meja. Juga awoh tak Maha Maha Kuasa lagi karena tak kuasa menyelamatkan seorang bayi dari kematian ketika dalam todongan belati manusia dewasa. Oleh karena itu manusia dianggap "Pangeraniro Katon" (Tuhan Yang Tampak) di bumi untuk mengelola isi jagad raya termasuk "mematikan" atau "mencabut" nyawa manusia seperti pada masa perang, aborsi serta pembunuhan. Kuasa manusia pada jagad raya akan berhadapan dengan "sifat wujud Pangeraniro sing tinakdir marang jagad gede" (sifat Pangeraniro yang ditakdirkan ada pada jagad raya", yaitu "siklus kehidupan, sebab akibat dan keseimbangan alam"

    Dimana kedudukan Pangeraniro berada?
    -   Sebelum Bapa Adam dan Ibu Siti Hawa diciptakan, maka kedudukan Awoh ada di Sorga. Setelah Bapa Adam dan Siti Hawa diciptakan untuk menghuni sorga, maka sosok Pangeraniro menghilang dan akan muncul lagi seperti “keringat yang keluar dari pori pori kulit “untuk berkomunikasi dengan penghuni sorga, lalu menghilang lagi.

    Dimana sekarang Pangeraniro berada?
    -    Setelah Bapa Adam dan Ibu Siti Hawa (asal usul manusia menurut Islam, Nasrani dan Yahudi) diturunkan dari sorga menuju dunia, maka wujud Pangeraniro  menghilang berubah "wujud" menjadi dzat “wujud Jagad Raya seisinya termasuk setiup roh Awoh untuk membuat manusia bernyawa” untuk melihat dan mengawasi manusia. Jadi sekarang Pangeraniro berwujud “binatang, tumbuhan, manusia, air, planet, bulan, matahari, galaksi, meteor, nebula dll”

    Jadi ungkapan Gusti Pangeran Mboten Sare (Tuhan tidak tidur) itu benar, karena Pangeraniro terus berkomunikasi dengan manusia melalui gejala alam/rekasi reaksi alam. Kalau hutan kita tebang, maka Pangeraniro mereaksikan wujudnya dengan tanah longsor dan banjir. Sifat Pangeraniro  di jagad raya adalah berupa siklus kehidupan,sebab akibat dan keseimbangan alam.

    - Antara matahari, planet dan bulan terkandung  keseimbangan gaya yang menimpanya,sehingga ke-tiga benda ini membentuk sistim kehidupan yang memiliki sikuls edar yang membentuk waktu siang dan malam.
    -  Buah kelapa jatuh ke tanah tumbuh menjadi pohon kelapa baru setelah itu induknyamati karena tua.
    -     Pohon pisang beranak/bertunas untuk meneruskan kehidupan pohon induknya.
    -     Seekor singa hanya membunuh bila lapar, untuk menjaga keseimbangan alam.

    Jadi sekarang sosok Pangeraniro bukan lagi sebuah pribadi, seperti seorang komandan menghadapi bawahan saat berdialog dengan malaikat ketika akan menciptakan manusia pertama (Adam-Hawa), tapi telah melebur dalam diri pribadi berwujud dzat  alam jagad raya seisinya termasuk setiup roh Pangeraniro yang hadir dalam diri manusia ketika dalam kandungan ibu.

    Oleh karena itu sekarang Pangeraniro bisa berkomunikasi langsung dengan manusia melalui wahyu/wangsit dengan perantaraan ciptaanya yaitu malaikat pada nabi/rasul atau sosok wujud Pangeraniro melalui pertanda/firasat yang disampaikan, misalkan oleh binatang,angin, suara alam dll kepada manusia. Jadi Pangeraniro mboten sare (Tuhan tidak tidur). Bila sifat ketuhanan/Pangeraniroiyah/suci/baik manusia hilang, maka akan muncul sosok iblis/setan yang menggantikan dan akan membimbing manusia dalam alam kegelapan/kejahatan yang merusak sifatnya. Sifat merusak ini bisa hilang hanya dengan eling/ingat kepada Awoh.

    $$$

    Apakah Kiamat Itu?

    Apa Itu Kiamat?

    Kiamat adalah berakhirnya proses siklus kehidupan.

    3 macam kiamat, yaitu :

    1. Kiamat Besar : adalah berakhinya kehidupan mahluk di planet bumi dengan cepat.

      Kiamat ini bisa terjadi karena :

    - Kejatuhan /benturan meteor raksasa dengan planet bumi,

    - Siklus pembentukan hydrogen dalam reaksi nuklir di matahari mengalami penyimpangan atau terganggu, sehingga orbit bumi kacau  dan kemudian  bumi akan membentur bulan..

    - Matahari tak mampu melaksanakan reaksi nuklirnya, sehingga sinar matahari tak muncul alias menjadi “dead star” atau bintang mati, akibatnya orbit bumi akan hilang.

    - Matahari meledak oleh sebab sebab tertentu/supernova.


    2. Kiamat Sedang : adalah punahnya manusia secara bersama sama dalam satu wilayah.

    - Karena perang antar negara/suku dengan senjata biologi/kimia

    - Karena perang nuklir,

    - Karena bencana alam tsunami/gunung meletus/gempa bumi

    - Karena banjir besar akibat naiknya permukaan air laut oleh pemanasan global.

    - Suhu suatu wilayah di bumi  naik dengan ekstrim sehingga menyebabkan banyak manusia mati kepanasan,

    - Karena penyakit menular yang tak ada obatnya, misalkan AIDS

    -  Sistim genetik manusia tercemar limbah bahan kimia/radio aktif sehingga menyebabkan penyimpangan lalu menghasilkan keturunan letal/cacat.


    3. Kiamat Kecil : Matinya seseorang.

    Kelembaman memang milik semua benda yang bergerak. Kelembaman menyebabkan kecenderungan untuk selalu bergerak dan takkan pernah berhenti. Ada bermacam gerak. Ada gerak kehidupan, gerak planet, gerak bandul, gerak massa dan masih banyak lagi. Selagi bergerak, jangan dihentikan dengan tiba-tiba. Itu akan menciptakan ketidak-nyamanan. Dalam gerak, terdapat tujuan, massa dan momentum. Semua ada saatnya. Saat muncul-terbit dan saat tenggelam. Lalu percayakah anda, bahwa ada gerak yang telah digulirkan dan tak akan berhenti, karena capek? Kalau tak berhenti, maka itu tak memiliki kelembaman, sesuatu yang biasa dimiliki oleh benda bermassa. Bumi, bulan dan bintang memiliki kelembaman, ia adalah massa. Pada saatnya nanti ke-3 benda langit itu akan berhenti bergerak, mengikuti hukum alam. Dan keberhentiannya, disebut kiamat, atau tamat-berakhir usianya. 
    $$$

    Apa Itu Eling?

    Eling adalah menyembah / menyerahkan diri / pulang  kehadapan Gusti Allah adalah proses penyerahan diri sepenuhnya akan kehendak Pangeraniro / Tuhanmu

    Terdapat 3 Macam Eling, yaitu:
    1. Eling Siro (ESI) : yaitu menyembah bersama sama di dalam tempat ibadah/lapangan (masjid/gereja/vihara). Eling ini berdimensi sosial.  

    2. Eling Sujud (ESU) : yaitu menyembah sendirian/tidak bersama-sama di dalam ruangan/luar rumah. Eling ini berdimensi bathin.  

    3. Eling Sare (ESA) : yaitu menyembah dengan hanya berdoa/menyebut asma Tuhan saja-ketika kesandung, saat melihat sesuatu yang hebat/ngeri atu indah, saat mendapat musibah dll.  Eling ini berdimensi pengakuan pada karsa Gusti Pangeraniro (misanya O My God!, Bismillah, Allahu Akbar dll). 

    Berapakali kita senantiasa menyebut nama tuhan dalam sehari, seminggu atau sebulan? Kita selalu menyebut nama tuhan kita, bila kita sedang dalam kesulitan, keheranan, keterkejutan, 
    atau sekedar untuk eling-ingat dengan suara yang lembah-merendah atau untuk mengusir kejenuhan saja? Kita hidup dalam dunia yang majemuk (plural), semua kalangan dan kepercayaan bisa saling bertemu dan berinteraksi satu dengan yang lain. Bila tak terjadi kata selaras, maka akan bergesekan, lebih besar akan bertabrakan. Ini akan menciptakan konflik, lantas kita harus eling-ingat pada Tuhan, Sang Pencipta keaneka-ragaman. Jangan jumawa-sombong untuk memaksakan diri pada kehendak pribadi, itu gak-ilok atau tidak endah-cantik. Kesadaran pemetaan atas masalah yang dihadapi dibutuhkan dalam menyikapi keadaan yang sesulit apapun. Tidak grusa-grusu, sembrono dalam mengambil tindakan. Semuanya harus melalui tahapan gagasan-laku dan kontrol, agar hasilnya sesuai dengan kaidah yang normal-baik, bisa diterima lingkungan. Elinglah setiap saat, sebut nama Tuhan, 
    agar jalurmu tetap pada track yang benar dan diberkahi.

    &&&

    Minggu, 27 Mei 2012

    Siapa Sunan Kalijogo?


    Siapa Sunan Kalijogo itu?
    Beliau lahir di Tuban (Jawa Timur), pada tahun 1450 M. Ayahnya bernama Arya Wilatikta, Adipati Tuban yang merupakan keturunan dari Ronggolawe. Setelah berselisih dengan sang ayah tentang teori kemamuran rakyat  dengan pertanyaan  “mengapa cadangan padi di lumbung kadipaten melimpah tapi rakyat kelaparan”, karena dianggap menggurui, maka ayahnya marah. Tanpa setahu ayahnya, lumbung padi itupun dibongkarnya dan isinya dibagikan kepada rakyat. Setelah ketahuan, maka Raden Mas Said pun diusir dari kraton kadipaten. Dengan hati patah ia melakukan aksi perampokan pada  pejabat kadipaten yang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat, sehinnga beliau mendapat julukan Lokajaya (perampok budiman). Sampai suatu saat ia bertemu dengan ulama besar Syech Maulana Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang dan berdebat soal “tujuan yang baik (bersedekah), apa boleh diawali  dengan aksi yang buruk (merampok)”, karena kalah ilmu maka perdebatan itu dimenangkan ole Sunan Bonang dengan tesis “bahwa pada dasarnya apa haq (benar), tak dapat dicampur adukkan dengan yang bathil (buruk), kerena kedua sifat itu beda wilayah atau berlawanan hakikat”. Akhirnya Raden Mas Said berguru pada Sunan Bonang. Ia diajari melatih kesabaran dan ketenangan dengan bertapa di tepi sungai dengan memandang arus sungai yang mengalir selama 10 tahun. Setiap arus kali dipenuhi sampah ia lalu membersihkannya/mengentasnya karena mengganggu konsentrasi bertapanya. Pemilihan cara bertapa seperti ini karena mengingat RM Said gemar melakukan kungkum atau berendam. Pada umumnya orang bertapa di gua atau dibawah pohon. Lantas orangpun ramai menjuluki Sunan Kalijaga (artinya penjaga kali). Dalam melakukan dakwahnya Sunan Kalijaga memakai media kesenian, yaitu dongeng wayang dan gamelan Jawa. Ponokawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) adalah tokoh sisipan dalam dunia pewayangan yang merupakan hasil rekaannya tentang penggambaran kesetiaan para pamong yang mengemban daulat Raja. Karya Sunan Kalijaga yang paling terkenal hingga saat ini adalah lagu tembang Lir Ilir, suatu syair dalam bahasa Jawa yang sarat dengan pesan pesan  tentang upaya perdamaian, ketersediaan pangan  dan kebersihan lingkungan di tanah Jawa..

    Tulisan lain tentang Sunan Kalijogo.
    Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama Sunan Kalijaga berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
    Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian Sunan Kalijaga mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Sunan Kalijaga ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
    Dalam dakwah, Sunan Kalijaga punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
    Sunan Kalijaga sangat toleran pada budaya lokal. Sunan Kalijaga berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
    Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Sunan Kalijaga pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
    Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
    (Sumber : atifhidayat.wordpress.com)

    Kejawen Padepokan Pengging

     

    AJARAN KEJAWEN DARI PADEPOKAN PENGGING JOGYAKARTA

    Untuk siapa saja yang ingin mengetahui kejawen lebih mendalam, maka disini akan diberikan butir butir nilai kehidupan Jawa dari Ki Demang Sokowetan yang sejalan dengan gagasan ajaran Ki Ageng Kenanga.

    PAUGERANING NGAURIP TUMPRAP WONG JOWO

    (P) = Pituduh/Petunjuk, (W) = Wewaler/Larangan

    I. Paugeran Kanggo Kapercayan:

    1.  (P) Pangéran Kang MÃ¥hÃ¥ KuwÃ¥sÃ¥ (Gusti Allah, Tuhan) iku siji, angliputi ing ngêndi papan, langgêng, síng nganakaké jagad iki saisiné, dadi sêsêmbahan wóng saalam donyÃ¥ kabèh, panêmbahan nganggo carané dhéwé-dhéwé.

    2.  (P) Pangéran Kang MÃ¥hÃ¥ KuwÃ¥sÃ¥ iku anglimput Ã¥nÃ¥ ing ngêndi papan, anèng sira ugÃ¥ Ã¥nÃ¥ Pangéran (maksudé : tajaliné Kang Múrbèng Dumadi).

    3.  (P) Pangéran iki MÃ¥hÃ¥ KuwÃ¥sÃ¥, pêpêsthèn sÃ¥kÃ¥ karsaning Pangéran ora Ã¥nÃ¥ síng bisÃ¥ murúngaké.

    4.  (P) Pangéran iku nitahaké sirÃ¥ lantaran bÃ¥pÃ¥ lan biyúngirÃ¥, mulÃ¥ kudu sirÃ¥ ngurmati marang bÃ¥pÃ¥ lan biyúngirÃ¥.

    5.  (P) Ing donyÃ¥ iki Ã¥nÃ¥ róng warnÃ¥ síng diarani bêbênêr, yakuwi bênêr mungguhíng Pangéran lan bênêr sÃ¥kÃ¥ kang lagi kuwÃ¥sÃ¥.

    6.  (P) Kêtêmu Gusti (Pangéran) iku lamún sira tansah élíng.

    7.  (P) CÃ¥krÃ¥ manggilingan (uríp iku ibaraté rodhÃ¥ kang tansah mubêng).

    8.  (P) Ã…jÃ¥ sirÃ¥ wani-wani ngaku Pangéran, sênadyan kawrúhira wís tumêka "Ngadêg SarirÃ¥ Tunggal" utÃ¥wÃ¥ bisa mêngêrtèni "Manunggaling KawulÃ¥ Gusti".

    9.  (P) Ã…jÃ¥ ndisiki kêrsÃ¥.

    10.                    (W) Ã…jÃ¥ sirÃ¥ wani marang wóng tuwanira, jalaran sirÃ¥ bakal kênÃ¥ bêndhu sÃ¥kÃ¥ Kang Múrbèng Dumadi.

    11.                    (W) Ã…jÃ¥ múng kèlingan lan migatèkaké barang kang katón baé, sêbab kang katón gumêlar iki anané malah ora langgêng.

    12.                    (W) Ã…jÃ¥ darbé pangirÃ¥ yèn lêlêmbút iku mêsthi alané, jalaran síng apik iyÃ¥ Ã¥nÃ¥, síng Ã¥lÃ¥ iyÃ¥ Ã¥nÃ¥, ora bédÃ¥ karo manungsÃ¥.

    13.                    (W) Ã…jÃ¥ lali sabên ari (dinÃ¥) éling marang Pangéranira, jalaran sêjatiné sirÃ¥ iku tansah katunggón PangéranirÃ¥.

     

    II. Paugeran Kautamaning Batin:

     

    1.  (P) Kahanan donyÃ¥ iku ora langgêng, mulÃ¥ Ã¥jÃ¥ ngêgungaké kasugihan lan drajadira, awít samÃ¥ngsÃ¥ wolak-walikíng jaman ora kisinan.

    2.  (P) Kahanan kang Ã¥nÃ¥ iki ora suwé mêsthi ngalami owah gingsír, mulÃ¥ Ã¥jÃ¥ lali marang sapÃ¥dhÃ¥-padhaníng tumitah.

    3.  (P) Síng sÃ¥pÃ¥ sênêng ngrusak katêntrêmaníng liyan bakal dibêndhu déning Pangéran lan diwêlèhaké déning tumindaké dhéwé.

    4.  (P) Watakíng manungsÃ¥ iku kêpingín kuwÃ¥sÃ¥, nangíng Pangéran iku bakal maríngaké panguwÃ¥sÃ¥ miturút kêrsané Pangéran pribadi.

    5.  (P) JanmÃ¥ iku tan kênÃ¥ kinÃ¥yÃ¥ ngÃ¥pÃ¥, mulÃ¥ sirÃ¥ Ã¥jÃ¥ sênêng ngaku lan rumangsa pintêr dhéwé.

    6.  (P) Ramé ing gawé sêpi ing pamrih, mêmayu hayuníng bawÃ¥nÃ¥.

    7.  (P) ManungsÃ¥ sadêrmÃ¥ nglakóni, kadyÃ¥ wayang saupamané.

    8.  (P) Mulat sarirÃ¥, tansah élíng lan waspÃ¥dÃ¥.

    9.  (P) SabêgjÃ¥-bêgjané kang lali, luwih bêgjÃ¥ kang élíng klawan waspÃ¥dÃ¥.

    10.                    (P) Síng sÃ¥pÃ¥ salah sèlèh, lan mélík nggéndhóng lali.

    11.                    (P) Nglurúg tanpÃ¥ bÃ¥lÃ¥, sugíh ora nyimpên, sêkti tÃ¥npÃ¥ maguru, lan mênang tanpÃ¥ ngasóraké.

    12.                    (P) Yèn sirÃ¥ dibêciki liyan tulisên ing watu supÃ¥yÃ¥ ora ilang lan tansah kèlingan, yèn sirÃ¥ gawé kabêcikan marang liyan tulisên ing lêmah, supÃ¥yÃ¥ énggal ilang lan ora kèlingan.

    13.                    (P) Síng sênêng gawé nêlangsané liyan iku ing têmbé bakal kênÃ¥ piwalês sÃ¥kÃ¥ panggawéné dhéwé.

    14.                    (P)Lamún sirÃ¥ múng sênêng dialêm baé, ing têmbé kêtêmu bab-bab kang kurang prayogÃ¥.

    15.                    (W) Wani ngalah luhúr wêkasané.

    16.                    (W) Ã…jÃ¥ sênêng gawé rusakíng liyan, jalaran sirÃ¥ bakal kênÃ¥ siku dhêndhaning Guru SêjatinirÃ¥.

    17.                    (W) Ã…jÃ¥ sira nyacad piyandêling liyan, jalaran durúng mêsthi yèn piyandêlirÃ¥ iku síng bênêr dhéwé.

    18.                    (W) Ã…jÃ¥ lali marang kêbêcikan liyan.

    19.                    (W) Ã…jÃ¥ sirÃ¥ dêgsurÃ¥, ngaku luwíh pintêr tinimbang séjéné.

    20.                    (W) Ã…jÃ¥ rumangsa bênêr dhéwé, jalaran ing donya iki ora Ã¥nÃ¥ síng bênêr dhéwé.

    21.                    (W) Ã…jÃ¥ wêdi kangèlan, jalaran uríp anèng donyÃ¥ iku pancèn angèl.

    22.                    (W) Ã…jÃ¥ gawé sêrík atining liyan lan Ã¥jÃ¥ golèk mungsúh.

    23.                    (W) Ã…jÃ¥ sirÃ¥ mulang gêthing marang liyan, jalaran iku bakal nandúr cêcongkrahan kang ora Ã¥nÃ¥ uwis-uwisé.

    24.                    (W) Ã…jÃ¥ ngumbar hÃ¥wÃ¥ napsu lan Ã¥jÃ¥ mélík darbèkíng liyan, mundhak sêngsÃ¥rÃ¥ uripé.

     

    III. Paugeran Laku Budi Utomo:

     

    1.  (P) Ã…lÃ¥ lan bêcík iku dumunúng Ã¥nÃ¥ awaké dhéwé, mélík nggéndhóng lali, ngundhúh wóhíng pakarti.

    2.  (P) Síng sÃ¥pÃ¥ lali marang kabêcikan liyan, iku kÃ¥yÃ¥ kéwan.

    3.  (P) Ajiníng dhiri iku dumunúng Ã¥nÃ¥ ing lathi lan budi.

    4.  (P) YitnÃ¥ yuwÃ¥nÃ¥, lénÃ¥ kênÃ¥.

    5.  (P) Ã…lÃ¥ kêtÃ¥rÃ¥, bêcík kêtitík.

    6.  (P) Klabang iku wisané Ã¥nÃ¥ ing capité. KÃ¥lÃ¥jêngkíng wisané múng Ã¥nÃ¥ pucúk buntút (êntúp). Yèn ulÃ¥ mung dumunúng Ã¥nÃ¥ untuné ulÃ¥ kang duwé wisÃ¥. Nangíng yèn durjÃ¥nÃ¥ wisané dumunúng Ã¥nÃ¥ ing sakujúr badan.

    7.  (P) Rawé-rawé rantas, malang-malang putúng.

    8.  (P) Mumpúng ênóm ngudiyÃ¥ laku utÃ¥mÃ¥.

    9.  (P) Síng prasÃ¥jÃ¥, pêrcÃ¥yÃ¥ marang dhiri pribadi.

    10.                    (P) Ngèlmu pari, sÃ¥yÃ¥ isi sÃ¥yÃ¥ tumungkúl.

    11.                    (P) Wóng mati iku bandhané ora digÃ¥wÃ¥.

    12.                    (P) Wóng iku kudu ngudi kabêcikan, jalaran kabêcikan iku sanguníng uríp.

    13.                    (P) Wóng kang ora gêlêm ngudi kabêcikan iku prasasat sétan.

    14.                    (P) Wóng linuwíh iku ambêg wêlasan lan sugíh pangapurÃ¥.

    15.                    (P) Pêrang tumrap awaké dhéwé iku pambudidÃ¥yÃ¥ murih bisa mèpèr hÃ¥wÃ¥ nêpsu.

    16.                    (P) Ngèlmu iku kêlakóné kanthi laku, sênajan akèh ngèlmuné lamún ora ditangkaraké lan ora digunakaké, ngèlmu iku tanpÃ¥ gunÃ¥.

    17.                    (P) Turutên pituturé wóng tuwÃ¥.

    18.                    (P) Wóng kang ora wêrúh tÃ¥tÃ¥krÃ¥mÃ¥ udÃ¥nagÃ¥rÃ¥ (unggah-ungguh), iku pÃ¥dhÃ¥ karo ora bisÃ¥ ngrasakaké rÃ¥sÃ¥ nêm warnÃ¥ (lêgi, kêcút, asín, pêdhês, sêpêt, lan pait).

    19.                    (P) Wóng pintêr nangíng Ã¥lÃ¥ tumindaké, sênêngé karo wóng Ã¥lÃ¥.

    20.                    (P) Wóng linuwíh iku kudu bisÃ¥ ngêpèk ati lan ngêpénakaké atiné liyan. Yèn kumpúl karo mitrÃ¥ kudu bisÃ¥ ngêtrapaké têmbúng kang manís kang pêdhês, sêpêt,bisa gawé sênêngíng ati. Yèn kumpúl pandhitÃ¥ kudu bisÃ¥ ngómóngaké têmbúng kang bêcík. Yèn Ã¥nÃ¥ sangarêpíng mungsúh kudu bisÃ¥ ngatónaké kuwÃ¥sÃ¥ pangaribÃ¥wÃ¥ kaluwihané.

    21.                    (W) Ã…jÃ¥ panastèn lan Ã¥jÃ¥ sênêng gawé gêndrÃ¥, jalaran gawé gêndrÃ¥ iku sipatíng dhêmít.

    22.                    (W) Ã…jÃ¥ sênêng yèn dèn alêm, Ã¥jÃ¥ sêngit yèn dèn cacad.

    23.                    (W) Ã…jÃ¥ lali piwulang bêcík.

    IV. Paugeran Kebangsaan:

    1.  (P) BÃ¥ngsÃ¥ iku minÃ¥ngkÃ¥ sarÃ¥nÃ¥ kuwatíng nagÃ¥rÃ¥, mula Ã¥jÃ¥ nglírwakaké kabangsanirÃ¥ pribadi supÃ¥yÃ¥ antúk kanugrahan adêgíng bangsa kang "AndÃ¥nÃ¥ Waríh"

    2.  (P) NêgÃ¥rÃ¥ iku ora gunÃ¥ lamún ora duwé anggêr-anggêr minÃ¥ngkÃ¥ pikukuhíng nêgÃ¥rÃ¥ kang adhêdhasar isi kalbuné mênungsÃ¥ salumahíng nêgÃ¥rÃ¥ kuwi.

    3.  (P) Kang bêcík iku lamún ngêrti anané sêsantiné ngabdi bêbrayan agúng : "Ing NgarsÃ¥ Asúng TulÃ¥dhÃ¥, Ing MadyÃ¥ Amangún KarsÃ¥, Tút Wuri Handayani".

    4.  (P) NêgÃ¥rÃ¥ kita bisÃ¥ têntrêm lamún murah sandhang klawan pangan, margÃ¥ pÃ¥rÃ¥ kawulÃ¥ pÃ¥dhÃ¥ sênêng nyambút gawé, lan Ã¥nÃ¥ panguwÃ¥sÃ¥ kang darbé watak "Bêr budi bÃ¥wÃ¥ laksÃ¥nÃ¥”.

    5.  (P) WadyÃ¥bÃ¥lÃ¥ pamóng prÃ¥jÃ¥ kang sênêng marang kawulÃ¥ alít iku dadi sênêngané pÃ¥rÃ¥ kawulÃ¥ sajroníng prÃ¥jÃ¥ lan bisa gawé kukúh sartÃ¥ dadi tamèngíng nagÃ¥rÃ¥.

    6.  (P) PÃ¥rÃ¥ mudhÃ¥ Ã¥jÃ¥ ngungkúraké ngudi kawrúh kang nyÃ¥tÃ¥ amríh bisÃ¥ kinaryÃ¥ kuwatíng nagÃ¥rÃ¥, unggulíng bÃ¥ngsÃ¥, lan bisÃ¥ gawé rahayuníng sasÃ¥mÃ¥.

    7.  (P) PanguwÃ¥sÃ¥ pamóngé nêgÃ¥rÃ¥ iku kudu bisÃ¥ gawé têntrêm pÃ¥rÃ¥ kawulané, amargÃ¥ yèn ora mangkono bisÃ¥ kadadéyan pÃ¥rÃ¥ kawulÃ¥ ngrêbút panguwasaníng nêgÃ¥rÃ¥.

    8.  (P) NêgÃ¥rÃ¥ kuwat iku margÃ¥ kawulané sênêng uripé lan disujudi déníng liyÃ¥ nêgÃ¥rÃ¥.

    9.  (P) Lamún sirÃ¥ dadi wadyÃ¥bÃ¥lÃ¥ pamóngíng nagÃ¥rÃ¥, Ã¥jÃ¥ sirÃ¥ dhêmên kuwÃ¥sÃ¥ dhéwé. Jalaran yèn sirÃ¥ wís ora kasinungan panguwÃ¥sÃ¥ manèh, ing têmbé bakal ndadèkaké ora kajèníng awakirÃ¥ ing têngahíng bêbrayan. NgélingÃ¥nÃ¥ yèn sêjatiné isíh Ã¥nÃ¥ wóng kang bisÃ¥ ngalahaké sirÃ¥ ing babakan Ã¥pÃ¥ baé.

    10.                    (P) Déné síng mêngku nagÃ¥rÃ¥ ora darbé watak "Bêr budi bÃ¥wÃ¥ lêksÃ¥nÃ¥". Iku bisÃ¥ njalari wadyabÃ¥lÃ¥ kang dadi têtungguling prajurít nêgÃ¥rÃ¥ kuwi ora sujúd manèh lan bisÃ¥ ugÃ¥ kêpingín ngrêbút panguwasaníng nêgÃ¥rÃ¥.

    11.                    (P) Yèn wóng bêcík kang kuwÃ¥sÃ¥, kabèh kang Ã¥lÃ¥ didandani lamún kênÃ¥, déné yèn ora kênÃ¥ disingkíraké mundhak nulari (cuplak andhêng-andhêng).

    12.                    (P) Pêrang iku bêcík lamún tujuwané nggayúh kamardikaníng nagÃ¥rÃ¥ lan bangsané, lan pêrang iku Ã¥lÃ¥ lamún kanggo njarah rayah darbèkíng liyan.

    13.                    (P) Wóng Ã¥lÃ¥ yèn bisa kuwÃ¥sÃ¥, kang Ã¥lÃ¥ iku diarani bêcík. Kósókbaliné yèn wóng bêcík kang kuwasa, kang bêcík iku kang ditindakaké.

    14.                    (P) Wajibíng warganíng nagÃ¥rÃ¥ iku kudu bisÃ¥ rumÃ¥ngsÃ¥ mèlu handarbèni, wajíb mèlu hanggóndhèli. Mulat sarirÃ¥ hangrÃ¥sÃ¥ wani.

    15.                    (P) Ã…jÃ¥ sênêng yèn lagi darbé panguwÃ¥sÃ¥, sêrík yèn lagi ora darbé panguwÃ¥sÃ¥. jalaran kuwi-kuwi Ã¥nÃ¥ bêbêndhuné dhéwé-dhéwé.

    16.                    (P) Ã…jÃ¥ múng kêpingín mênangé dhéwé kang bisÃ¥ marèkaké crahíng nagÃ¥rÃ¥ lan bÃ¥ngsÃ¥, kudu sênêng rêrêmbugan njÃ¥gÃ¥ katêntrêman lahír batín.

     

    V. Paugeran Kaluwargan:

    1.  (P) BÃ¥pÃ¥ biyúng iku minÃ¥ngkÃ¥ lantaran uríp ing ngalam donyÃ¥.

    2.  (P) Síng sÃ¥pÃ¥ lali marang wóng tuwané prêsasat lali marang Pangérané, NgabêktiyÃ¥ marang wóng tuwÃ¥.

    3.  (P) Wóng tuwÃ¥ kang ora ngudi kabêcikan sartÃ¥ ora ngêrti marang udÃ¥nagÃ¥rÃ¥ (trapsilÃ¥, unggah-ungguh) lan tÃ¥tÃ¥ krÃ¥mÃ¥, kuwi sêjatiné dudu panutané putrÃ¥ wayah.

    4.  (P) SÃ¥pÃ¥ síng sênêng uríp têtanggan, kalêbu janmÃ¥ linuwíh. TÃ¥nggÃ¥ iku pêrlu dicêdaki nanging Ã¥jÃ¥ ditrêsnani.

    5.  (P) Paribasané tÃ¥nggÃ¥ iku pÃ¥dhÃ¥ karo bÃ¥pÃ¥ biyúng.

    6.  (P) TÃ¥nggÃ¥ kang ora bêcík atiné Ã¥jÃ¥ dicêdhaki nangíng Ã¥jÃ¥ dimungsuhi.

    7.  (P) Sadumuk bathúk sanyari bumi ditóh pati. (Unèn-unèn kanggo nggambaraké kasêtyané marang kulÃ¥wargÃ¥).

    8.  (P) Mikul dhuwúr mêndhêm jêro. Unèn-unèn kanggo nggambaraké bêktiné anak marang wóng tuwÃ¥né).

    9.  (P) Anak iku minÃ¥ngkÃ¥ têrusané wóng tuwÃ¥, ora Ã¥nÃ¥ katrêsnan kang ngluwihi katrêsnané wóng tuwÃ¥ marang anak.

    10.                    (P) TrêsnÃ¥ marang mantu iku pÃ¥dhÃ¥ baé trêsnÃ¥ marang putrÃ¥, jalaran putu iku wóhíng katrêsnané putrÃ¥ lan mantu.

    11.                    (P) SayojÃ¥nÃ¥ iku dóhé sêpulúh èwu dhêpÃ¥. SwÃ¥rÃ¥ kang krungu nganti sayojÃ¥nÃ¥, arumíng jênêng ngambar-ambar salumahíng bumi (dialêmbÃ¥nÃ¥).

    12.                    (P) Gólèk jodho Ã¥jÃ¥ múng mburu éndahíng warnÃ¥, sênajan ayu utÃ¥wÃ¥ bagús.

    13.                    (P) Ã…jÃ¥ ngaku wóng tuwÃ¥ lamun wóng tuwamu katón sugíh lan dhuwúr drajadé, jalaran pangkat lan bandhané wóng tuwamu iku mau bisa sirnÃ¥ sadurungé sirÃ¥ warisi.

    14.                    (W) Ã…jÃ¥ gampang nyêpatani anak nganggo têmbúng kang ora prayogÃ¥, jalaran sêpatané wóng tuwÃ¥ bisa numusi sartÃ¥ bisa ngilangaké rÃ¥sÃ¥ bêktiné anak marang wóng tuwané.

    15.                    (W) Ã…jÃ¥ mènèhi jênêng marang anak síng kurang pantês, jalaran jênêng síng disandhang anak bakalé kagÃ¥wÃ¥ nganti dêlahan (akhérat).

     

    VI. Paugeran Kadonyan:

     

    1.  (P) BÃ¥ndhÃ¥ kang rêsík iku bÃ¥ndhÃ¥ kang sÃ¥kÃ¥ nyambút karyÃ¥ lan sÃ¥kÃ¥ pamêtu séjéné kang ora ngrusakaké liyan. Déné bÃ¥ndhÃ¥ kang ora rêsík iku bÃ¥ndhÃ¥ cólóngan utÃ¥wÃ¥ sÃ¥kÃ¥ nêmu duwèkíng liyan kang kawruhan síng duwé.

    2.  (P) Kadonyan kang Ã¥lÃ¥ iku atêgês múng ngÃ¥ngsÃ¥-Ã¥ngsÃ¥ golèk bÃ¥ndhÃ¥ donyÃ¥ ora mikiraké kiwÃ¥ têngêné, ugÃ¥ ora mikiraké kahanan batín.

    3.  (P) Golèk bÃ¥ndhÃ¥ iku samadyÃ¥ baé, udinên katêntrêman njÃ¥bÃ¥ njêro.

    4.  (P) BÃ¥ndhÃ¥ iku anané múng anèng donyÃ¥, mula yèn mati ora digÃ¥wÃ¥.

    5.  (P) Wóng golèk kêmakmuran iku ora kalêbu ngoyak kadonyan.

    6.  (P) BÃ¥ndhÃ¥ iku gawé múlyÃ¥ lan ugÃ¥ gawé cilÃ¥kÃ¥. Gawé múlya lamún sÃ¥kÃ¥ barang kang bêcík, gawé cilÃ¥kÃ¥ lamún sÃ¥kÃ¥ barang kang Ã¥lÃ¥.

    7.  (P) Wóng uríp Ã¥jÃ¥ tansah kêpingín bÃ¥ndhÃ¥ baé, jalaran kasugihan iku ing samÃ¥ngsÃ¥-mÃ¥ngsÃ¥ bisÃ¥ gawé cilÃ¥kÃ¥.

    8.  (P) Síng sÃ¥pÃ¥ tansah ngêgúngaké pangkaté, wirang lamún Ã¥nÃ¥ owahing jaman. Síng sÃ¥pÃ¥ ngêgúngaké bandhané, wirang lamún sírnÃ¥ bandhané.

    9.  (P) Dhèk jaman kunÃ¥ pêrang iku rêbutan bÃ¥ndhÃ¥, nêgÃ¥rÃ¥, lan mbóyóng putri. Nangíng jaman iku ilang barêng wís ngêrti mênÃ¥wÃ¥ wanitÃ¥ bóyóngan mau bisÃ¥ gawé ringkihíng nagÃ¥rÃ¥.

    10.(W) Båndhå iku pêrlu nangíng åjå diumúk-umúkaké, drajad lan pangkat iku pêrlu, åjå dipamèr pamèraké, jalaran biså mlèsèdaké awaké dhéwé.

    11.                    (W) Ã…jÃ¥ mélík darbèking liyan, margÃ¥ rêbutan rÃ¥jÃ¥brÃ¥nÃ¥ lan wanita iku bisÃ¥ gawé congkrahíng pÃ¥rÃ¥ sujÃ¥nÃ¥ lan gawé nisthaníng ati.

    12.                    (W) Ã…jÃ¥ sênêng mamèraké bÃ¥ndhÃ¥ lan ngêgúngaké pangkat, sêbab bÃ¥ndhÃ¥ bisÃ¥ lungÃ¥, drajad/pangkat bisa oncat.

    13.                    (W) Ã…jÃ¥ sênêng marang wóng kang ngujÃ¥ hÃ¥wÃ¥ napsu margÃ¥ akèh bandhané. Jalaran bÃ¥ndhÃ¥ mau bisa gawé cilÃ¥kÃ¥ amargÃ¥ durúng mêsthi bÃ¥ndhÃ¥ kang rêsík.

     

    VII. Memayu Hayuning Pribadi:

     

    1.  (P) Ing samubarang gawé Ã¥jÃ¥ sók wani mêsthèkaké, awít akèh lêlakón kang akèh bangêt sambékalané síng ora bisÃ¥ dinuga tumibané. Jêr kÃ¥yÃ¥ uniné pêpèngêt, "MênÃ¥wÃ¥ manungsÃ¥ iku pancèn wajíb ihtiyar, nangíng pêpêsthèné dumunúng ing astané Pangéran Kang MÃ¥hÃ¥ Wikan". MulÃ¥ ora samêsthiné yèn manungsÃ¥ iku nyumurupi bab-bab síng durúng kêlakón. SaupÃ¥mÃ¥ nyumurupÃ¥, prayogÃ¥ Ã¥jÃ¥ diblakakaké wóng liyÃ¥, awít têmahané múng bakal murihaké bilahi.

    2.  (P) Sabar iku ingaran mustikaning laku, jumbúh karo uniné bêbasan : "Sabar iku kunciníng swargÃ¥", atêgês marganíng kamulyan. Sabar, liré mómót kuwat nandhang sakèhíng cobÃ¥ lan pandadaraníng ngauríp, nangíng ora atêgês gampang pêpês kêntèkan pêngarêp-arêp. Suwaliké malah kêbak pêngarêp-arêp lan kuwÃ¥wÃ¥ nampani Ã¥pÃ¥ baé kang gumêlar ing salumahé jagad iki.

    3.  (P) Kahanan donya iki ora langgêng, tansah owah gingsír. Yèn sirÃ¥ kêbênêran katunggónan bÃ¥ndhÃ¥ lan kasinungan pangkat, Ã¥jÃ¥ banjúr rumangsa "SÃ¥pÃ¥ sirÃ¥ sÃ¥pÃ¥ ingsún", tansah ngêndêlaké panguwasané tumindak dêgsurÃ¥ marang sapÃ¥dhÃ¥-pÃ¥dhÃ¥. Élinga yèn bÃ¥ndhÃ¥ iku gampang ilang (sírnÃ¥). Pangkat sawayah-wayah bisa oncat.

    4.  (P) SaibÃ¥ bêciké samangsÃ¥ wóng kang lagi kasinungan kabêgjan lan nampÃ¥ kabungahan iku tansah élíng gêdhé ngucap syukúr marang Kang Pêparíng. Awít élinga yèn tumindak kÃ¥yÃ¥ mangkono mau kêjÃ¥bÃ¥ bisÃ¥ ngilangi watak jubriyÃ¥ uga mlêtikaké rÃ¥sÃ¥ rumÃ¥ngsÃ¥ yèn wóng dilairaké marang sapÃ¥dhÃ¥-padhané titah, mbêngkas kasangsaran, munggahé ngrêksÃ¥ hayuníng jagad.

    5.  (P) Ã…jÃ¥ sók ngêndêl-êndêlaké samubarang kaluwihanmu, Ã¥pÃ¥ manèh mamèraké kasugihan lan kapintêranmu. Yèn anggónmu ngóngasaké dhiri mau múng winatês ing lathi tanpÃ¥ búkti, dhóngé pakarti kÃ¥yÃ¥ mangkono iku ngêngón awakmu dadi ora aji. Luwíh prayogÃ¥ turutên pralampitané tanduran pari. Pari kang mêntês mêsthi tumêlúng, kang ndongak mracihnani yèn kóthóng tanpÃ¥ isi.

    6.  (P) "RumÃ¥ngsÃ¥ sarwÃ¥ duwé" lan "SarwÃ¥ duwé rumÃ¥ngsÃ¥", iku yèn ditulís gênah múng diwolak-walík baé, nangíng surasané jêbúl kÃ¥yÃ¥ bumi karo langit. Síng kapisan nudúhaké watak ngêdír-êdíraké, wêngís satindak lakuné (polahé), yèn nggayúh pêpénginan ora maèlu laku dudu, samubarang pakarti nisthÃ¥ ditrajang wani. Déné síng kapindho pakartiné tansah kêbak wêlas asíh, wicaksÃ¥nÃ¥ ing sabên laku, rumÃ¥ngsÃ¥ dosÃ¥ samÃ¥ngsÃ¥ gawé kapitunané liyan.

    7.  (P) Nadyan wêsi iku kanyatané atós, éwa sêmono yèn wís kêtrajang ing taiyèng yÃ¥ bakal êntèk gripís. Sêmono ugÃ¥ tumrapíng wóng kang kataman rÃ¥sÃ¥ mèri, atiné mbÃ¥kÃ¥ sêthithík ugÃ¥ bakal gripís, awít rumangsa yèn awaké tansah apês, saénggÃ¥ kélangan grêgêt lan lumúh makaryÃ¥. Wusanané pêpês atiné kêntèkan pêngarêp-arêp.

    8.  (P) Yèn sirÃ¥ sacÃ¥rÃ¥ badaniyah lan rohaniyah têtêp kêpingín bagas kuwarasan, tansah élingÃ¥ róng prakÃ¥rÃ¥ iki : (a). Tansah jaganên sakèhíng samubarang kang nêdyÃ¥ sirÃ¥ lêbókaké ing tutúk, dithinthíng luwíh dhisík Ã¥pÃ¥ bakal gawé rusakíng rÃ¥gÃ¥ Ã¥pÃ¥ ora. (b). KulinaknÃ¥ mikír luwih dhisík samubarang kang arêp sirÃ¥ wêtókaké sÃ¥kÃ¥ tutúk. Liré pikirên luwíh dhisík klawan matêng Ã¥pÃ¥ kang bakal sirÃ¥ wêtókaké iku ora malah gawé kucêmíng awakmu dhéwé, glarani atiníng liyan Ã¥pÃ¥ ora. Déné yèn ora Ã¥nÃ¥ paédahé luwíh bêcík Ã¥jÃ¥ kók kojah amríh ora nandhang piduwúng.

    9.  (P) DigêndhóngÃ¥nÃ¥ dikuncènÃ¥nÃ¥ kÃ¥yÃ¥ ngÃ¥pÃ¥, nangíng wóng iku yèn wís tinakdír têkan janjiné utÃ¥wÃ¥ ajalé, mÃ¥ngsÃ¥ bakal wurungÃ¥. Iki manèh pélíng kita, yèn kita manungsÃ¥ mono ing atasé badan lan umuré dhéwé ora kuwÃ¥sÃ¥. Ã…pÃ¥ manèh síng múng wujúd barang sampiran kÃ¥yÃ¥déné drajad sêmat lan pangkat, kaluhuran, kasugihan, lan kalungguhan. Mula sÃ¥kÃ¥ iku Ã¥jÃ¥ kibír, jubriya lan Ã¥jÃ¥ sók dumèh. Awít isíh Ã¥nÃ¥ panguwÃ¥sÃ¥ liyÃ¥ (Gústi Allah) kang luwíh kuwÃ¥sÃ¥.

    10.                    (P) Ngombé lan mêmangan yèn tanpÃ¥ takêr lan tanpÃ¥ pilíh-pilíh iku pancèn bisÃ¥ nêkakaké bilahi. Mula nyandhêt ubalíng kêpinginan ngombé lan mêmangan kang kÃ¥yÃ¥ mêngkono mau wís atêgês sawijiníng pamarsudi nyêgah karusakaníng jiwÃ¥ lan rÃ¥gÃ¥. Wóndéné sranané kang prayogÃ¥ yaiku pÃ¥sÃ¥ síng mêngku ancas pupúr sadurungé bênjút nyingkiri sadurungé bilahi.

    11.                    (P) Kamulyan lan kanikmataning uríp wóng-wóng kang sugíh dituku mÃ¥wÃ¥ tangising rakyat kang mlarat.

    12.                    (P) Kang kinaran janmÃ¥ kang wís kadunúngan cíptÃ¥ kang wêníng iku, yÃ¥iku sÃ¥pÃ¥ kang wís têmên-têmên mantêp pangidhêpé marang Gústi Kang Múrbèng Dumadi. Wóng kang kÃ¥yÃ¥ mangkono mau samÃ¥ngsÃ¥ nindakaké pakarti Ã¥pÃ¥ tÃ¥ Ã¥pÃ¥ tansah linambaran ati kang sarwÃ¥ têpa tulús, kabèh-kabèh amúng akarÃ¥nÃ¥ Allah. Ora cilík ati, gêdhéné ngrÃ¥sÃ¥ owèt ing kalané wóhíng panggawéné mitunani awaké dhéwé, nangíng bisÃ¥ gawé raharjané sêsamaníng dumadi. Kósókbaliné wóng kang nindakaké pangibadah nangíng isih ndarbèni pêpinginan supÃ¥yÃ¥ diwêruhana lan digawókana déníng Allah, iku pratÃ¥ndhÃ¥ yèn pangidhêpé lan pangibadahé durúng akarÃ¥nÃ¥ Allah.

    13.                    (P) PambudidayanirÃ¥ manêmbah marang Pangéran iku prayogané Ã¥jÃ¥ sirÃ¥ anggo sarÃ¥nÃ¥ ngalab tumuruníng pêparingé, nangíng mligiya nindakaké panêmbah múng sÃ¥kÃ¥ niyat manêmbah. Awít wóng kang nyênyadhóng sihíng Pangéran sarÃ¥nÃ¥ laku panêmbah kathík banjúr nyÃ¥tÃ¥ kalêksanan panyuwuné, ing adat wóng mau banjúr dadi kêthúl kawaspadané marang kaluhuran lan kêagungané Kang Múrbèng Dumadi. Aran isíh bêgjÃ¥ yèn ora banjúr dadi wóng jubriyÃ¥ sênêng nyêpèlèkaké marang sêsamaníng dumadi.

    14.                    (P) Ã…nÃ¥ sawènèhíng wóng kang duwé pênganggap mênawa nyênyuwún sihíng Allah iku ora Ã¥nÃ¥ gawéné. Awít Gústi Allah iku adíl lan MÃ¥hÃ¥ Wuninga saénggÃ¥ ora bakal pêparíng marang wóng kang ora pantês nampa ganjaran, nangíng wóng mau sajak lali yèn Gústi Allah mono Maha Wêlas lan Maha Asíh. UgÃ¥ ana sawènèhíng wóng kang ora prêcÃ¥yÃ¥ marang anané Gústi Allah, prêsasat ugÃ¥ ora prêcaya marang anané dhéwé, déné nganti awaké lair Ã¥nÃ¥ ing donya. Nangíng yèn wóng mau nandhang rêribêd lan nalaré wís pantóg, adaté tuwúh osikíng atiné yèn Pangéran iku Ã¥nÃ¥ malah banjúr disêsuwuni.

    15.                    (P) Wóng kang kulina ngéníngaké cíptané kang rêsík ing wayah ésúk, lawas-lawas banjúr bisÃ¥ ngêningaké cíptané ing wayah bêngi ugÃ¥, lan sangsÃ¥yÃ¥ lawas manèh bisa ngêningaké cíptÃ¥ ing wayah Ã¥pÃ¥ baé lan ing ngêndiya baé. Nangíng sabarang pratingkah iku bisÃ¥ dadi pakulinan manÃ¥wÃ¥ katindakaké kanthi ajêg, sarÃ¥nÃ¥ panglantíh kang tumêmên lan ora bosên. Klawan mangkono sabarang kang mauné rinÃ¥sÃ¥ rêkÃ¥sÃ¥ lan abót, bakal sírnÃ¥. Mangkono ugÃ¥ Ã¥nÃ¥ bédané yèn kita kêpingín nanêm wiji kautaman, iya kudu kita gladhi tanpÃ¥ bosên.

    16.                    (P) Yèn pinuju wayah bêngi langité têrang banjúr tumêngåå ing tawang, kita bakal nyipati sapérangané gêlaríng alam, abyóríng langít kang sumilak sinêbaran lintang-lintang patíng krêlip, gêdhé cilík kÃ¥yÃ¥ wís sêngadi tinÃ¥tÃ¥ panggónané, angin sumilír ngobahaké kêkayónan lan gêgódhóngan kang ngandhút arumíng gandané kêkêmbangan. Síng kÃ¥yÃ¥ mangkono sayêkti bisa nuwúhaké rÃ¥sÃ¥ pangrÃ¥sÃ¥ têntrêm ing ati kitÃ¥. Nangíng luwíh sÃ¥kÃ¥ iku, Ã¥pÃ¥ síng kÃ¥yÃ¥ mangkono mau ora ngosikaké kita tumrap kaluhuraníng Kang MÃ¥hÃ¥ Agúng kang wús mranÃ¥tÃ¥ sakabèhíng mau?

    17.                    (P) Tumrapíng wóng múrsíd yèn pinuju kambah ing prihatin, nolah-nolèh ngiwÃ¥ nêngên wís ora Ã¥nÃ¥ pitulungan manèh kang bisÃ¥ diarêp-arêp têkané. Parandéné ora bakal kóncadan ing pangarêp-arêp. Awít wís mangêrti mênÃ¥wÃ¥ tambané prihatín kang ampúh iku ora liyÃ¥ kêjÃ¥bÃ¥: sabar. Sabar lan tawakal nyênyuwún kanthi têmên-têmêníng ati marang kamurahaníng Kang MÃ¥hÃ¥ KuwÃ¥sÃ¥ kang ngrêgêm sakabèhíng mobah-mosikíng jagad saisiné.

    18.                    (P) Ala-alaníng kêlakuwané wóng ora kÃ¥yÃ¥ kang sinúng watak "SÃ¥pÃ¥ sirÃ¥ sÃ¥pÃ¥ ingsún". MargÃ¥ sèndhènan kaluwihané, êmbúh kêkuwasaané, êmbúh karósan, sênêng tumindak sawênang-wênang marang kalahané kang wís titÃ¥ ora bakal kumawani mancahi gêdhéné nganti wani mbandakalani kêkarêpané. Wóng kang nduwèni sêsipatan kÃ¥yÃ¥ mangkono mau prayogÃ¥ énggal ngélinganÃ¥ mênÃ¥wÃ¥ laku jantraníng jagad mono wís kinodrat cÃ¥krÃ¥ manggilingan; síng wingi Ã¥nÃ¥ ngisór déné sésúk gilír gumanti bakal ngêrèhaké.

    19.                    (P) Sabên dinÃ¥ kitÃ¥ ajêg rêrêsík badan lan pênganggo, kajÃ¥bÃ¥ amríh bagas kuwarasan ugÃ¥ katón apík lan ngrêsêpaké. Iki pakulinan kang apík. nangíng luwíh prayoga manèh yèn jroníng ati banjúr katuwuhan osík : Ã¥pÃ¥ sabên dinÃ¥ kita ugÃ¥ rêrêsík lan ngupakara batín lan jiwÃ¥ kita amríh sangsÃ¥yÃ¥ apík lan sangsÃ¥yÃ¥ rêsík sÃ¥kÃ¥ sakèhíng rêrêgêd sÃ¥kÃ¥ anané cacad-cacad lan panggodhÃ¥. Sêbab yèn badan wadhag kang kênÃ¥ ing rusak iku kita gêmaténi, généyÃ¥ jiwÃ¥ kitÃ¥ kang asipat langgêng malah kita lírwakaké pangupakarané?

    20.                    (P) Suméndhé ing takdir iku dudu sipaté wóng kang sênêng ulah luhuríng kêbatinan, nangíng dadi wataké wóng kang lumúh tumandang gawé lan cupêt nalaré. Luhuríng kêbatinan kudu tansah jumbúh lan laras karo ajuníng kawrúh lair. Liré, kêbatinan kang luhúr iyÃ¥ kudu bisÃ¥ ngujudi pakarti kang luhúr ugÃ¥, kang bisÃ¥ njunjúng lan mulyakaké drajadíng nusÃ¥ lan bangsané.

    21.                    (P) SÃ¥kÃ¥ kayungyúníng manungsÃ¥ marang bÃ¥ndhÃ¥, sêmat lan drajad anggóné migunakaké nganti kêrêp nglírwakaké kautaman, nglalèkaké jêjêríng kamangnungsan. Uripé prasasat kaêsók kabèh Ã¥nÃ¥ ing kono. Ora ngélingi kêpriyé wusananíng dumadi. Ing jagad pancèn ora Ã¥nÃ¥ wêwalêr wóng nglumpúkaké bÃ¥ndhÃ¥ rÃ¥jÃ¥brÃ¥nÃ¥, janji pikolèhé manút dalan kang bênêr lan dipigunakaké minÃ¥ngkÃ¥ prabót prênataníng jagad.

    22.                    (P) Uríp tanpÃ¥ gêgayuhan luhúr, bêbasané kÃ¥yÃ¥ lêlawuhan tanpÃ¥ uyah, sêpÃ¥ tan mirÃ¥sÃ¥. Gêgayuhan bisané kasêmbadan kudu sinartan ngèlmu, jalaran ngèlmu mono pancèn sanguné ngauríp, wóndéné ngèlmu iku tinêmu ing laku lan tandang. Sakèhíng tandang ora bêcík kêlakóné yèn ora mapan. Liré, bisowÃ¥ tansah ngélingi marang jantraníng kahanan. Wóng kang tandang tandúké mapan, angèl kêpèpèté, jalaran yèn mapan mêsthi cêpak waspadané. Déné waspÃ¥dÃ¥ mono sirikané mÃ¥lÃ¥ lan adóh sÃ¥kÃ¥ bêbêndhu.

    23.                    (P) Sakabèhíng tumindak iku panimbangé manút kawusanané. Mula muríh bisané sampúrna, sabarang kang bakal dilakóni lan ditindakaké iku luwíh dhisík thinthingÃ¥nÃ¥ lan pilah-pilahna Ã¥lÃ¥ bêciké kanthi wêningé nalar/pikír. Yèn wís, tumindaké kanthi dugÃ¥ lan prayogÃ¥, sartÃ¥ mÃ¥wÃ¥ têpÃ¥ tulÃ¥dhÃ¥. Liré, sabarang patrap mau upamaknÃ¥ tumrap awaké dhéwé, ilangnÃ¥ pangirÃ¥-irÃ¥ tumrap awaké liyan kang durúng disumurupi. ÉlingÃ¥, sÃ¥pÃ¥ kang arêp mbêcíkaké alam donya iku, kudu mbêcíkaké awaké dhéwé luwíh dhisík.

    24.                    (P) Ciri-ciriné jiwa kang isih kóthóng mono bisÃ¥ dititík sÃ¥kÃ¥ ulat praupan, tutúr wicara, lan tingkah lakuné kang ora naté gêlêm kalah. Sabarang tindak-tandúké kêpingín unggúl lan mamèraké kaluwihané, ora anggèr kaluwihan bisÃ¥ kanggo ngadhêpi bêbÃ¥yÃ¥ lan ngêntas sÃ¥kÃ¥ papan cintrÃ¥kÃ¥. Kaluwihan kang tanpÃ¥ dilandhêsi kautaman, kênÃ¥ diumpamakaké kayadéné wêdhak pupúr síng nèmpèl ing njaban kulít baé, ora bisÃ¥ tahan suwé lan gampang luntúr margÃ¥ sÃ¥kÃ¥ pakartiné dhéwé, awít nêrak dhasar-dhasar bêbênêr lan kasucian.

    25.                    (P) Sabên tumindak sêjangkah ngilowÃ¥ marang kinclóng-kinclóngé banyu samudrÃ¥ síng suthík kanggónan sangkrah, jalaran sakèhé uwúh mêsthi disingkíraké minggír. Sabên makaryÃ¥ sapêcak, tuladhanên pakartiné banyu tritisan, nadyan tumètès mbÃ¥kÃ¥ satètès, ditindakaké kanthi ajêg kêcónggah mbólóngaké watu síng atósé ngluwihi wÃ¥jÃ¥.

    26.                    (P) SÃ¥pÃ¥ kang bisa nêlukaké mungsúh-mungsúhé, dhèwèké diarani kuwat. Anangíng sÃ¥pÃ¥ kang bisa nêlukaké awaké dhéwé, iya dhèwèké iku kang luwíh kuwat manèh.

    27.                    (P) SamÃ¥ngsÃ¥ lagi ngadhêpi uríp rêkÃ¥sÃ¥ prayogané adhêpana klawan èsêm gumuyu. Awít iku wus wujúd sênjÃ¥tÃ¥ kang bisa gawé ènthèngíng sanggan lan bakal numusi muluríng pikír. Nanging yèn pênandhangmu mau tansah kók adhêpi kanthi ulat kang suntrút adhakané kowé bakal kêntèkan pikír kang wêníng, wusanané dadi nékat nuruti pokal kang nêrak bêbênêr.

    28.                    (P) SÃ¥pÃ¥ kang nganggêp Ã¥pÃ¥ baé gampang, mêsthi bakal nêmu akéh rubédÃ¥. SÃ¥pÃ¥ kang gampang janji, iya kuwi kang arang nêtêpi.

    29.                    (P) Uríp têgêsé mbudidÃ¥yÃ¥ ngêtóg tênÃ¥gÃ¥ (bêrjuwang). Uríp níkmat tanpÃ¥ angín prahÃ¥rÃ¥ pÃ¥dhÃ¥ karo sêgÃ¥rÃ¥ kang mati. Aku luwíh sênêng ditêndhang, dilawan déníng nasíb, tinimbang diugúng.

    30.                    (P) Laku jujúr kuwi pÃ¥dhÃ¥ karo dhuwit kang bisÃ¥ laku ing ngêndi baé.

    31.                    (P) Kang bêcík lan Ã¥lÃ¥, kabèh mêsthi nÃ¥mpÃ¥ pikolèh, sênajantÃ¥ kadhang-kadhang nampané cêpêt, kadhang-kadhang alón.

    32.                    (P) Wóng kang kinaranan bêrbudi iku, yÃ¥kuwi wóng síng rumÃ¥ngsÃ¥ tambah kasíksa yèn nyumurupi sapêpadhané nandhang pÃ¥pÃ¥ lan kasangsaran. Runtúhé rÃ¥sÃ¥ wêlasé adaté banjúr sinusúl sarÃ¥nÃ¥ cucúlé prabéyÃ¥ lan barang darbèké. Nangíng pancèn angèl gólèk-gólèkané wóng síng kÃ¥yÃ¥ mangkono iku. Buktiné ora sêthithík wóng síng mati mêrgÃ¥ kêwarêgên, apamanèh wóng síng mati amargÃ¥ kalirên.

    33.                    (P) ManungsÃ¥ kuwi dadiné bêcík miwiti sÃ¥kÃ¥ njêro mênjÃ¥bÃ¥.

    34.                    (P) Kang waspÃ¥dÃ¥ marang awakmu dhéwé jalaran iyÃ¥ awakmu dhéwé kuwi kang mujúdaké mungsúhmu kang palíng gêdhé.

    35.                    (P) ManungsÃ¥ kang múng ngélingi marang pakartiné pancadriyané mono bakal tansah kasinungan rÃ¥sÃ¥ dhêmên utÃ¥wÃ¥ sêngsêm. SÃ¥kÃ¥ RÃ¥sÃ¥ Dhêmên banjúr kathukúlan rÃ¥sÃ¥ mélík, sÃ¥kÃ¥ rÃ¥sÃ¥ mélík munggah dadi nafsu, sÃ¥kÃ¥ nafsu banjúr nasar pakartiné lan sírnÃ¥ bêbudèné síng wêkasané tumiba ing pÃ¥pÃ¥, nandhang kasangsaran.

    36.                    (P) Wóng juwèh, kawruhé tumèmpèl ing lambé, kumrêcêk ngêbaki ing pasamuwan, katút samirÃ¥nÃ¥ mrÃ¥nÃ¥-mréné. BédÃ¥ karo wóng mênêng, kawruhé sumimpên Ã¥nÃ¥ ing ati wêníng. Wêtuné ora sarÃ¥nÃ¥ lambé, nangíng katampanan ing pucukíng pèn, mili ambèr ing kêrtas putíh, rinasakaké ing wóng sajagad.

    37.                    (P) Amríh uríp kita tansah nêmóni rahayu, Ã¥jÃ¥ kêndhat nggêgulang nandúr cíptÃ¥ utÃ¥mÃ¥ sajroníng ati sanubari kita sinartan panyuwunan kang manthêng marang Gústi Kang MÃ¥hÃ¥ Wêlas lan MÃ¥hÃ¥ Asíh, mugÃ¥ pinaringan nugrÃ¥hÃ¥ bisÃ¥ ndarbèni ati kang wêníng lan jiwÃ¥ kang utÃ¥mÃ¥. Pancèn ora gampang wóng ngudi bisané kasinungan cíptÃ¥ utÃ¥mÃ¥ ngélingi mênÃ¥wÃ¥ manungsÃ¥ mono mulÃ¥ wís kêsêrênan sipat apês lan lali. Sók ngonowÃ¥ yèn tÃ¥ sawisé nandhang apês lan lali banjúr gumrégah manèh pangudiné Ã¥pÃ¥ déné ora kêndhat ing panglantihé mantêpÃ¥ ing kêyakinan yèn Gústi Allah ora bakal ora ngudanêni panyuwún kitÃ¥.

    38.                    (P) Kawrúh lan "Ilmu pêngêtahuan" iku múng bisÃ¥ digayúh lan dikuwasani kanthi laku kang laras karo Ã¥pÃ¥ kang diwulangaké. Liré, ajaran téoriné kudu bisÃ¥ dicakaké lan ditrapkaké kanggo karahayóníng bêbrayan. Wóndéné lakuné mono kudu sinartan tékad kang gilíg lan kêkarêpan kang tulús lan mantêp kinanthènan katêguhaníng iman, kanggo ngadhêpi sakèhíng panggodhÃ¥ sartÃ¥ nyingkiri sikêp laku kang sarwÃ¥ dudu.

    39.                    (P) Banyu iku bisaníng bêníng yèn wís mênêp. Sanadyan mauné buthêk, nangíng yèn wís mênêp, iyÃ¥ banjúr bêníng. Sêmono ugÃ¥ tumrap pêpinginan utÃ¥wÃ¥ gêgayuhan yèn diudi nganti katóg lan mênêp ing têmbé ugÃ¥ bakal kasinungan sifat bêníng. Liré, nadyan pêpinginan lan panggayu bisa kalêksanan klawan tumuli, éwÃ¥ sêmono yèn ditlatèni suwéning suwé ugÃ¥ bakal kasêmbadan.

    40.                    (P) Yèn kêpingín nglungguhi pangkat kang dhuwúr luwíh prayogÃ¥ yèn dikawiti sÃ¥kÃ¥ kalungguhan kang êndhèk dhéwé. Awít klawan mêngkono ing têmbé kowé ora bakal gampang disêpèlèkaké déníng bawahanmu. Lan kang utÃ¥mÃ¥ yaiku kowé nuli bisÃ¥ madêg dadi pêmimpín kang bisÃ¥ nglungguhi ing kawicaksanan, adóh sÃ¥kÃ¥ watak dêgsurÃ¥, anané múng sarwÃ¥ kêbak rÃ¥sÃ¥ têpÃ¥ salirÃ¥.

    41.                    (P) Ginubêl déníng rÃ¥sÃ¥ "Tansah kurang marêm" marang asilíng pakaryan utawa jêjibahan kang diayahi, saugêr ora ngÃ¥ngsÃ¥-Ã¥ngsÃ¥, sayêkti malah dadi pamêcút kang bêcík kanggo luwíh maju. Nangíng yèn rÃ¥sÃ¥ tansah kurang marêm mau ngênani wuwuhíng donyÃ¥-brÃ¥nÃ¥, ora bédÃ¥ kÃ¥yÃ¥déné rêridhu síng èsthiné múng tansah rinÃ¥sÃ¥ kayadéné pasiksané ngauríp.

    42.                    (P) ÉlingÃ¥, mbésúk yèn wís tumêkaning janjiné ora kênÃ¥ ora, badan wadhag lan sabarang kalír kang kita darbèni iki bakal kita tinggalaké kabèh, ora Ã¥nÃ¥ kang kitÃ¥ gÃ¥wÃ¥ mênyang alam kalanggêngan. Mula Ã¥jÃ¥ bangêt nggónira katrêm marang kadonyan. Ã…pÃ¥ manèh, sÃ¥pÃ¥ kang tansah ngêgúl-êgúlaké marang donyÃ¥ branané lan gandrúng marang pêpinginan kang ora langgêng, èsthiné ora bakal bisa nêmókaké kahanan kang bisÃ¥ gawé langgêngíng kasênêngan lan katêntrêmaníng ati.

    43.                    (P) Batiné wóng kang bisa ndarbèni ati nriman iku tansah ayêm lan têntrêm, margÃ¥ satingkah laku tansah linambaran kêyakinan kang kandêl marang kadar pêparingé Pangéran. Nriman ora têgês wis marêm Ã¥pÃ¥ anané, nangíng suwaliké kêpÃ¥rÃ¥ malah sungkan mênêng. Múng baé ora grusa-grusu kÃ¥yÃ¥ tumindaké wóng kang nduwèni sipat ngÃ¥ngsÃ¥-Ã¥ngsÃ¥ kÃ¥yÃ¥ ora gêlêm ngakóni karang anané pandúm.

    44.                    (P) Abót-abóting cobÃ¥ tumraping ngauríp iku malah ora kÃ¥yÃ¥ wóng kang lagi kêbyukan sihíng Gústi Allah. Yèn lulús sÃ¥kÃ¥ pandadaran bisÃ¥ dadi manungsÃ¥ kang kajÃ¥bÃ¥ gêdhé síh kadarmané ugÃ¥ wicaksÃ¥nÃ¥ laír batiné. Nangíng yèn tÃ¥ ora têgúh imané, wóng kang lagi kabómbóng ing donyÃ¥ artÃ¥ lan kêladúk rumÃ¥ngsÃ¥ sarwÃ¥ kuwagang mbêndúng sêgÃ¥rÃ¥ njugrúgaké gunúng mau istingarah bakal kóncatan kawaspadané. KêjÃ¥bÃ¥ lali marang sangkan parané ugÃ¥ lali yèn sakèhíng drajat lan sêmat dalasan têkan nyawané dhéwé pisan iku múng lugu barang titipan kang sawayah-wayah bisa dipundhút bali déníng Kang Kagungan.

    45.                    (P) AmbudidÃ¥yåå ing bÃ¥ndhÃ¥ manút sakatógíng tênÃ¥gÃ¥ nangíng Ã¥jÃ¥ lali kinanthènan tékad lan sêdya yèn sapérangan bakal kita tanjakaké kanggo nindakaké pangibadah. Élinga yèn pati iku lawangíng akhérat, déné laku ngibadah iku kang bisÃ¥ dadi sarÃ¥nÃ¥ nggampangaké manungsÃ¥ tumêkané marang ing lawang mau kanthi rÃ¥sÃ¥ pangrÃ¥sÃ¥ tobat lan sumarah. Suwaliké, jiwÃ¥ rÃ¥gÃ¥ kang ora kanggo tobat nalangsa ing Gústi Allah iku ora bédÃ¥ kÃ¥yÃ¥ anggané bÃ¥ndhÃ¥ kang ora dijakati lan ora ditanjakaké kanggo pênggawé kabêcikan.

    46.                    (P) Yèn sirÃ¥ pinuju nandhang bagas kuwarasan, élinga yèn nalika kênÃ¥ ing lÃ¥rÃ¥, supríh sirÃ¥ têtêp bagas kuwarasan kanthi sêsirík prakÃ¥rÃ¥-prakÃ¥rÃ¥ kang mbiyèn nyêbabaké lÃ¥rÃ¥. Yèn ing nalikÃ¥ sugíh, élingÃ¥ yèn kêna ing pêkír, lêkas síng kÃ¥yÃ¥ mêngkono mau kanggo ngawékani amríh sira ora gampang kadunungan pikiran sênêng pamèr lan sêsóngaran. KawruhÃ¥nÃ¥, iku kêpÃ¥rÃ¥ nudúhaké pratÃ¥ndhÃ¥ yèn dhèwèké iku sêjatiné wóng kang tunÃ¥ ing rÃ¥sÃ¥ wêlas asíh lan miskín ing kawrúh.

    47.                    (P) KitÃ¥ manungsÃ¥ iki ora kênÃ¥ tansah ngantu-antu têkané wêktu kang bêcík, jêr wêktu kang bêcík iku sêjatiné kudu kitÃ¥ dhéwé sing gawé. KitÃ¥ kudu tansah élíng yèn sabarang tingkah lan tandúk kitÃ¥ ing dinÃ¥ kang siji iku nggÃ¥wÃ¥ kêputusan tumrap dinÃ¥ sijiné. Déné dinÃ¥ kang pungkasan iku kang mutúsaké sakabèhíng wêktu lan dinÃ¥-dinÃ¥ kang wis kapungkúr. MulÃ¥ sadurungé kitÃ¥ tumapak marang dinÃ¥ pungkasaning uríp, dipÃ¥dhÃ¥ bisÃ¥ nglungguhi marang jêjêríng uríp manungsÃ¥.

    48.                    (P) Wóng nandhang lÃ¥rÃ¥ mono akèh síng mêrgÃ¥ anggóné ngombé lan mêmangan kliwat takêr lan tanpÃ¥ pilíh-pilíh. MulÃ¥ kanggo nyandhêt ubalíng hÃ¥wÃ¥ marang bab sakaroné mau, dibisÃ¥ marsudi nyudÃ¥ nuruti kêcaping lidhah sarÃ¥nÃ¥ nglakoni pÃ¥sÃ¥ kang mêngku ancas nyingkiri sadurungé katamaning bilahi.

    49.                    (P) Wóng kang lagi kasinungan kabêgjan lan kamúlyan iku dibisÃ¥ marsudi amríh langgêng, Ã¥jÃ¥ banjúr kalimpút watak jubriyÃ¥ lan sêmbrana sing sisíp sêmbiré bisÃ¥ kêjlungúp tibÃ¥ ing kasangsaran. Yèn wís mangkono múng rÃ¥sÃ¥ gêtún lan piduwúng sing kari ing pamburiné.

    50.                    (P) HÃ¥wÃ¥ napsu lan watak angkÃ¥rÃ¥ iku sawutuhé manjíng ing dhiri pribadiné dhéwé-dhéwé. Yèn diumbar ngrêbdÃ¥ bakal gawé "BêncÃ¥nÃ¥ lan kasangsaran". Suwaliké yèn bab mau bisÃ¥ dikêndhalèni bakal njílmÃ¥ dadi watak "Sabar lan prasÃ¥jÃ¥", tulús éklas awèh pangapurÃ¥ marang sapÃ¥dhÃ¥-pÃ¥dhÃ¥ síng gawé kaluputan.

    51.                    (P) Tapaning ati iku múng têmên, yèn tapaning nyÃ¥wÃ¥ múng élíng. Síng sÃ¥pÃ¥ bisa élíng sêdinÃ¥ sêpisan baé, adaté barang kang sinêdyÃ¥ bakal Ã¥nÃ¥. Síng sÃ¥pÃ¥ têmên salawasé, kabèh pangajabé bakal kêcandhak. Déné kang aran sêjatiníng katêmênan iku sakabèhíng pakarti kang ditindakaké klawan madêp mantêp tanpÃ¥ mandhêg-mangu lan tolah-tolèh, saénggÃ¥ sabarang kêkarêpané bakal ginayúh.

    52.                    (P) Wóng iku yèn lagi nandhang lÃ¥rÃ¥ lagi bisÃ¥ ngrasakaké sêpirÃ¥ munggúh bêgjané wóng kang kanugrahan awak kang tansah kuwarasan. Nangíng suwaliké, wóng síng awaké sêgêr waras lumrahé lali rêkasané wóng lÃ¥rÃ¥. SangsÃ¥yÃ¥ adóh kélingané, sangsÃ¥yÃ¥ cêdhak anggóné ngumbar hÃ¥wÃ¥ nuruti pêpinginané mripat, ilat, lan têlíh (wadhúk, wêtêng) kang sêjatiné ngajak marang rusakíng rÃ¥gÃ¥. MulÃ¥ prayogané tansah élinga pêrihíng lÃ¥rÃ¥ kanthi nggêmatèni kanikmatan kang wís diparingaké déníng Gústi Allah tan kêna kinayangÃ¥pÃ¥ ajiné, yaiku wujúd awak kang bagas kuwarasan.

    53.                    (P) ManungsÃ¥ pinaringan déníng Pangéran péranganíng awak kang kalarasaké karo gumêlaríng bêbrayan. Pinaringan mripat loro, pêrluné supÃ¥yÃ¥ akèhÃ¥ kang didêlêng, yÃ¥ kang ngênani ubêr ingêring alam, Ã¥lÃ¥ bêcikíng kahanan, lan owah gingsiríng jaman. Liré, supÃ¥yÃ¥ linarasna kanthi lantipíng panggraitÃ¥. Pinaringan kupíng loro, murih akèhÃ¥ swÃ¥rÃ¥ kang dirungókaké, nuli kathinthingana lan kasaringa kanthi lungidíng panyiptÃ¥ lan alapên kang awèh pakolèh. Pinaringan tangan loro, sikíl loro, supÃ¥yÃ¥ akèhé kang ditandhangi, pilihên kang murakabi kanggo bêbrayan agúng.

    54.                    (P) Pancèn ora Ã¥nÃ¥ wêwalêr ing jagad iki tumrapíng wóng kang nglumpúkaké donya brÃ¥nÃ¥. nangíng kitÃ¥ kudu tansah élíng yèn donyÃ¥ brÃ¥nÃ¥ mono dudu panggónané kalanggêngan. Nabi Muhammad wús paríng sabdÃ¥: "Ora prayogÃ¥ ninggalaké kadonyan margÃ¥ nglakóni akhérat. Nangíng jênêng wóng kang nisthÃ¥ sÃ¥pÃ¥ kang ninggalaké bab akhérat margÃ¥ múng golèk donyÃ¥ brÃ¥nÃ¥ tanpÃ¥ waspÃ¥dÃ¥ marang pungkasaníng dumadi."

    55.                    (P) Brangating ati sabisÃ¥-bisÃ¥ kêndhalènÃ¥nÃ¥, Ã¥jÃ¥ diububi nganti muntab dadi ubalíng nêpsu. KÃ¥yÃ¥déné nyirêp gêni sarÃ¥nÃ¥ lêngÃ¥. Napsu amarah mono isíh têtêp bakal tansah mbêbêdhag sêlawasé yèn tÃ¥ ora kinanthènan pikiran kang mênêp, lan ati kang élíng. Élingé ati lan mênêpíng pikír bakal numusi muluré budi kang tundhóné bisÃ¥ dadi panyirêp sakèhing pakartiníng sétan.

    56.                    (P) Wóng kang ringkíh iman lan batiné bakal gampang dadi jujugané dúrjÃ¥nÃ¥ apús-apús kang patíng sliwêr golèk mangsan. Pirang-pirang kèhé wóng kasêlak pêrcÃ¥yÃ¥ rêmbúg pangimíng-imíng ora pinikír bakal kêdadéyané ing têmbé. Wusanané nandhang kapitunan lan kênÃ¥ ing apús. Mula ditansah waspÃ¥dÃ¥, Ã¥jÃ¥ lirwÃ¥ ing kaprayitnan.

    57.                    (P) SamÃ¥ngsÃ¥-mÃ¥ngsÃ¥ thukúl plêtikíng pikír kang kasarung déníng ubalíng nafsu Ã¥lÃ¥, yogyané sumênêpnÃ¥ sauntÃ¥rÃ¥. Yèn bisÃ¥ kÃ¥yÃ¥ mangkono karan wóng wicaksana, jalaran kêjaba bisÃ¥ nglêrêmaké ati kanthi mênêpíng pikirmu ugÃ¥ bakal kêcónggah nyirêp ubalíng nafsumu mau. WusÃ¥nÃ¥ rahayu kang tinêmu mêrgÃ¥ bisÃ¥ sumingkír sÃ¥kÃ¥ mêmÃ¥lÃ¥ kang têkÃ¥ arêp ngrêridhu awakmu.

    58.                    (P) Wóng kang sêngsÃ¥rÃ¥ uripé jalaran Ã¥nÃ¥ róng warnÃ¥. Kapisan sÃ¥kÃ¥ kaluputané dhéwé, kang kapindho mêrgÃ¥ sÃ¥kÃ¥ pokalé dhéwé. Síng kapisan iku paribasané tanêm tuwúh kang tansah kodanan lan kêpanasan ora diopèni, déné síng kang kapindho paribasané tanêm tuwúh kang tansah diapèk asilé nganti ora kobêr thukúl gódhóngé.

    59.                    (P) Yèn sirÃ¥ uríp ing alam donya iki rumÃ¥ngsÃ¥ nampÃ¥ pandúm kêsêthithikên iku wís dadi pêpêsthèné urípmu, ora pêrlu mbók murinani. Pamurinamu prayogÃ¥ lipurên sarÃ¥nÃ¥ mawas lêlabuhanmu dhéwé, jêr lêlabuhan ing alam donya mono dadi trajuníng akèh sêthithiké pandúmmu.

     

    VIII. Memayu Hayuning Budi Lan Tekad:

    1.  (P) Yèn gêlêm nalusuri sêjatiné ora sêthithík piwulang lan pitutúr bêcík kang malah kitÃ¥ tampÃ¥ sÃ¥kÃ¥ wong-wong gawané nacad lan ora dhêmên marang kitÃ¥, katimbang mitrÃ¥ katrúh rakêt kang tansah ngalêmbÃ¥nÃ¥. Awít panacad bisa nggugah kita nglêmpêngaké laku, déné pangalêmbÃ¥nÃ¥ kêpÃ¥rÃ¥ bisÃ¥ nyêbabaké wong kêrêp dadi lali.

    2.  (P) ManÃ¥wÃ¥ kowé durúng mangêrtèni marang bab kang kok anggêp ora bêcík, Ã¥jÃ¥ kêsusu ngatonaké rÃ¥sÃ¥ sêngítmu, gêdhéné nganti maoni lan nglairaké panacad. Awít kawruhana yèn pikirané manungsÃ¥ iku tansah mobah-mosík lan molak-malík. Ã…pÃ¥ kang kok kirÃ¥ Ã¥lÃ¥ lan kok gêthingi iku ing têmbé mburi bisÃ¥ malíh kok sênêngi, kêpÃ¥rÃ¥ malah bisÃ¥ dadi gantungané urípmu.

    3.  (P) Karêpé wong nyatúr alaníng liyan iku bêtèké múng arêp nudúhaké bêciké awaké dhéwé. Yèn síng diajak nyatúr wong kêmplo, pamríh síng kÃ¥yÃ¥ mangkono mêsthi katêkané. Nangíng tumrapíng wong múrsíd: "Wong kang ngumbah rêrêgêd ing awaké sarÃ¥nÃ¥ migunakaké banyu pêcêrèn malah sÃ¥yÃ¥ nudúhaké blêntongé pambêgané".

    4.  (P) Têmbúng kang prayoga kang kêlair múng margÃ¥ kadêrêng déníng dayaníng hÃ¥wÃ¥ napsu iku pancèn sakÃ¥lÃ¥ iku bisÃ¥ awèh rÃ¥sÃ¥ pêmarêm. Nangíng sawisé iku bakal awèh rÃ¥sÃ¥ gêtún lan panutúh marang dhiri pribadiné dhéwé kang satêmah tansah bisa ngrubédÃ¥ marang katêntrêmaníng pikír lan ati. Gunêman sêthithík nagíng mêmikír akèh iku kang tumrapé manungsÃ¥ bisa awèh katêntrêman lan krÃ¥sÃ¥ marêm kang gêdhé dhéwé.

    5.  (P) Siji-sijiníng dalan amríh kalêksananíng gêgayuhan, yÃ¥iku makarti kang sinartan kêpêrcayaan lan kêyakinan mênÃ¥wÃ¥ Ã¥pÃ¥ kang sinêdya mêsthi dadi. Yèn kita múng kandhêg ing gagasan lan kukuhíng karêp baé, tanpÃ¥ tumandang lan makaryÃ¥ minangkÃ¥ srÃ¥nÃ¥ panêbusé, wohé yÃ¥ ora bédÃ¥ kÃ¥yÃ¥ déné ing pangimpèn. Cilakané manèh, yèn sêlaginé nganggít-anggít mau wís kasêlak ngrasakaké kanikmatané ing pangangên-angên, wusanané dadi lumúh ing gawé lan wêdi ing kakéwúh (wêdi kangèlan).

    6.  (P) Ora bédÃ¥ karo rob lan surudíng sêgÃ¥rÃ¥, kahanan uripíng manungsÃ¥ iku ugÃ¥ ora bisÃ¥ uwal sÃ¥kÃ¥ bungah lan susah. Kang pêrlu dicilêngi ing kéné yÃ¥iku Ã¥jÃ¥ kasêlak kêbacút kêrêm kalimpút ing kabungahan lan Ã¥jÃ¥ kasêlak gampang anglês yèn lagi kapinujon apês. Awít kasusahan iku sok malah bisa ngêntas kitÃ¥ sÃ¥kÃ¥ kaluputan lan kabodhowan, saugêr insyap marang dhiriné lan ora mupús, Ã¥pÃ¥déné tansah pêrcÃ¥yÃ¥ marang Kang Kagungan Panguwaos.

    7.  (P) Mênangi jaman rêbutan rÃ¥jÃ¥brÃ¥nÃ¥, akèh wong kang pÃ¥dhÃ¥ kalimpút, mèlu-mèlu tumindhak nisthÃ¥. Ora élíng yèn sêjatiníng uríp ing donyÃ¥ iku ora ngupÃ¥yÃ¥ rÃ¥jÃ¥brÃ¥nÃ¥ baé, nangíng ugÃ¥ mangèsthi kamúlyan ing têmbé. Uríp ing satêngahíng godhÃ¥ rêncÃ¥nÃ¥, nangíng têtêp tumindak utÃ¥mÃ¥, prêsasat tÃ¥pÃ¥ ing satêngahíng cobÃ¥. SÃ¥pÃ¥ kang santosa ora bakal tumindak sasar. Mula tansah ngugêmana sêbutíng pitutúr : "SabêgjÃ¥-bêgjané kang lali nganti kèlu pênggawé sasar, isíh bêgjÃ¥ kang panggah élíng lan waspÃ¥dÃ¥ têtêp ing panggawé utÃ¥mÃ¥".

    8.  (P) Yèn sirÃ¥ kasinungan ngèlmu kang marakaké akèh wong sênêng, Ã¥jÃ¥ sirÃ¥ malah rumÃ¥ngsÃ¥ pintêr, jalaran mênawa Gústi Allah mundhút bali ngèlmu kang marakaké sirÃ¥ kalokÃ¥ mau, sira banjúr kÃ¥yÃ¥ wong séjé (owah), malah bisa "Aji godhong jati akíng".

    9.  (P) SÃ¥pÃ¥ kang katrêm mêrgÃ¥ lagi pinaringan kêkuwasaan iku sêjatiné malah dadi sumbêríng dunungíng wong lali, gampang lirwÃ¥ ing kaprayitnan, lan gampang kapilulu ing pakarti dudu. Awit yèn lagi kuwÃ¥sÃ¥, adhakané banjúr ngÃ¥ngsÃ¥-Ã¥ngsÃ¥ kêgêdhèn panjÃ¥ngkÃ¥. Kanggo nggayúh panjangkané, sakèhíng cÃ¥rÃ¥ ditêmpúh. Ora maèlu sênadyan nganti mêntÃ¥lÃ¥ gawé sangsarané mitrÃ¥ karúh. satêmah múng dadi lêlêthêg kang luwíh aji uwúh.

    10.                    (P) Ilat kuwi sawijiníng pêdhang kang landhêp, kang bisa matèni sênajan tanpÃ¥ ngêtokaké gêtíh.

    11.                    (P) Ora Ã¥nÃ¥ critané wóng kêjungkél iku margÃ¥ kêsandhúng watu gêdhé, síng mêsthi mêrgÃ¥ kêsandhúng watu síng cilík. Yèn tatuwÃ¥ yÃ¥ margÃ¥ sÃ¥kÃ¥ watu krikíl-krikíl síng lancíp-lancíp. Bab mau awèh pitudúh supÃ¥yÃ¥ kitÃ¥ Ã¥jÃ¥ nyêpèlèkaké marang barang síng katóné sêpélé ora mingsrÃ¥, nagíng sêjatiné kêpÃ¥rÃ¥ malah gampang dadi dhadhakané wóng njungkêl njêmpalík tibÃ¥ ing pÃ¥pÃ¥.

    12.                    (P) Wóng sugíh síng lumúh kélangan bandhané nadyan kanggo kêpêrluwané dhéwé iku ora liya sababé margÃ¥ tansah kuwatír yèn dhèwèké tibÃ¥ ing kêmlaratan. Nangíng ora ngêrtiya yèn dhèwèké ing wêktu iku sêjatiné wis pÃ¥dhÃ¥ karo wóng mlarat. Uripé kêpÃ¥rÃ¥ luwíh sangsÃ¥rÃ¥ katimbang wóng kêsrakat, kang batiné tansah ora narimakaké marang adilíng Kang Múrbèng Dumadi.

    13.                    (P) Dêrêng nêdyÃ¥ pamèr utawa riyÃ¥ iku têrkadhang munculé dadakan kÃ¥yÃ¥-kÃ¥yÃ¥ tanpÃ¥ rinÃ¥sÃ¥ ing nalikÃ¥ kitÃ¥ pinuju sêsrawungan karo wóng liyÃ¥. MulÃ¥ prayogÃ¥ kita tansah waspÃ¥dÃ¥ ngêndhalèni dhiri. Déné kang kinaran dêrêng utÃ¥wÃ¥ nafsu sênêng pamèr kang gampang dinêlêng lan sinêksèn déníng wóng liyÃ¥ iku aran riyÃ¥ kang pratélÃ¥ (cêthÃ¥), utÃ¥wÃ¥ ngêdhêng. Bêcík kitÃ¥ singkiri. Wóndéné dêrêng sajróníng laku panêmbah, arang kang disumurupi wóng liya. Luwíh-luwíh yèn lagi kapinuju Ã¥nÃ¥ ing papan kang sêpi. Sók ngonowa élinga, yèn Gústi Allah iku tansah ngudanèni.

    14.                    (P) Kabèh salakuné (tumindaké) wóng bodho iku ésthiné nggawé híkmah lan piwulang bêcík tumrapíng wóng kang ahli budi. Awít sÃ¥kÃ¥ samubarang kang ora bêcík kang dilakoni wóng bodho déníng pÃ¥rÃ¥ ahli budi banjúr kari ngêmóhi lan dadi pandóming uríp kang pêrlu disiriki lan disingkiri. Suwaliké wóng bodho sungkan nyuplík lêlakón bêcík kang dialami pÃ¥rÃ¥ ahli budi. MulÃ¥ ora jênêng aèng yèn akèh pÃ¥rÃ¥ bodho síng uripé têtêp kasurang - surang lan pÃ¥rÃ¥ ahli budi kang tansah rahayu ing uripé.

    15.                    (P) Ã…jÃ¥ sók rumangsa tinitah apês nganti gawé pêpêsíng sêmangatmu. Malah prayogÃ¥ dinarimÃ¥ marang Ã¥pÃ¥ kang wis sirÃ¥ tampÃ¥ sÃ¥kÃ¥ kanugrahaning Gústi Kang Maha KuwÃ¥sÃ¥. Awít ngélingÃ¥nÃ¥ mênÃ¥wÃ¥ ora kurang-kurang titah kang luwih cingkrang lan luwíh cacad tinimbang sirÃ¥, suprandéné dhèwèké babar pisan ora kawêtu nutúh marang Gústi Allah. Kang mangkono mau ora liyÃ¥ margÃ¥ sÃ¥kÃ¥ kandêlé imané lan yakín marang kêadilaníng Pangéran Kang MÃ¥hÃ¥ KuwÃ¥sÃ¥ marang sakabèhíng lêlakón kang dumadi ing jagad raya iki.

    16.                    (P) NgalêmbÃ¥nÃ¥ lan panacad iku pÃ¥dhÃ¥ baé panindaké. Liré, tarikané napas pÃ¥dhÃ¥, kêdalíng ilat pÃ¥dhÃ¥ lan obahíng lambé yÃ¥ pÃ¥dhÃ¥. Sók ngonowa najan rêkasané utÃ¥wÃ¥ gampangé pÃ¥dhÃ¥, nangíng olèh-olèhané utÃ¥wÃ¥ wóhé síng ora pÃ¥dhÃ¥. Ing ngadat kêjÃ¥bÃ¥ sók adóh sungsaté, ugÃ¥ malah sêríng kósók balèn. Sing siji bisÃ¥ ngrakêtaké pasêduluran sijiné pÃ¥dhÃ¥ baé karo golèk dadakan nandúr rÃ¥sÃ¥ mêmungsuhan.

    17.                    (P) Ã…jÃ¥ ndarbèni pêpinginan dadi wóng kang linuwíh kang ngandhut idham-idhaman supÃ¥yÃ¥ sarêmbúgé diandêlÃ¥ wóng akèh. Luwíh prayogÃ¥ tansah njÃ¥gÃ¥ baé barang rêmbúgira kanthi bêcík, patitís lan maédahi. Karo manèh tindak tandúk kang ngrêsêpaké, luwíh-luwíh kang bisa awèh paédah marang wóng liyÃ¥ iku ajiné ngungkuli sakèhíng pitutur kang ndhakík-ndhakík nangíng kang durúng kabuktèn Ã¥nÃ¥ ing panindak. MulÃ¥ kuwi tansah udinên amríh wêtuníng rêmbúg "Kêplók lumah kurêpé" karo tindakirÃ¥.

    18.                    (P) Kang kinaran manungsÃ¥ winasís yÃ¥iku wóng kang wís kaconggah mbênêraké tindak kang mlèncèng. Déné asór-asóring budiné manungsÃ¥ iku ora kÃ¥yÃ¥ wóng kang mlèncèngaké tindak kang wús bênêr. Adaté sipat kÃ¥yÃ¥ mangkéné iki thukúl margÃ¥ kasurúng déníng ati drêngki srèi. KamÃ¥ngkÃ¥ sÃ¥pÃ¥ kang ngadani ati drêngki lan panastèn iyÃ¥ ing wêktu iku dhèwèké wiwít nyiksÃ¥ ing awaké dhéwé, lan uripé ora bakal bisa têntrêm.

    19.                    (P) Samangsané kowé diclatu wóng kanthi sêngak Ã¥jÃ¥ kók walês sanalika kanthi têmbúng (rêmbúg) kang sêngak lan atós. PrayogÃ¥ tanggapana mÃ¥wÃ¥ pakarti kang alús lan sarèh. Jêr, yÃ¥ klawan laku kang kÃ¥yÃ¥ mangkono iku, kowé bisa ngêndhakaké watakkang panasbaran, lan bisa ngasóraké sipat kang lagi kasinungan iblís.

    20.                    (P) Ing ngêndi dunungé pamarêm lan katêntrêman? Sakíng ungêlé mapanaké rÃ¥sÃ¥, nganti mèh ora Ã¥nÃ¥ wóng rumÃ¥ngsÃ¥ marêm lan têntrêm uripé. Sabanjuré banjúr kêpiyé? IyÃ¥ kudu tlatèn ngolah budi. Dóh Ã¥nÃ¥ rÃ¥sÃ¥ mèri lan drêngki amríh gorèhing pikír bisa tansah sumingkír.

    21.                    (P) TêpÃ¥ slirÃ¥ lan mawas dhiri iku dadi óbóríng laku nggayúh rahayu, minÃ¥ngkÃ¥ jimat paripíh tumraping ngauríp. Munggahé bisÃ¥ nyêdhakaké rÃ¥sÃ¥ asih lan ngêdóhaké watak drêngki lan dak-wênang marang sapêpadhané. Srêgêp mawas dhiri atêgês bakal wêrúh marang kêkurangan lan cacadé dhéwé, saénggÃ¥ wusanané thukúl grêgêd ndandani murih apiké.

    22.                    (P) Kita iki kêjÃ¥bÃ¥ ndarbèni badan wadhag lan pancadriya, Ã¥nÃ¥ siji êngkas darbèk kitÃ¥ kang ora kênÃ¥ ginrayang lan ora kasat mÃ¥tÃ¥, nangíng ajiné tan kênÃ¥ kinÃ¥yÃ¥ ngÃ¥pÃ¥, yÃ¥iku osikíng ati kang ajêg ngélikaké kita marang lurusing laku samÃ¥ngsÃ¥ kita kêtaman plêtikíng cípta Ã¥lÃ¥, munggahé katuwúhan krêntêg nindakaké laku ngiwÃ¥. MulÃ¥ pomÃ¥-pomÃ¥, tansah bisowÃ¥ ngrungókaké osikíng atimu, awít iku kang ngajak sapari-polahmu tumuju mênyang karahayóning urípmu.

    23.                    (P) Nggayúh kaluhuran mono atêgês ngupÃ¥yÃ¥ tataraníng uríp kang luwíh dhuwúr. YÃ¥ dhuwúr ing bab lahiré, ugÃ¥ ing batiné. Liré, síng murakabi kanggo dhiri pribadiné, sumrambahé tumrap bêbrayan agúng. SÃ¥pÃ¥ kang múng mligi nggayúh kaluhuraning lahír baé, atêgês múng mburu drajat, sêmat lan pangkat. Durúng aran jêjêg uripé. Suprandéné sÃ¥pÃ¥ kang múng ngêmúngaké kaluhuraníng batín, atêgês ora nuhóni jêjêríng manungsÃ¥ ing alam donya, yaiku tumandang ing gawé.

    24.                    (P) Akèh wóng kang sadurungé nyobÃ¥ ngayahi pagawéyan wís dipantók dhisík sarÃ¥nÃ¥ têmbúng "Ah, aku ora bisÃ¥". Dayaning têmbúng "Ora bisÃ¥" satêmah numusi ora bisÃ¥ têmênan. Awít êntèk-êntèkané pocap mangkono iku atêgês ngapêsaké awaké dhéwé. Luwíh déné manéh banjúr lumúh ing pambudi. Samubarang kang diudi ora bakal dadi. Kang ora diluru tangèh bisané kêtêmu. MulÃ¥ pêrcÃ¥yåå marang dhiri pribadi. Cíptanên kanthi manthêng ing ati lan énggal makartiyÃ¥. Kêkuwataning manungsÃ¥ iku dumunúng sajroníng cíptÃ¥, saugêr sinartanan pamarsudi klawan têmên-têmên. Dayaníng ciptÃ¥ cêtha bakal nêkakaké sêdyÃ¥.

    25.                    (P) Aja sók nggrêsulÃ¥!, Wruhana yèn pangrêsulÃ¥ iku sawijiníng mÃ¥lÃ¥, déné panggrêsah mono agawé bubrah. Yèn wís nggrêsah padatané banjúr lali marang kêwajibané kang kudu diayahi sartÃ¥ kêmba marang sadhêngah pakaryan. Síng sÃ¥pÃ¥ ésúk-ésúk wís sambat ngaru-Ã¥rÃ¥ ing bab ngrêkasané anggóné uríp, wóng mau prêsasat mbutóni sumbêríng pangupÃ¥-jiwané dhéwé. Ora trimÃ¥ marang pandúm pêparingé Pangéran Kang Múrbèng Dumadi.

    26.                    (P) Yèn kowé kêpingín mulyÃ¥ urípmu, lakónan Ã¥pÃ¥ kang kók gagas-gagas rikalané kowé nandhang sêngsÃ¥rÃ¥ utÃ¥wÃ¥ lÃ¥rÃ¥. Awít ing mÃ¥ngsÃ¥-mÃ¥ngsÃ¥ kÃ¥yÃ¥ mangkono mau manungsÃ¥ banjúr kêtuwuhan budiné kang murni, yÃ¥iku watak kang sarwÃ¥ kêbak wêlas-asíh lan ngêrti sêpirÃ¥ pêrluné wóng kang tansah ambudi amríh Ã¥jÃ¥ nganti nêmóni kacingkrangan.

    27.                    (P) Wóng kang wís kinaran "suksès" iku, yaiku : wóng kang wís ngêtóg kadibdyané, ngudidÃ¥yÃ¥ nganti kêcandhak gêgayuhan lan idham-idhamané laras karo kêpinginané. Têkané "suksès" durúng atêgês tamatíng critÃ¥, nanging malah kudu tansah luwíh waspÃ¥dÃ¥, prayítnÃ¥ lan ngati-ati. Jalaran adhakané wóng síng wís "suksès" iku banjúr kurang kaprayítnané, sêmbrÃ¥nÃ¥ lan gumampang ing sabarang tumindaké, kang lupút sêmbiré bisÃ¥ klênggak. MulÃ¥ sawijiníng "suksès" iku anggêpan kayadéné sawijiníng pandadaran kanggo lêstariníng pênggayúh bêcík.

    28.                    (P) Sabên wóng mono pancèn nduwèni nafsu. Awít tanpÃ¥ nafsu wóng ora bakal duwé krêkat kêpéngín maju. Múng baé wóng kudu bisÃ¥ milah-milahaké nafsu êndi síng kudu dicandhêt, lan nafsu síng kêpriyé síng kudu diunggar. Nafsu kang bakal nêkakaké bilahi tumraping awaké dhéwé lan wóng liyÃ¥ kudu bisÃ¥ dicandhét, déné nafsu kang pêrlu diunggar yÃ¥iku nafsu kang êmpané tumuju marang karahayóníng sapÃ¥dhÃ¥-pÃ¥dhÃ¥.

    29.                    (P) Hukúm alam wís nêtêpaké, sÃ¥pÃ¥ kang nandúr mêsthi ngundhúh. Déné Ã¥pÃ¥ kang diundhúh iya manut wijiné kang ditandúr. Yèn síng ditandúr winíh alang-alang, ing têmbé iya Ã¥jÃ¥ ngarêp-arêp yèn bisa bakal panèn pari, iku gênah nyalahi kodrat. MulÃ¥ mumpúng isíh ésúk, nandura wiji cíptÃ¥ lan pênggawé kang bêcík-bêcík. Awít élingÃ¥nÃ¥, yèn akèh sêthithík anak putu kita ugÃ¥ bakal katut mèlu ngrasakaké paít gêtiré wóng kang bibité ditandúr déníng wóng tuwané.

    30.                    (P) SÃ¥pÃ¥ síng duwé panjÃ¥ngkÃ¥ kudu wani jumangkah, jêr katêkaníng sêdyÃ¥ iku múng bisÃ¥ maujúd mênÃ¥wÃ¥ dilakóni lan ora nyimpang sÃ¥kÃ¥ katékadané. Karêp lan sêdyÃ¥, jÃ¥ngkÃ¥ lan panuwún, iku saumpama wóng lêlungan mono tumuju papan kang arêp diparani utÃ¥wÃ¥ dijujúg. Déné kêkarêpan iku kudu Ã¥nÃ¥ kanthiné, yÃ¥iku nalar utÃ¥wÃ¥ pêcahíng nalar. Jalaran kêkarêpan kang tanpÃ¥ nalar iku ora bédÃ¥ karo karêpé bocah cilík. KêjÃ¥bÃ¥ tanpÃ¥ têgês, ugÃ¥ sók tanpÃ¥ wasÃ¥nÃ¥, satêmah ora Ã¥nÃ¥ dadiné.

    31.                    (P) Sêbab-sêbab kang gawé cilikíng ati lan cêklèkíng sêmangat iku adhakané dumunúng ing gêgambarané pikiran kang sarwÃ¥ nguwatiraké marang lêlakón kang durúng kêlakón, têmahané pikiran dadi pêtêng, lumúh ihtiyar lan kóncadan grêgêtíng makaryÃ¥. Katimbang nyumêlangaké barang kang durúng bisÃ¥ ginrayang rak luwih bêcík Ã¥jÃ¥ pêgat ing ihtiyar kanthi nênuwún marang sihíng Kang Múrbèng Kuwasa, jêr iyÃ¥ múng Panjênêngané kang múrbawasésÃ¥ uríp kitÃ¥ iki. Klawan mangkono istingarah kowé ora bakal ngédhap ngadhêpi sakèhíng lêlakón.

    32.                    (P) Kêrêp nggrêsah lan ngrêsulÃ¥ iku nudúhaké karingkihané tékad. sênajan dingrêsulanan sêdinÃ¥ píng pitulikúr, ora bisÃ¥ owah nasibé. Nggrêsah lan ngrêsulÃ¥ iku pÃ¥dhÃ¥ karo sambat. Wóng sambat iku kênÃ¥ baé, nangíng yèn isíh kêdugÃ¥ Ã¥jÃ¥ dhêmên sambat. NgrêsulÃ¥ bisÃ¥ dadi mÃ¥lÃ¥, panggrêsah bisÃ¥ gawé bubrah, déné pisambat iku dalané wóng kang sênêng mlarat, jalaran sakèhíng gêgayuhan kang disangkani sarÃ¥nÃ¥ sambat mono adaté múng gayúk-gayúk tunÃ¥, Ã¥pÃ¥ kang digayúh tanpÃ¥ Ã¥nÃ¥ kabúl wusanané.

    33.                    (P) Dhasar prêmati tumraping wóng duwé tékad lan duwé gêgayuhan yaiku tékad budi santosÃ¥. Sarana ndulu kÃ¥cÃ¥mÃ¥tÃ¥ bênggÃ¥lÃ¥ kang kitÃ¥ alami sabên dinÃ¥, têtêg kawêgigané pikír baé ora mujúdaké gaman pamungkas tumrap kasêmbadaníng sêdyÃ¥. MulÃ¥ yèn múng ngêndêlaké marang punjúlíng nalar lan móncèríng kawrúh baé, tanpÃ¥ mêngkóni ing budi santosÃ¥, atiné gampang miyar-miyur, gampang kasinungan ing watak sêsóngaran síng adhakané síng uwís-uwís banjúr kacênthók pÃ¥ncÃ¥bÃ¥yÃ¥, ubayané banjúr mbalénjani.

    34.                    (P) Ora Ã¥nÃ¥ tindak kang luwíh déníng mbêbayani lan ndrawasi marang awaké dhéwé, kêjÃ¥bÃ¥ nindakaké pégawéyan kanthi srêmpêng síng juntrúngé múng ngoyak dêrêngé panguwÃ¥sÃ¥, drajad lan bÃ¥ndhÃ¥. Pakarti mangkono adaté ora mêmpan marang pitutúr bêcík lan panêmuné liyan kang wigati, anané múng rÃ¥sÃ¥ mélík kang nggéndhóng lali.

    35.                    (P) Siji-sijiníng margÃ¥ amríh kalêksanané gêgayuhan iku yÃ¥ kudu sarÃ¥nÃ¥ makarti. Yèn kitÃ¥ múng kandhêg marang ngunggar-unggar karêp lan nganggít-anggít gagasan baé, tibaníng ênggón múng kÃ¥yÃ¥ ing pangimpèn. Luwíh-luwíh mênÃ¥wÃ¥ salaginé nggagas-nggagas mau kasêlak kêsusu ngrasakaké kanikmatané pêngangên-angên, wusÃ¥nÃ¥ tumús dadi lumúh ing gawé lan wêdi ing pakéwúh.

    36.                    (P) Ngakóni kaluputan iku ora atêgês ngasóraké dhiri. Nangíng sawijiníng tÃ¥ndhÃ¥ yêkti yèn wóng mau wís bisÃ¥ kinaranan maju satindak ing laku kautaman. Kósókbaliné sÃ¥pÃ¥ kang suthík ngrumangsani kaluputané, atêgês wóng kang ora nduwèni budi pêkêrti. Wóng kang ora nduwèni donyÃ¥ brÃ¥nÃ¥ iku sinêbut mlarat. Wóng kang ora nduwèni pikiran iku luwíh mlarat. Déné wóng síng ora kadunungan budi pêkêrti mono klêbu mlarat-mlaraté wóng.

    37.                    (P) Kang kók kandhakaké putíh iku durúng karuwan putihíng (suciníng) ati, bisÃ¥ ugÃ¥ múng wujúd putihíng pupúr síng kandêl warÃ¥tÃ¥. Lan síng kók kandhakaké abang iku durúng tinamtu abangíng (kêkêndêlaníng) bêbênêr nangíng bisÃ¥ ugÃ¥ múng abangé lambé kang kêcónggah njlómpróngaké marang jurang kang jêro. Déné síng kók kandhakaké rêsík, iku durúng mêsthi rêsikíng ati, nanging adaté múng wujúd rêsikíng sandhangan rinênggÃ¥ ing sotyÃ¥ abyór kang bisÃ¥ mblêrêngaké mripat.

    38.                    (P) Ngunggar wêtuníng kêkêndêlan síng múng kadêrêng sÃ¥kÃ¥ dayaníng pangójók-ójók iku kêrêp ora murni. Tandang lan trajangé kang akèh banjúr múng kabróngót panasbaran. Wusanané malah sók bakal nunjang palang, bêbathéné kósók balèn karo kang sinêdyÃ¥. MulÃ¥ minÃ¥ngkÃ¥ gêgóndhèlané kapitayan, kêkêndêlan iku prayoga kadhasarana rÃ¥sÃ¥ sumungkêm marang Kang Múrbèng Dumadi, niyat lêladi marang sapêpadhané titah. Yèn wís mangkono sakèhíng cak-cakané pakarti mêsthi tansah patitís lan mikolèhi.

    39.                    (P) Têtêpíng rÃ¥sÃ¥ kamanungsan iku ora margÃ¥ sÃ¥kÃ¥ kawrúh lan kapíntêran kang wís dianggêp luwíh luhúr ing salumahé bumi, nangíng múng jalar sÃ¥kÃ¥ kadunungan têlêsíng rÃ¥sÃ¥ asíh marang sapêpadhaning tumitah. Déné rÃ¥sÃ¥ Ã¥síh mau ciniptÃ¥ sÃ¥kÃ¥ patrap anggóné rêksÃ¥-rumêksÃ¥ lan sugíh ing pangapurÃ¥ sartÃ¥ tansah kinanthênan pangucap lan pasêmón síng bisa gawé rêsêp lan ora natóni atiníng liyan. KawruhÃ¥nÃ¥, mênÃ¥wÃ¥ kapintêran kang ora kinanthènan kautaman iku sêjatiné luwíh mbêbayani tumrapíng bêbrayan katimbang karo bodho kang linambaran ing budi rahayu.

    40.                    (P) NglêngkÃ¥rÃ¥ wóng bisÃ¥ luwar babar pisan sÃ¥kÃ¥ panggodhÃ¥. Sêbab, sumbêré panggodhÃ¥ iku ora liyÃ¥ iyÃ¥ múng sÃ¥kÃ¥ awaké dhéwé. Sing sÃ¥pÃ¥ múng nyingkiri panggodha kang kasat mÃ¥tÃ¥ baé, ora dibêdhól têkan óyód-óyódé, adhakané bakal kêtaman pakéwúh lan godhÃ¥ kang luwíh gêdhé manèh. Sók ngonowÃ¥ yèn wóng tlatèn lan sarèh, kanthi kêncêngíng tékad kang gilíg, mêsthi bakal bisa mêntas sÃ¥kÃ¥ rêridhu. Ã…jÃ¥ múng mandhêg ing panggrantês, nutúh awaké dhéwé, Ã¥pÃ¥ manèh yèn nganti nguman-uman marang wóng liyÃ¥.

    41.                    (P) Yèn ing donyÃ¥ iki manungsané síng sugíh uripé ora mbêthithil, kêpÃ¥rÃ¥ malah dhêmên têtulúng marang kang kêcingkrangan, déné sing duwé kêpintéran adóh sÃ¥kÃ¥ karêp kanggo mintêri liyan, kêpÃ¥rÃ¥ malah dadi papan jujugané wóng têtakón, gênah kahanané donyÃ¥ bakal ayêm têntrêm, adóh sÃ¥kÃ¥ rêridhu lan kalís sÃ¥kÃ¥ godha rêncÃ¥nÃ¥.

    42.                    (P) Wóng kang lagi karêjêkèn Ã¥jÃ¥ kadúk anggóné bungah, kósókbaliné Ã¥jÃ¥ kadúk nêlÃ¥ngsÃ¥ samangsané nêmahi rêribêd lan nandhang susah, gêdhéné nganti nggêtuni barang kang wís kêlakón. Awít kadúk bungah mau bakal ngilangi kaprayítnan, kadúk susah njalari ati tansah kêmbÃ¥, lan tangèh lamún bisa uwal yèn ora dibudèni sarÃ¥nÃ¥ tumandang makaryÃ¥.

    43.                    (P) Yèn darbé karêp lakónana kanthi gêmblèngíng tékad kang nyawiji, adhêpÃ¥nÃ¥ sarÃ¥nÃ¥ makarti kang madhêp lan mantêp. Sanguné kudu ati síng tatag, ora ngêdhap nadyan mangêrti yèn dalan kang diambah kêbak parang curi. Yèn tansah rongèh lan rangu-rangu, atêgês múng wani ing gampang, wêdi ing pakéwúh, samubarang kang sinêdyÃ¥ ora bakal ginayúh.

    44.                    (P) ManungsÃ¥ iku bisa kinaranan uríp yèn isíh duwé karêp lan pangarêp-arêp.Nangíng yèn karêp mau múng kandhêg ing pangangên-angên lan gagasan baé, ora bédÃ¥ manungsa kang mati sajroné uríp. Kósókbaliné yèn anggóné nandangi karêpé mau kasêlak kêsusu nikmati pikolèhé kang durúng klakón, gênah anggóné makarti múng anggêr baé. KêpÃ¥rÃ¥ bakal mundúr yèn ngadhêpi pakéwúh, satêmah dadi wóng lumúh.

    45.                    (P) Wóng kang kêbak déníng pêpinginan iku adaté banjúr ngÃ¥ngsÃ¥-Ã¥ngsÃ¥, mulÃ¥ lakuné ugÃ¥ banjúr miyar-miyur. Kêpêngkók gawé sêthithík baé síng digêdhèkaké pangrêsulané, tundhóné atiné gampang pêpês lan nglokro. BédÃ¥ karo wóng kang wicaksana uripé mêsthi mÃ¥wÃ¥ tékad lan tujuwan. Bêbasan tiba kapíng pitu gumrêgah tangi kapíng wólu ngrungkêbi tékad lan tujuwané.

    46.                    (P) Anggêr wóng wís mêsthi suthík diarani cupêt nalaré, cilík atèn, lan kêndho tékadé. Mulané yèn darbé karêp Ã¥jÃ¥ mundúr mêrgÃ¥ lupút sêpisan pindho baé, prayogÃ¥ ambalÃ¥nÃ¥ manèh nganti katêkaníng sêdyÃ¥. Samubarang pêgawéyan mênÃ¥wÃ¥ kók têmêni wiwít saiki mêsthi bakal bisa ngundhúh bagéyan lan kauntungan. Ã…pÃ¥ kang kók sêdyÃ¥ bakal tumêkÃ¥, pituwasé lagi kêtêmu mburi.

    47.                    (P) Sarupané pakaryan kang wís kók yakini bêcikíng asilé tumuli énggala katindakna, Ã¥jÃ¥ ngêntèni liyÃ¥ wêktu. Jêr kêkêncêngan sartÃ¥ kêkarêpan iku yèn diêndhé-êndhé ora mundhak kuwaté. Nangíng malah mundhak ringkíh lan bisÃ¥ ugÃ¥ ilang dayané. Sipat sênêng ngêndhé-êndhé iku mujúdaké dalan kang anjóg marang watak ora antêpan lan kêsèd, sungkan ing gawé síng tundhóné dadi tanpÃ¥ aji uríp ing bêbrayan.

    48.                    (P) Wóng kang sinêbút bêrbudi uríp ing bêbrayan iku ora múng wóng kang rumÃ¥ngsÃ¥ kasíksÃ¥ nyumurupi sapêpadhané síng nandhang pÃ¥pÃ¥, nangíng wóng kang gampang runtúh wêlasé kang tinumbalan runtuhíng barang darbèké lan dêduwèné kanggo têtulúng marang wóng síng kacingkrangan lan kasangsaran. Nangíng kang kÃ¥yÃ¥ ngono mau pancèn angèl golèk-golèkané. TÃ¥ndhÃ¥ yêktiné ing alam donyÃ¥ iki ora sêthithík wóng síng mati margÃ¥ kuwarêgên, lan akèh wóng síng mati marga kalirên.

    49.                    (P) Wóng mono Ã¥jÃ¥ múng tumandang anggêr barès nangíng kanthi laku kang ora bèrès. DibisÃ¥ tansah milah-milahaké êndi síng kêncêng lan êndi síng nalisír sÃ¥kÃ¥ paugêran, sartÃ¥ kulinakna nyirík marang pênggawé musyrík, sinúng marang watak tulús lan ngukuhi kajujuran. Kawruhana, mênÃ¥wÃ¥ ora Ã¥nÃ¥ pusÃ¥kÃ¥ kang ampuhé ngluwihi kajujuraning ati lan wêningíng pikír kang sêpi ing pamríh. Pamrihé múng sawiji, yÃ¥iku mangan karahayóning bêbrayan, ngluhúraké kamulyaning bangsa lan nagara.

    50.                    (P) PangrÃ¥sÃ¥, pikiran lan kêkarêpan iku tansah mbudidaya rêbut unggúl lan rêbút panguwÃ¥sÃ¥ anggóné murbÃ¥ sapari polahé manungsÃ¥. PangrÃ¥sÃ¥ êmóh diungkuli pikiran. Pikiran sêmono ugÃ¥ suwaliké. Wóndéné kang móncól dhéwé sumêdyÃ¥ mbalap ora gêlêm dipêkak yaiku kêkarêpan. MulÃ¥ wajibíng manungsa kudu bisÃ¥ ngukuhi sifat manungsané. Dèn sranani kanthi nanjakaké uripé mèlu ngrasakaké lan mêmikír marang ombak umbulíng jaman. Tumandang ing gawé ngêsthi marang rahayuníng bêbrayan munggahé marang ajuníng jaman.

    51.                    (P) Sêlawasé uríp nglêngkÃ¥rÃ¥ wóng bisÃ¥ uwal babar pisan sÃ¥kÃ¥ panggodha, jêr panggodhÃ¥ iku sumbêré ora liya yÃ¥ sÃ¥kÃ¥ awaké dhéwé. Asalé tumuwúh sÃ¥kÃ¥ uwóhíng pikír kang ngayÃ¥wÃ¥rÃ¥, banjúr katarík marang kêkarêpan Ã¥lÃ¥ kang wusanané mbabaraké pakarti nisthÃ¥. SÃ¥pÃ¥ kang wiwitané énggal tumandang nanggulangi panggodhÃ¥, bakal mundhak kasampurnané lan patut sinêbút wóng kang santosÃ¥ ing budi. Balík kang sÃ¥pÃ¥ tansah ngujÃ¥ panggoda sêmÃ¥yÃ¥ nanggulangi, kêkuwatan batiné sÃ¥yÃ¥ lungkrah, bakalé bubrah dadi lêlêthêging jagad.

    52.                    (P) Wóng nandúr pari iku bakal ngundhúh pari, ora bakal ngundhúh jagúng utawa kacang. Sêmono ugÃ¥ pikiraníng manungsÃ¥, ora bédÃ¥ karo mau. Yèn pikiran kita tansah kitÃ¥ kulinakaké lan kitÃ¥ pigunakaké kang bêcík-bêcík yÃ¥ bakal nduwèni dÃ¥yÃ¥ kêkuwatan kang bêcík, satêmah bisÃ¥ awèh pakaryan kang pêngaji tumraping bêbrayan. MulÃ¥ katimbang nggagas kang ora-ora lan ngayawara, prayogané nggagasÃ¥ marang laku utÃ¥mÃ¥ lan múlyÃ¥. Lan luwíh utama manèh mênÃ¥wÃ¥ gagasan kang mangkono mau diwêdharaké dadi pakarti pisan.

    53.                    (P) RÃ¥sÃ¥ was sumêlang iku nêrakané wóng síng arêp nggayúh kêmajuan. SÃ¥pÃ¥ kang wís kêtaman rÃ¥sÃ¥ iki salawasé ora bakal bisÃ¥ maju. Ing sabarang tandang tanduké sarwÃ¥ tidhÃ¥-tidhÃ¥ lan tansah awang-awangên ngadhêpi kangèlan kang bakal mêmalangi laku. Kósókbaliné tékad iku rasa cíptaníng karsÃ¥ kang wís gêmblèng. adi yèn Ã¥nÃ¥ kêpénak lan orané bakal didhadhagi lan ditêrjang wani. ang pinandêng múng bakal têkaning sêdyÃ¥. Nangíng tékad mono bédÃ¥ bangét karo nékad, jêr nékad kuwi uwóhíng pakarti kang tuwúh sÃ¥kÃ¥ kajudhêganíng nalar síng tundhóné kêconggah tumindak nistha, mêrgÃ¥ kóncadan pêpadhang.

    54.                    (P) Abótíng abót iku ora kÃ¥yÃ¥ yèn kudu nuruti préntah lan pitutúr. Pait lan ngrêkÃ¥sÃ¥ dikÃ¥yÃ¥ ngÃ¥pÃ¥ préntah lan pitutúr iku prayogÃ¥ lakónÃ¥nÃ¥ baé. lng suwaliké barang pait mau, kowé mêsthi bakal nêmu barang lêgi síng ora klêbu ing pêtunganmu. Pancèn luwíh prayogÃ¥ paité dhisík, tinimbang lêginé. Awít bisané kowé ngrasakaké lêgi iku rak margÃ¥ kowé wís ngrasakaké pait. BisÃ¥ níkmati kabungahan margÃ¥ wís naté ngalami nandhang kasusahan.

    55.                    (P) Wóng kang múng dhêmên cêlathu lan muni-muni, mangkÃ¥ ora gêlêm tumandang gawé, gênah ora sumurúp marang kaluputané cêlatuné, sabab cêlathu mono múng obahíng ati kang Ã¥nÃ¥ ing lati, dudu obahing tangan síng kanggo tumandang. Nangíng yèn wís tumandang gawé dhéwé, cêthÃ¥ bakal mêruhi marang luputíng cêlathuné. MulÃ¥ saibÃ¥ bêgjané wóng kang bisÃ¥ cêlathu klawan énggal-énggal tumandang gawé dhéwé.

     

    IX. Memayu Hayuning Bebrayan:

    1.  (P) Síng sÃ¥pÃ¥ ngidham kaluhuran kudu wani kúrban lan ora wêgah ing kangèlan. MêrgÃ¥ yèn tansah tidhÃ¥-tidhÃ¥, mokal Ã¥pÃ¥ sing kagayúh bisa digÃ¥nthÃ¥ lan tangèh lamún Ã¥pÃ¥ síng diluru bisa kêtêmu. Makarti wani rêkÃ¥sÃ¥ kanthi masrahaké urip lan jiwÃ¥ rÃ¥gÃ¥ marang Kang Múrbèng KuwÃ¥sÃ¥. Yèn kêpingín mênang pancèn larang patukóné, yaiku kudu bisa nuhóni sêsanti: "SurÃ¥ dirÃ¥ jayaníngrat lêbúr déníng pangastuti".

    2.  (P) Isíh bêjÃ¥ yèn kowé diunèkaké "Ora Lumrah Uwóng", jalaran isíh dianggêp manungsÃ¥. YÃ¥ múng solah tingkahmu kang kudu kók owahi amríh ora gawé sêrikíng liyan. Cilakané yèn diunèkaké "Ora Lumrah ManungsÃ¥", jalaran kowé dianggêp sétan gêntayangan síng múng dadi lêlêthêging jagad margÃ¥ pakartimu kang ninggal sifat kamanungsan. Mula énggal-énggala sumujudÃ¥ marang Gusti Kang Múrbèng Dumadi. Sifaté Gústi Allah mono sarwÃ¥ wêlas asíh marang umaté kang wís sadhar marang dosÃ¥-dosané sartÃ¥ têmên-têmên bali tuhu marang dhawúh-dhawuhé.

    3.  (P) Ora Ã¥nÃ¥ pênggawé luwíh déníng múlya kêjÃ¥bÃ¥ dêdÃ¥nÃ¥ síng ugÃ¥ atêgês mbiyantu nyampêti kêkuranganing kabutuhané liyan. DêdÃ¥nÃ¥ marang sapêpÃ¥dhÃ¥ iku atêgês ugÃ¥ mitulungi awaké dhéwé nglêlantih marang rÃ¥sÃ¥ lilÃ¥ lêgÃ¥wÃ¥ kang ugÃ¥ atêgês angabêkti marang Pangéran Kang MÃ¥hÃ¥ Wikan. Pancèn pangabêkti mono wís aran pasrah, dadi kitÃ¥ ora ngajab marang baliné sumbangsih kang kitÃ¥ asúngaké. Kabèh iku síng kagungan múng Pangéran Kang MÃ¥hÃ¥ KuwÃ¥sÃ¥, kitÃ¥ ora wênang ngajab wóhíng pangabêkti kanggo kitÃ¥ dhéwé. Nindakaké kabêcikan kanthi dêdÃ¥nÃ¥ kita pancèn wajíb, nanging ngundhúh wóhíng kautaman kitÃ¥ ora wênang.

    4.  (P) Mêmitran pasêduluran nganti jêjodhowan kuwi yèn siji lan sijiné bisÃ¥ êmóng-kinêmóng, istingarah bisÃ¥ sêmpulúr bêcík. Yèn Ã¥nÃ¥ padudón sêpisan pindho iku wis aran lumrah, bisa nambahi rakêtíng sêsambungan. Nangíng suwaliké yèn pÃ¥dhÃ¥ angèl ngênggóni sifat êmóng-kinêmóng mau gênah lÃ¥ngkÃ¥ langgêngé, malah bédaníng panêmu sithík baé bisÃ¥ marakaké dhahuru.

    5.  (P) Wóng kang ora naté nandhang prihatin ora bakal kasinungan rÃ¥sÃ¥ pangrÃ¥sÃ¥ kang njalari têkané rÃ¥sÃ¥ trênyúh lan wêlas lahír batiné. Wóng kang wís naté kêtaman ing prihatin luwíh bisÃ¥ ngrasakaké pênandhangé wóng liya. MulÃ¥ adhakané luwíh gêlêm awèh pitulungan marang kang kasusahan.

    6.  (P) Sarupaníng wêwadi sing Ã¥lÃ¥ lan sing bêcík, yèn isíh kók gémból lan mbók kêkêt kanthi rêmít ing ati salawasé isih bakal têtêp dadi batúr. Nangíng yèn wís mbók kétókaké sathithík baé bakal dadi bêndaramu. Isíh lagi nyimpên wêwadiné dhéwé baé wís abót. Ã…pÃ¥ manèh yèn nganti pinracÃ¥yÃ¥ nggêgêm wêwadiné liyan. MulÃ¥ sÃ¥kÃ¥ iku Ã¥jÃ¥ sók dhêmên kêpingín mêruhi wêwadiné liyan. Síng wís cêthÃ¥ múng bakal nambahi sanggan síng sêjatiné dudu wajíbmu mèlu opèn-opèn.

    7.  (P) Sók sÃ¥påå bakal nduwèni rÃ¥sÃ¥ kúrmat marang wóng kang tansah katón bingar lan padhang polatané, nadyan tÃ¥ wóng mau nêmbé baé nandhang susah utÃ¥wÃ¥ nêmóni pêpalang ing panguripané. Kósókbaliné, wóng kang tansah katón suntrút kêrêp nggrundêl lan grênêngan mêrgÃ¥ ora katêkan sêdyané iku cêthÃ¥ bakal kóncatan kêkuwataníng batín lan tênagané, tangèh lamún éntukÃ¥ pitulungan, kêpÃ¥rÃ¥ malah dadi sêsirikaníng mitra karuhé.

    8.  (P) KitÃ¥ iki diparingi cangkêm siji lan kupíng loro déníng Kang MÃ¥hÃ¥ KuwÃ¥sÃ¥, liré mêngku karêp amríh kitÃ¥ iki kudu luwíh akèh ngrungókaké katimbang micÃ¥rÃ¥. Yêktiné wóng kang dhêmên ngumbar cangkêmé tinimbang kupingé iku adaté wicarané gabúg. Suwaliké síng akèh ngrungókaké, wicarané sêthithík nangíng patitís lan mêntês. Pantês dadi jujugané sadhêngah wóng kang mbutúhaké rêmbúg kang prayogÃ¥.

    9.  (P) Wóng kang tansah dhêmên ngupíng kêpingín wêrúh, Ã¥pÃ¥déné nyampuri pêrkarané liyan, gêdhéné nganti nrambul urún ucap, iku pÃ¥dhÃ¥ karo golèk-golèk mómótan kang sêjatiné ora prêlu, adhakané kêpÃ¥rÃ¥ malah ngrêridhu awaké dhéwé.

    10.                    (P) Ucap sakêcap kang kêlaír tanpÃ¥ pinikír kêrêp baé nuwúhaké drêdah lan bilahi. Mula wêtuné têmbúng satêmbúng sÃ¥kÃ¥ lésan iku prayogÃ¥ tan udinên aja nganti nggêpók prêkarané wóng liyÃ¥, gêdhéné nganti gawé sérikíng liyan. BisÃ¥ nyandhêt uculé pangucap kÃ¥yÃ¥ mangkono mau wís klêbu éwóníng pakarti kang utÃ¥mÃ¥. Nangíng généyÃ¥ kók ora sabên wóng bisÃ¥ nglakóni?

    11.                    (P) Wóng iku yèn wís kasókan kabêcikan lan rumangsa kapotangan budi, ing sakèhíng pakartiné lumrahé banjúr ora kêncêng lan rêsík. Mulané tangèh lamún yèn bisÃ¥ njÃ¥gÃ¥ jêjêgíng adíl, awít lésané kasumpêtan, mripaté bêrêng, kupingé budhêg. Atiné dadi mati, angèl wêrúh ing bêbênêr. MulÃ¥ sÃ¥kÃ¥ iku Ã¥jÃ¥ gumampang nÃ¥mpÃ¥ kabêcikané liyan, samÃ¥ngsÃ¥ tujuwané ngarah marang pênggawé kang nalisír sÃ¥kÃ¥ bêbênêr.

    12.                    (P) Ã…jÃ¥ kasêlak kêsusu nyêpèlèkaké liyan, margÃ¥ kók anggêp wóng mau bodho. Awít Ã¥nÃ¥ kalamangsané kowé mbutúhaké rémbúg lan pituturé wóng iku, síng kanyatané bisÃ¥ mbéngkas lan nguwalaké sÃ¥kÃ¥ karuwêtanmu. Pancèn ing sawijiné bab wóng bisÃ¥ kaaran bodho, nangíng ing babagan liya tangèh lamún yèn kowé bisÃ¥ nandhingi.

    13.                    (P) Yèn micÃ¥rÃ¥ Ã¥jÃ¥ gumampang nêlakaké pênacad utawa pangalêm, luwíh- luwíh nganti mêmaóni. Awít wicaramu durúng karuwan bênêr. Síng mêsthi panacad mau gawé sêrík, pangalêmé nuwúhaké wisÃ¥, déné waónané ora digugu, kabèh swÃ¥rÃ¥ Ã¥lÃ¥. MulÃ¥ kang prayogÃ¥ iku múng mênêng, jalaran mênêng iku yêktiné pancèn mustikaníng ngauríp.

    14.                    (P) Udinên ing alam donya iki Ã¥jÃ¥ Ã¥nÃ¥ wóng kang kók sêngiti, supaya ora Ã¥nÃ¥ wóng sêngít marang kowé, balík sabisÃ¥-bisÃ¥ pÃ¥dhÃ¥ trêsnanÃ¥nÃ¥. AmargÃ¥ lêlakón ing alam donya iki anané múng walês-winalês baé. Déné yèn kêpêksÃ¥ kowé sêngít marang sawijiníng wóng, mÃ¥ngkÃ¥ kowé ora bisÃ¥ mbuwang sêngítmu, gawénên wadi Ã¥jÃ¥ Ã¥nÃ¥ wóng kang ngêrti. Yèn kowé ngandhakaké sêngítmu marang liyan, prasasat kowé mamèraké alané atimu.

    15.                    (P) Ajiníng dhiri Ã¥nÃ¥ ing lati. Ajiníng rÃ¥gÃ¥ Ã¥nÃ¥ ing busÃ¥nÃ¥. Mula dèn ngati-ati ing pangucapmu, sêmono ugÃ¥ anggónmu ngadi busÃ¥nÃ¥ kang bisa mapanaké dhiri.

    16.                    (P) Wóng pintêr kang isih gêlêm njalúk rêmbugíng liyan iku dianggêp manungsa utúh. SÃ¥pÃ¥ síng rumangsa pintêr banjúr suthík njaluk rêmbuging liyan kuwi manungsa sêtêngah wutúh. Lan síng sÃ¥pÃ¥ ora gêlêm njalúk rêmbugíng liyan, iku bisa kinaranan babar pisan durúng manungsÃ¥.

    17.                    (P) Yèn atimu wis gilíg arêp gawé kabêcikan kanggo karaharjaníng bêbrayan, bêratên rÃ¥sÃ¥ uwas marang pandakwÃ¥ Ã¥lÃ¥ kang ora nyÃ¥tÃ¥. SrananÃ¥nÃ¥ kanthi jêmbaríng dhÃ¥dhÃ¥ lan sabaríng nÃ¥lÃ¥, amríh bisa nuwúhaké gêdhéníng prabÃ¥wÃ¥ lan cabaríng sakèhíng piÃ¥lÃ¥.

    18.                    (P) WicÃ¥rÃ¥ kang wêtuné kanthi tinÃ¥tÃ¥ runtút kang awujúd sêsulúh kang amót piwulang bêcík, ajiné pancèn ngungkuli mas picís rÃ¥jÃ¥brÃ¥nÃ¥, bisÃ¥ nggugah budi lan nguripaké pikír. Nangíng kawuningÃ¥nÃ¥ yèn grêngsênging pikír lan uripíng jiwÃ¥ iku ora bisÃ¥ yèn múng kagugah sarÃ¥nÃ¥ wicÃ¥rÃ¥ baé. Kang wigati yaiku wicÃ¥rÃ¥ kang mÃ¥wÃ¥ tandang minÃ¥ngkÃ¥ tulÃ¥dhÃ¥. Jêr tulÃ¥dhÃ¥ mono síng bisÃ¥ nuwúhaké kapitayan. Luwíh-luwíh mungguhíng pÃ¥rÃ¥ manggalaníng prÃ¥jÃ¥ kang wís pinracÃ¥yÃ¥ ngêmbani nusÃ¥ lan bÃ¥ngsÃ¥.

    19.                    (P) Luwíh bêcík ngasóraké rÃ¥gÃ¥ tinimbangané ngóngasaké kapintêran kang sêjatiné isíh nguciwani bangêt. Ngóngasaké kapintêran iku satêmêné múng kanggo nutupi kabodhowané, jêr kabèh mau mêrga rÃ¥sÃ¥ samar lan was sumêlang yèn ta kungkulan déníng sapêpadhané. Tindak mangkono mau malah dadi sawijiníng godhÃ¥ kang múng bakal ngrêrêndhêti lakuníng kêmajuwané dhéwé ing jagadíng bêbrayan.

    20.                    (P) SÃ¥pÃ¥ wóngé síng ora sênêng yèn éntúk pangalêmbÃ¥nÃ¥. Nangíng thukulíng pangalêmbÃ¥nÃ¥ iku ora gampang. Kudu disranani kanthi pakarti kang bêcik lan murakabi marang wóng akèh. Yèn múng disranani bÃ¥ndhÃ¥, pangalêmbanané múng kandhêg ing lambé baé ora tumús ing ati. Déné yèn disranani pênggawé kang lêlamisan, ing pamburiné malah bakal kasingkang-singkang kasingkíraké sÃ¥kÃ¥ jagadíng pasrawungan.

    21.                    (P) GénéyÃ¥ akèh wóng kang dhêmên nyatur alaníng liyan lan ngalêmbÃ¥nÃ¥ awaké dhéwé? Sêbabé ora liya margÃ¥ wóng-wóng síng kÃ¥yÃ¥ ngono mau ora ngêrti yèn pênggawé mau klêbu pakarti kang ora prayogÃ¥, mula prêlu dingêrtèkaké. Awít yèn ora énggal-énggal nyingkiri pakarti kang ora bêcík mau, wusanané dhèwèké kang bakal diêmóhi déníng pasrawungan.

    22.                    (P) Nggayúh kaluhuran liré ngupÃ¥yÃ¥ tataraníng uríp kang luwih dhuwúr. Dhuwúr laír lan batiné, ya tumrap dhiri pribadiné ugÃ¥ sumrambah kanggo karaharjaníng bêbrayan. Nangíng yèn kandhêg salah siji, têgêsé gothang. Yèn múng nêngênaké kaluhuraníng laír gênah múng ngoyak drajat lan sêmat, isíh miyar-miyur gampang kênÃ¥ pangaribÃ¥wÃ¥ sÃ¥kÃ¥ njÃ¥bÃ¥. Yèn ngêmúngaké kaluhuraníng batín, cêtha ora nuhóni jêjêríng manungsa, awít ora tumandang ing gawé kanggo kêpêrluwaníng bêbrayan. Atêgês tanpÃ¥ gunÃ¥ diparingi uríp ing alam donya.

    23.                    (P) Sing sÃ¥pÃ¥ rumangsa nduwèni kaluputan, Ã¥jÃ¥ isín ngowahi kaluputan sing wís kadhúng katindakaké mau. Jêr ngakóni kaluputan mono wís cêthÃ¥ dudu tindak kang asór, nangíng malah nuduhaké marang pakarti kang utÃ¥mÃ¥ kang ora gampang linakónan déníng sadhêngah wóng. IyÃ¥ wóng kang wis bisÃ¥ nduwèni watak gêlêm ngakóni kaluputané mangkéné iki pantês sinêbút wóng kang jujúr sartÃ¥ kasinungan ing budi luhúr.

    24.                    (P) ManungsÃ¥ uríp iku dibisÃ¥ nguwasani kamardikaníng laír lan batín. Kang dikarêpakê kamardikaníng laír iku wujudê bisÃ¥ nyukupi kabutuhaning uríp ing sabên dinanê sÃ¥kÃ¥ wêtuning kringêt lan wóhíng kangèlan dhêwê ora gumantúng ing wóng liyÃ¥ lan ora dadi sangganíng liyan. Dênê kamardikaníng batín iku dicakakê sarÃ¥nÃ¥ nyingkiri hÃ¥wÃ¥ napsu, adóh sÃ¥kÃ¥ asór lan nisthaníng pambudi, sêpi ing rÃ¥sÃ¥ mêlík lan drêngki srèi, sartÃ¥ tuhu marang paugêran uríp bêbrayan.

    25.                    (P) Ora Ã¥nÃ¥ wóng kang ingaranan uríp, kêjabanê kang mikír sartÃ¥ trêsnÃ¥ marang wóng kang ringkíh lan nandhang pÃ¥pÃ¥ cintrÃ¥kÃ¥. BisÃ¥ mèlu ngrasakakê kasusahanê sartÃ¥ lÃ¥rÃ¥ lapanê wóng liyÃ¥. Kanthi pangrÃ¥sÃ¥ kang mangkono mau atêgês bisÃ¥ nggadhúh kêkuwatan kang tanpÃ¥ watês, pêrlu kanggo mitulungi sapÃ¥dhÃ¥-pÃ¥dhÃ¥ kang kahananê luwíh nrênyúhakê katimbang dhiri pribadinê. "Pakarti mono darbèk kita dhêwê, nanging wóhê pakarti mau dadi kagunganê Kang Gawê Urip", mangkono sabdanê sawijinê PujÃ¥nggÃ¥ kalokÃ¥.

    26.                    (P) Wóng kang baút mawas dhiri iku wóng kang bisÃ¥ manjíng ajúr ajèr, ngêrti êmpan papan laras karo rèh swasÃ¥nÃ¥ sakupêngê tanpÃ¥ ninggalakê subÃ¥sitÃ¥. Paribasanê wóng kang baút ngadisarirÃ¥, Ã¥jÃ¥ múng kalimpút êdiníng busÃ¥nÃ¥ baê, nangíng bisowÃ¥ tansah mêrsudi marang padhangíng sêmu lan manisíng wicÃ¥rÃ¥ tanpÃ¥ nglírwakakê marang alús lan luwêsíng solah bÃ¥wÃ¥.

    27.                    (P) Kêcandhakíng sawijiníng idham-idhaman iku ora cukúp múng dibandang móncèr lan pêpakíng ilmu lan kawrúh baê. Nangíng Ã¥nÃ¥ syarat siji kang ora kênÃ¥ kalirwakakê, yaiku kapintêran ing bab sêsrawungan. SÃ¥pÃ¥ kang bisa tumindak ajúr-ajèr lan bisÃ¥ nuwúhakê rÃ¥sÃ¥ rêsèp marang liyan, prasasat wis êntúk pawitan kanggo nandangi sakèhíng pagawêyan Ã¥pÃ¥dênê nggayúh idham-idhamanê.

    28.                    (P) Nindakakê kabêcikan mono ora mêsthi kudu cucúl wragad, nanging bisÃ¥ ditindakakê sarÃ¥nÃ¥ pakarti-pakarti liyanê sing sêjatinê akèh bangêt caranê. Saugêr bisÃ¥ gawê sênênging liyan, upamanê baê mÃ¥wÃ¥ ulat sumèh tangkêp srawúng kang sumanak, bisa manjíng ajúr-ajèr ing madyaníng bêbrayan, lan bisÃ¥ dadi patuladhan laku utÃ¥mÃ¥. Kabèh mau klêbu êwóníng tindak kabêcikan kang ajinê nglêluwihi wragad dêdÃ¥nÃ¥ kang diwènèhakê utÃ¥wÃ¥ dipotangakê, apamanèh lamún anggónê mènèhi utÃ¥wÃ¥ ngutangi iku sinamudÃ¥nÃ¥ kêbak pamríh.

    29.                    (P) Yèn kowê arêp rêmbugan, pikirên luwih dhisík têtêmbungan síng arêp kók wêtókakê. Ã…pÃ¥ wís ngênggoni têlúng prêkÃ¥rÃ¥: bênêr manís, migunani. ÊwÃ¥ sêmono síng bênêr iku isih pêrlu dithinthingi manèh yèn gawê gêndranê liyan prayogÃ¥ wurúngnÃ¥. Dênê têmbúng manís mono ora duwê pamríh, pamrihê bisÃ¥ gawê sênêngê liyan kang tundhónê migunani tumrapê jagadíng bêbrayan.

    30.                    (P) Sugíh ómóng kanggo nggayêngakê pasamuwan pancèn apík. Nangíng ngómóng múng golèk suwurê awakê dhêwê sók kêtrucút miyak wêwadinê dhêwê. PirÃ¥ baê cacahê wóng kang kêplèsèt uripê múng margÃ¥ sukÃ¥ anggónê sugíh ómóng. MulÃ¥ sabêcik-bêcikê wóng iku ora kÃ¥yÃ¥ wóng kang mênêng. Nangíng mênêngê wóng kang darbê bóbót kang antêb síng bisÃ¥ dadi panjujuganê pÃ¥rÃ¥ pawóngan kang mbutúhakê rêmbúg lan pitudúh.

    31.                    (P) Ing jagadíng sêsrawungan mono nyirík marang sêsipatan kang gumêdhê lan wêwatakan kang tansah ngêgúngakê dhiri. Sipat lan wêwatakan mau adhakanê banjúr nuwúhakê rÃ¥sÃ¥ ora lilÃ¥ yèn nyipati Ã¥nÃ¥ liyan síng luwíh katimbang dhèwèkê. MulÃ¥ saibÃ¥ bêcikê samÃ¥ngsÃ¥ sÃ¥pÃ¥ kang rumangsa pintêr dhêwê, sugíh dhêwê, lan kuwÃ¥sÃ¥ dhêwê iku gêlêma nglaras dhiri lan nglêrêmakê cíptanê kang wêning, yèn sêjatinê isíh Ã¥nÃ¥ manèh kang MÃ¥hÃ¥ Pintêr, MÃ¥hÃ¥ Sugih, lan MÃ¥hÃ¥ Luhúr. Klawan mangkono rÃ¥sÃ¥ pangrÃ¥sÃ¥ dumèh lan takabúr kang dadi sandhungan pasrawungan bisÃ¥ sumingkír.

    32.                    (P) Luwih bêcík makarti tanpÃ¥ sabÃ¥wÃ¥ kang anjóg marang karahayóníng bêbrayan, katimbang tumindakê wóng kang rêkanê nindakakê panggawê luhúr nangíng disambi udúr. Yêktinê tÃ¥tÃ¥ têntrêm iku ora bakal bisÃ¥ kagayúh yèn tÃ¥ ora adhêdhasar kêrukunan, dênê kêrukunan iku múng bisÃ¥ kêcandhak yèn siji lan sijinê pÃ¥dhÃ¥ bisÃ¥ aji-ingajènan lan móng-kinêmóng.

    33.                    (P) Yèn kêpéngín diajèni liyan, mulÃ¥ Ã¥jÃ¥ sók dhêmên martak-martakaké, Ã¥pÃ¥ manèh nganti mamèraké kabisan lan kaluwihanmu. Pangaji-ajiníng liyan iku sêjatiné ora pêrlu mbók buru, bakal têkÃ¥ dhéwé. Nudúhaké kêwasisan pancèn kudu bisa milíh papan lan êmpan. MulÃ¥ kang prayoga kêpÃ¥rÃ¥ purihên Ã¥jÃ¥ kóngsi wóng liyÃ¥ bisÃ¥ njajagi. Nangíng mÃ¥ngsÃ¥ kalané ngadhêpi gawé parigawé kêconggah mrantasi.

    34.                    (P) Ã…jÃ¥ sók ngluputaké, gêdhéné ngundhat-undhat wóng liyÃ¥, samÃ¥ngsÃ¥ kitÃ¥ ora katêkan Ã¥pÃ¥ kang dadi kêkarêpan kitÃ¥. Bêciké kitÃ¥ tliti lan kitÃ¥ golèki sêbab-sêbab ing badan kita dhéwé, amrih kitÃ¥ bisÃ¥ uwal sÃ¥kÃ¥ dayaníng pangirÃ¥-irÃ¥ kang ora prayogÃ¥. Kawruhana, yèn usadané watak apês síng njalari nganti ora katêkan sêdyÃ¥ kitÃ¥ iku, ora Ã¥nÃ¥ liya, yÃ¥ dumunúng Ã¥nÃ¥ ing awak kita dhéwé.

    35.                    (P) Arang wóng síng bisa mapanaké rÃ¥sÃ¥ narima marang Ã¥pÃ¥ baé kang wís klakón digayúh. Yèn rumangsa kurang isíh golèk wuwúh, yèn wís olèh banjúr golèk luwíh, yèn wís luwíh tumuli mbudidÃ¥yÃ¥ Ã¥jÃ¥ Ã¥nÃ¥ wóng síng bisÃ¥ madhani. Wóng kang duwé rÃ¥sÃ¥ mangkono mau satêmêné mêmêlas. Uripé tansah ngÃ¥ngsÃ¥-Ã¥ngsÃ¥, ora naté sumèlèh atiné. Kanggo nuruti rÃ¥sÃ¥ kang klèru kasêbút sók-sók banjúr tumindak ora samêsthiné lan nalisír sÃ¥kÃ¥ pakarti kang bênêr.

    36.                    (P) Watak narimÃ¥ mono yêkti dadi sihíng Pangéran, nangíng yèntÃ¥ nganti klèru ing panyurÃ¥sÃ¥ bisÃ¥ nuwúhaké klèruníng tumindak. NarimÃ¥, liré ora ngÃ¥ngsÃ¥-Ã¥ngsÃ¥ nangíng ora kurang wêwékÃ¥ lan tansah mbudidÃ¥yÃ¥ amríh katêkaning sêdyÃ¥, dudu atêgês kêbacút lumúh ing gawé, suthík ihtiyar. Awít yèn mangkono ora jênêng narimÃ¥, nagíng kêsèt. Jêr watakíng wóng kêsèt iku múng gêlêm énaké êmóh rêkasané, gêlêm ngêmplók suthík tómbók, satêmah dadi wóng ora wêrúh ing wirang, siningkiraké sÃ¥kÃ¥ jagadíng bêbrayan.

    37.                    (P) Wóng uríp ing alam bêbrayan iku yêkti angèl, kudu bisÃ¥ ngêrèh pakóné "si aku", Ã¥jÃ¥ nggugu karêpé dhéwé lan nuruti hÃ¥wÃ¥ napsu. Luwíh-luwíh ing dinÃ¥ samêngko, alam bêbrayan donyÃ¥ tansah kêbak pradhóndhi, silíh ungkíh, rêbutan bênêré dhéwé-dhéwé. MulÃ¥ síng baku, wóng uríp kudu bisÃ¥ miyak alíng-alíng kang nutupi pikiran kang wêníng. Liré, sênajanÃ¥ sajroníng pasulayan, kudu bisa nyandhêt kêmrungsung "si aku" istingarah sakèhíng bédané panêmu bisÃ¥ disawijèkaké.

    38.                    (P) Wóng kang nduwèni watak tansah njalúk bênêré dhéwé iku adaté banjúr kathukulan bêndÃ¥nÃ¥ sênêng nênacad lan ngluputaké marang panêmu sartÃ¥ tindak tanduké wóng liyÃ¥. Méndah bêciké yèn wóng síng kÃ¥yÃ¥ mangkono mau kÃ¥lÃ¥-kÃ¥lÃ¥ gêlêm nggraitÃ¥ ing njêro batiné : "mbók mênÃ¥wÃ¥ aku síng klèru, mulÃ¥ cobÃ¥ dak tlitiné klawan adíl sÃ¥pÃ¥ kang sêjatiné nyÃ¥tÃ¥-nyÃ¥tÃ¥ bênêr".

    39.                    (P) Rêsêpíng omah iku ora dumunúng ing barang-barang méwah kang larang rêgané, nangíng gumantúng marang panataníng prabót kang prasÃ¥jÃ¥, sartÃ¥ pêmasangé rêrênggan kang adóh sÃ¥kÃ¥ watak pamèr. Sêmono ugÃ¥ rêsêpíng salirÃ¥ iku ora margÃ¥ sÃ¥kÃ¥ pacakan kang èdi-pèni, nangíng gumantúng ing sandhang pênganggo kang prasÃ¥jÃ¥, trapsilÃ¥ solah bÃ¥wÃ¥, lan padhanging polatan.

    40.                    (P) Yèn kowé kêpênêr lagi srêngên lan nêsu, prayogané wóng síng kók nêsóni lan kók srêngêni mau kóngkónên énggal sumingkír. UtÃ¥wÃ¥ kowé dhéwé sumingkirÃ¥ sauntÃ¥rÃ¥, aja têtêmónan karo wóng liya. Sabanjuré mênêngÃ¥ lan étúng-étúngÃ¥ kanthi sarèh wiwít siji têkan sêpulúh. Klawan mêngkono atimu bakal bisa nimbang-nimbang Ã¥pÃ¥ nêsu lan srêngênmu marang wóng mau bênêr, Ã¥pÃ¥ malah dudu kowé dhéwé síng lupút.

    41.                    (P) Jênêng tanpÃ¥ gunÃ¥ uripíng manungsÃ¥ kang nganti ora bisÃ¥ nyumurupi marang kang kêdadéyan ing sakiwÃ¥ têngêné. Ora bisÃ¥ asúng lêlimbangan lan pamrayogÃ¥ sakadharé kanggo karahayóníng bêbrayan. Rupak pandêlêngé ora Ã¥nÃ¥ liyÃ¥ kang disumurupi kajÃ¥bÃ¥ uripé dhéwé. Mati pangrasané, jalaran ora kulina kanggo ngrasak-ngrasakaké kang katón ing sabên dinané, wusana dadi cêthèk budiné, jalaran sÃ¥kÃ¥ kalêpyan marang têpÃ¥ palupi kang maédahi ing uripé.

    42.                    (P) Ã…jÃ¥ sók nyênyamah luputíng liyan, luwíh bêcík tudúhnÃ¥ kaluputané kang malah bisÃ¥ ngrumakêtaké rÃ¥sÃ¥ pasêduluran. ÉwÃ¥sêmono Ã¥jÃ¥ nganti kowé kêsusu mbêcíkaké kêlakuwané liyan, yèn awakmu dhéwé rumÃ¥ngsÃ¥ durúng bisÃ¥ ngênggóni rÃ¥sÃ¥ sabar lan têpa sêlirÃ¥. SÃ¥pÃ¥ kang wís ngêrti lan ngrumangsani marang sakèhíng dosané, iku sawijiníng wóng kang wís ngêrti marang jêjêríng kamanungsané, manungsa kang utÃ¥mÃ¥.

    43.                    (P) Ajiníng manungsÃ¥ iku kapúrbÃ¥ ing pakartiné dhéwé, ora kagÃ¥wÃ¥ sÃ¥kÃ¥ katurunan, kapintêran, lan kasugihané. Nangíng gumantúng sÃ¥kÃ¥ ênggóné nanjakaké kapintêran lan kasugihané, sartÃ¥ matrapaké wêwatêkané kanggo kêpêrluan bêbrayan. Kabèh mau yèn múng katanjakaké kanggo kapêrluwané dhéwé, tanpÃ¥ paédah. Nangíng yèn pakarti mau kadayan déníng rÃ¥sÃ¥ pêpinginan golèk suwúr, golèk pangkat lan donya brÃ¥nÃ¥, malah bisa dadi mêmalaníng bêbrayan, jalaran nyinamudana sarÃ¥nÃ¥ nylamúr migunakaké jênêngé wóng akèh.

    44.                    (P) Ora Ã¥nÃ¥ budi kang luwíh luhur saliyané nduwèni rÃ¥sÃ¥ asíh marang nusÃ¥ lan bangsané. Kadunungan rÃ¥sÃ¥ rumangsa nduwèni sêsanggêman lan kuwajiban mranÃ¥tÃ¥ têntrêmíng prÃ¥jÃ¥ kanthi pawitan kapintêran kang dilandhêsi kawicaksananing pambudi. TÃ¥ndhÃ¥ yêktiné yèn asíh, yaiku tansah samaptÃ¥ tumandang sawayah-wayah yèn Ã¥nÃ¥ parigawé kang wigati kanggo wargÃ¥ sapÃ¥dhÃ¥-pÃ¥dhÃ¥, munggahé tansah samaptÃ¥ lêladi kanggo kêslamêtaníng bêbrayan lan karaharjaníng nagÃ¥rÃ¥.

    45.                    (P) Wóng kang kêrêp tansah dipituturi wóng liya iku adaté bisa dadi wóng dhêmên ngati-ati, nangíng mênÃ¥wÃ¥ kapêngkók ing pêrlu sók ora bisa tumindak lan ngrampungi dhéwé. KêpêksÃ¥ isíh kudu nolèh wóng liya síng diwawas bisa awèh pitudúh. MulÃ¥ kuwi prayogÃ¥ ngawulåå marang ati lan kêkuwatanmu dhéwé, jalaran wóng liyÃ¥ iku sêjatiné yèn Ã¥nÃ¥ apa-apané múng sadêrmÃ¥ nyawang, ora mèlu ngrasakaké.

    46.                    (P) Wóng kang rumÃ¥ngsÃ¥ dhiriné linuwíh, ing sawijiníng wêktu mêsthi bakal kasurúng atiné arêp mamèraké kaluwihané, liré amríh dimangêrtènÃ¥nÃ¥ déníng wóng akèh yèn dhèwèké mono wóng kang pinunjúl lan supÃ¥yÃ¥ diajènÃ¥nÃ¥. SumurupÃ¥, sakabèhíng kaluwihan mau yèn ora dicakaké mÃ¥wÃ¥ lêlabuhan kang murakabi marang bêbrayan, tanpÃ¥ gunÃ¥ kêpÃ¥rÃ¥ malah ora kajèn lan gawé pitunÃ¥. Mula kang prayogÃ¥ bisÃ¥ tulús dadi wóng kang linuwih mênÃ¥wÃ¥ gêbyaríng kaluwihan iku múng dikatónaké marang batiné dhéwé, iku wís cukup.

    47.                    (P) DêdÃ¥nÃ¥ utÃ¥wÃ¥ sêdhêkah marang wóng kang lagi nyandhang pÃ¥pÃ¥ cintrÃ¥kÃ¥ iku sawijiníng pênggawé bêcík kang patút tinulÃ¥dhÃ¥, saugêr pawèwèh mau ora kinanthènan panggrundêl kang nêlakaké ora éklasíng atiné. Têtêmbungan kang lêmbah ing manah lan mêrak ati iku luwih gêdhé ajiné katimbang dêdÃ¥nÃ¥ kang ora éklas. Suprandéné nulúng lan mènèhi pêpadhang marang jiwané wóng kangkacingkrangan iku kang sêjatiné luwih pêrlu lan wigati, katimbang múng têtulúng marang awaké kang awujúd kêlairan baé.

    48.                    (P) Ulat sumèh, tindak-tandúk sarèh kinanthènan têmbúng arís iku bisÃ¥ ngruntúhaké ati sartÃ¥ ngêdóhaké panggódhaning sétan. Kósókbaliné watak wicÃ¥rÃ¥ kang kêras, kêjÃ¥bÃ¥ kêduga gawé tanginíng kanêpsón, ugÃ¥ gampang nuwúhaké salah panÃ¥mpÃ¥. Sabarang prakÃ¥rÃ¥ kang sêjatiné bisa putús sarÃ¥nÃ¥ arís lan sarèh, kêpêksa dadi adu wulêding kulít lan atósíng balúng, kari si sétan ngguyu ngakak bungah-bungah.

    49.                    (P) Wóng kang kulinÃ¥ uríp mubra-mubru iku samangsané ngalami sandhungan uríp sêthithík baé adaté gampang kêthukulan gagasan lan gawé kang cêngkah karo bêbênêr, luwíh bêgjÃ¥ wóng kang uripé pokal samadyÃ¥ nangíng rêsík atiné. Déné bêgja-bêgjané wóng iku ora kÃ¥yÃ¥ wóng síng tansah uríp ing kahanan kang kêbak godhÃ¥ rêncÃ¥nÃ¥, prasasat tÃ¥pÃ¥ Ã¥nÃ¥ satêngahíng cobÃ¥, nangíng tansah tawêkal lan kandêl kêimanané marang adilíng Pangéran Kang MÃ¥hÃ¥ KuwÃ¥sÃ¥.

    50.                    (P) Sipaté wóng uríp iku mêsthi kêsinungan kêkuwatan. Kang ngêrti bisÃ¥ ngêcakaké déné kang ora bisÃ¥ ngêrti kurang digladhi, têmahan ora tumanja. ÉwÃ¥sémono ngêmpakaké kêkuwatan mula ora gampang. Buktiné ora sêthithík kêkuwatan kang êmpané ora mapan. Kawruhana, yèn rusaké bêbrayan ing antarané margÃ¥ sÃ¥kÃ¥ pakartiné pÃ¥rÃ¥-pÃ¥rÃ¥ kang ngêrti marang dayaníng kêkuwatané nangíng ora kanggo nggayúh gêgayuhan kang mulyÃ¥, múng kanggo nuruti dêrênging ati angkÃ¥rÃ¥.

    51.                    (P) Katrêsnan kang tanpÃ¥ pangrêksa iku dudu sêjatiníng katrêsnan. KênÃ¥ diarani sêjatiníng katrêsnan kang múng kadêrêng lan kêna ing pangaribawaníng hÃ¥wÃ¥ napsu. Dadi yèn Ã¥nÃ¥ unèn-unèn " trêsnÃ¥ iku wutÃ¥" yaiku síng kaprabawan hÃ¥wÃ¥ napsu. Síng prayogÃ¥ iku mêsthiné kudu ngugêmi unèn-unèn "trêsnÃ¥ iku rumêksÃ¥" bisÃ¥ salaras tumindaké. Rasaníng katrêsnan kang cêdhak dhéwé tumrap sadhêngah manungsÃ¥ iku dumunúng ing awaké dhéwé. MulÃ¥ sÃ¥pÃ¥ kang trêsnÃ¥ marang sapÃ¥dhÃ¥-pÃ¥dhÃ¥ iku aran trêsnÃ¥ marang awaké dhéwé, tundhóné sÃ¥pÃ¥ kang tansah ngrêksÃ¥ marang karahayóníng liyan, ora bédÃ¥ karo pangrêksÃ¥ marang kêslamêtané dhéwé. 

     

    52.                    (P) Srawúng ing madyaning bêbrayan iku kêjÃ¥bÃ¥ kudu wasís milíh papan lan êmpan, ugÃ¥ kudu bisa angón mÃ¥ngsÃ¥ lan mulat ing sêmu. Ã…jÃ¥ nggêgampang ngrójóngi rêmbúg kang kowé dhéwé durúng ngrêti prakarané. Rêmbúg sêthithík nanging mranani iku nudúhaké bóbótíng pribadi. Rêmbúg akèh nangíng ampang malah gawé sÃ¥nggÃ¥ rungginé síng pÃ¥dhÃ¥ ngrugókaké kêpÃ¥rÃ¥ njuwarèhi. 

     

    53.                    (P) Wóng kang wís têkan pêsthiné utÃ¥wÃ¥ wis katimbalan bali mênyang jaman kêlanggêngan iku sêjatiné lagi kênÃ¥ diwènèhi biji tumrap ajiné kamanungsané lan pakartiné nalikÃ¥ uríp. Déné wóng kang isíh pÃ¥dhÃ¥ uríp iku pêrlu disêmak baé dhisík, durúng kênÃ¥ dipatrapi biji, jêr kahanané isih bisa owah gingsír. Sarèhné manungsÃ¥ iki sawijiníng titah kang luhúr dhéwé, mulÃ¥ wís samêsthiné yèn kitÃ¥ Ã¥jÃ¥ nganti kayadéné sato kang patiné múng ninggal têngêr lulang lan balúng baé. Nangíng bisowÃ¥ kita nanjakaké uríp kitÃ¥ marang pakarti-pakarti utÃ¥mÃ¥, sumrambahé marang karahayóning uríp bêbrayan. 

     

    54.                    (P) Mustikané wóng tuwÃ¥ marang anak múng Ã¥nÃ¥ ing laku kang gumati, gunêm kang rurúh, lan ujar kang manís. Gumatiné dumunúng ing têpÃ¥ tuladhaníng tingkah laku. Gunêm lan ujar kawêngku Ã¥nÃ¥ ing ucap kang istingarah numusi kajiwan, lan luhuríng budi pêkêrti. Mula yèn Ã¥nÃ¥ Ã¥pÃ¥-Ã¥pÃ¥, Ã¥jÃ¥ sêlak marang sêbutíng paribasan : "Ora Ã¥nÃ¥ kacang ninggal lanjaran". 

     

    55.                    (P) Nanggapi kahanan urip ing satêngahíng bêbrayan iku gampang angèl. Aran angèl kêpÃ¥rÃ¥ malah bisa gawé kêtliwênging pikír samÃ¥ngsÃ¥ anggón kita mawas kêdhisikan kagubêl ing hÃ¥wÃ¥. Aran gampang yèn kita bisÃ¥ mikír klawan wêníng lan mênêb. IyÃ¥ pamikír kang mênêb iku kang aran akal budi sêjati. Kang bisa mbabaraké wóhíng wawasan kang mulús rêsík, ora kacampúran blêntóngé "si aku". Apamanèh yèn tÃ¥ kitÃ¥ bisÃ¥ têtêp nguwasani wêningíng pikír, nadyan kahanané uríp ing satêngahing bêbrayan kisruhÃ¥ dikÃ¥yÃ¥ngÃ¥pÃ¥, istingarah ora angèl anggón kita nanggapi. 

     

    56.                    (P) Srêngên marang wóng mono Ã¥jÃ¥ nganti kênêmênên lan kêliwat-liwat múng margÃ¥ wis ngêrti yèn wóng mau ora bakal wani nglawan utÃ¥wÃ¥ wís ora bisÃ¥ nglawan, síng èstiné múng arêp ngêdír-êdíraké drajad pangkat utÃ¥wÃ¥ kadibyané baé. Pakarti kaya ngono mau kêjÃ¥bÃ¥ klêbu ambêg siyÃ¥, ugÃ¥ wóng síng disrêngêni durúng karuwan bakal dadi bêcík, kêpÃ¥rÃ¥ bisa nuwúhaké rÃ¥sÃ¥ sêngít. Kang prayogÃ¥ iku srêngên samadyÃ¥ kang mêngku pitutúr murih bêciké. 

     

    57.                    (P) Wóng pintêr kang ora kinanthènan ing kautaman iku ora bédÃ¥ karo wóng wutÃ¥ kang nggÃ¥wÃ¥ óbór ing wayah bêngi. Madhangi wóng liyÃ¥ nangíng dhèwèké dhéwé lakuné kêsasar-sasar. Kapintêran mangkéné iki yèn tÃ¥ dicakaké ing madyaning bêbrayan bakal nuwúhaké kapitunan, pikolèhé malah múng wujúd kasangsaran lan karusakan.