Tampilkan postingan dengan label Kalijaga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalijaga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Mei 2012

Siapa Sunan Kalijogo?


Siapa Sunan Kalijogo itu?
Beliau lahir di Tuban (Jawa Timur), pada tahun 1450 M. Ayahnya bernama Arya Wilatikta, Adipati Tuban yang merupakan keturunan dari Ronggolawe. Setelah berselisih dengan sang ayah tentang teori kemamuran rakyat  dengan pertanyaan  “mengapa cadangan padi di lumbung kadipaten melimpah tapi rakyat kelaparan”, karena dianggap menggurui, maka ayahnya marah. Tanpa setahu ayahnya, lumbung padi itupun dibongkarnya dan isinya dibagikan kepada rakyat. Setelah ketahuan, maka Raden Mas Said pun diusir dari kraton kadipaten. Dengan hati patah ia melakukan aksi perampokan pada  pejabat kadipaten yang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat, sehinnga beliau mendapat julukan Lokajaya (perampok budiman). Sampai suatu saat ia bertemu dengan ulama besar Syech Maulana Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang dan berdebat soal “tujuan yang baik (bersedekah), apa boleh diawali  dengan aksi yang buruk (merampok)”, karena kalah ilmu maka perdebatan itu dimenangkan ole Sunan Bonang dengan tesis “bahwa pada dasarnya apa haq (benar), tak dapat dicampur adukkan dengan yang bathil (buruk), kerena kedua sifat itu beda wilayah atau berlawanan hakikat”. Akhirnya Raden Mas Said berguru pada Sunan Bonang. Ia diajari melatih kesabaran dan ketenangan dengan bertapa di tepi sungai dengan memandang arus sungai yang mengalir selama 10 tahun. Setiap arus kali dipenuhi sampah ia lalu membersihkannya/mengentasnya karena mengganggu konsentrasi bertapanya. Pemilihan cara bertapa seperti ini karena mengingat RM Said gemar melakukan kungkum atau berendam. Pada umumnya orang bertapa di gua atau dibawah pohon. Lantas orangpun ramai menjuluki Sunan Kalijaga (artinya penjaga kali). Dalam melakukan dakwahnya Sunan Kalijaga memakai media kesenian, yaitu dongeng wayang dan gamelan Jawa. Ponokawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) adalah tokoh sisipan dalam dunia pewayangan yang merupakan hasil rekaannya tentang penggambaran kesetiaan para pamong yang mengemban daulat Raja. Karya Sunan Kalijaga yang paling terkenal hingga saat ini adalah lagu tembang Lir Ilir, suatu syair dalam bahasa Jawa yang sarat dengan pesan pesan  tentang upaya perdamaian, ketersediaan pangan  dan kebersihan lingkungan di tanah Jawa..

Tulisan lain tentang Sunan Kalijogo.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama Sunan Kalijaga berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian Sunan Kalijaga mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Sunan Kalijaga ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, Sunan Kalijaga punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Sunan Kalijaga sangat toleran pada budaya lokal. Sunan Kalijaga berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Sunan Kalijaga pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
(Sumber : atifhidayat.wordpress.com)

Kamis, 28 Juli 2011

Siapakah Tokoh Wayang Kita?

SRI KRESNA
(Hiasan Dinding Aliran Kebathinan Budhiroso)


Alirann Kebatinan Budhiroso memilih tokoh Bima - Arjuna
dan Kumbakarna - Bisma,  sebagai tokoh utama.







Kumbakarna :
"Wahai Rahwana ketahuilah, kakak-ku! kalaulah aku maju perang, itu bukan berpihak kepadamu tapi rasa bela negaraku bangkit karena diserang musuh"

Bisma :
"Wahai Kurawa dan Pandawa, cucu-cucuku,  sudah takdirku gugur di medan laga, karena aku sebagai panglima perang (senopati) layak mendapatkan itu, maka jangan kau tangisi kepergianku dan jangan cabut anak panah yang menancap ditubuhku, kerna itu merupakan bantal ksatria-ku"

Bima :
"Wahai, Durna Guruku! dimanakah letak kemuliaanku? bila itu terletak di gung susuhing angin (sarang angin) atau "tempat pusat emosional manusia", maka aku akan mencarinya sampai ketemu!". Akhirnya Bima berhasil menemukan Dewa Ruci (nafsu putih) , yang bersemayam dalam dirinya, setelah mampu menaklukkan segala rintangan (nafsu hitam).

Arjuna :
" Wahai Karna, walaupun kita masing masing dilindungi oleh para Dewa, tetapi kau tak dapat menghindari takdirmu dengan panah Gondewa ini. Panah ini akan  menghantarkan sukmamu menemui Anakku Abimanyu, ya keponakanmu sendiri, yang telah gugur di tanganmu.   
$$$

Minggu, 19 Juni 2011

Syair Lagu Lir Ilir

LIR ILIR
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suraka surak hiyo

Terjemahan lagu Lir Ilir.
  1. Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
  2. Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
  3. Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
  4. Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)
  5. Cah angon, cah angon (Anak gembala, anak gembala)
  6. Penekno Blimbing kuwi (Panjatlah (pohon) belimbing itu)
  7. Lunyu-lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
  8. Kanggo mbasuh dodotiro (untuk membasuh pakaianmu)
  9. Dodotiro, dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)
  10. Kumitir bedah ing pinggir (terkoyak-koyak dibagian samping)
  11. Dondomono, Jlumatono (Jahitlah, Benahilah!!)
  12. Kanggo sebo mengko sore (untuk menghadap nanti sore)
  13. Mumpung padhang rembulane (Mumpung bulan bersinar terang)
  14. Mumpung jembar kalangane (mumpung banyak waktu luang)
  15. Yo surako surak iyo!!! (Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)
  • Makna yang terkandung lagu di atas adalah sbb:
  1. Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
  2. Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
  3. Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
  4. Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)
Makna: Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan Tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.
  1. Cah angon, cah angon (Anak gembala, anak gembala)
  2. Penekno Blimbing kuwi (Panjatlah (pohon) belimbing itu)
  3. Lunyu-lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
  4. Kanggo mbasuh dodotiro (untuk membasuh pakaianmu)
Makna: Disini disebut anak gembala karena oleh Alloh, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya? Si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing yang notabene buah belimbing bergerigi lima buah. Buah belimbing disini menggambarkan lima rukun Islam. Jadi meskipun licin, meskipun susah kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut dalam arti sekuat tenaga kita tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya. Lalu apa gunanya? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa.
  1. Dodotiro, dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)
  2. Kumitir bedah ing pinggir (terkoyak-koyak dibagian samping)
  3. Dondomono, Jlumatono (Jahitlah, Benahilah!!)
  4. Kanggo sebo mengko sore (untuk menghadap nanti sore)
Makna: Pakaian taqwa kita sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Alloh SWT.
  1. Mumpung padhang rembulane (Mumpung bulan bersinar terang)
  2. Mumpung jembar kalangane (mumpung banyak waktu luang)
  3. Yo surako surak iyo!!! (Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)
Makna: Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas  ketika kita masih sehat (dilambangkan dengan terangnya bulan) dan masih mempunyai banyak waktu luang dan jika ada yang mengingatkan maka jawablah dengan Iya!!!…… Lir ilir, judul dari tembang di atas. Bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya
Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita gaungkan syiar Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

( Sumber : menone.wordpress.com)
Sunan Kalijaga alias Raden Mas Said, satu diantara Walisongo, 
penyebar agama Islam di  Pulau Jawa