Tampilkan postingan dengan label Raga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2011

Apa Itu Mati ?


Mati adalah situasi dimana roh manusia yang suci meninggalkan badan wadag atau jasad manusia karena jasad itu telah rusak atau tak berfungsi secara biologis.
Setelah mati roh manusia akan mengembara di alam roh.

Budhiroso percaya bahwa alam roh terbagi dalam sekat sekat spektrum, artinya ada alam roh putih, alam roh hitam dan lain lain. Alam roh putih akan dihuni oleh roh manusia yang dengan sukarela meninggalkan jasad kasarnya, ia rela dan berhasil melepaskan diri dari samsara.
Alam roh hitam akan dihuni oleh roh manusia yang belum rela meninggalkan badan kasarnya atau mati secara tak rela/wajar, seperti kecelakaan, dibunuh atau mati karena banyak pikiran/beban, misalnya banyak hutang atau masih ingin mendapatkan samsara.

Proses mati dapat dimisalkan sebagai berikut :
Ambil contoh sebotol kaleng cocacola, bila matinya wajar, maka "tutup" cocacola itu dibuka oleh molaikat Mikhail kemudian isinya atau ruhnya dihisap/diambil, bila matinya tak wajar, maka itu bisa dimisalkan sebotol kaleng cocacola yang terlindas ban mobil, maka isi cocacola atau ruhnya muncrat tak tentu arah atau gentayangan. Agar ruh itu bisa mendapat perlakukan wajar di pengadilan akhirat, maka harus diadakan ritual dengan kenduri dan doa doa. 





Apa itu Hidup?

 Budhiroso percaya adanya alam ruh, yaitu alam yang dihuni manusia setelah mengalami kematian raga atau sebelum lahir ke dunia atau sebelum ada di perut ibu.

Budhiroso mengangggap bahwa hidup adalah proses menjalani "hukuman" didunia dengan dikaruniai "kenikmatan rasa-fungsi indrawi", "akal, nafsu dan perasaan", "anugerah alam seisinya" dan "sebagai wakil Tuhan untuk mengelola alam itu (khalifatullah)". 



Darimana kita berasal?

Ini menjadi pertanyaan yang terasa sulit untuk dijawab dan selalu menjadi perdebatan para ahli filsafat.Budhiroso memiliki pandangan tersendiri tentang asal usul manusia. Setelah Tuhan menciptakan jagad raya, maka ia bermaksud mengisi jagad raya itu dengan mahluk yang memiliki 3 tingkatan. Tingkatan pertama adalah manusia, tingkatan kedua adalah hewan dan tingkatan ketiga adalah tumbuhan. Manusia pertama laki laki adalah Adam yang tinggal di sorga, lalu Adam diberi pendamping seorang wanita, yaitu Hawa. Mereka hidup dengan bahagia di sorga, sampai suatu ketika timbul bujuk rayu Iblis yang berwujud seekor ular. “Hai, Adam makanlah buah khuldi, maka engkau akan mendapatkan hidup kekal di sorga” rayu Iblis. Hawa tak tahan dengan godaan ini, maka ia menyuruh Adam memetikkan buah itu lalu mereka berdua memakan buah yang sebelumnya merupakan buah larangan Allah. “Tinggallah engkau di sorga dan jangan dekati buah ini (khuldi)” Allah berfirman suatu ketika. Nampakanya bujuk rayu Iblis lebih mengena ke telinga Adam. Mereka makan buah itu, lalu Allah murka dan kemudian menghukum Adam dan Hawa dengan “membuang” mereka ke dunia (bumi) hingga sampai suatu saat yang ditentukan (kiamat). Allah menciptakan matahari untuk menamani Adam dan Hawa disiang  hari sedang bila malam mereka akan ditemani oleh rembulan.

Bagaimana menerangkan kisah pembuangan ini?
Sebelumnya Allah telah menciptakan terlebih dulu tumbuhan dan binatang. Pada saat diusir dari sorga, Adam dan Hawa - diikuti Iblis- diturunkan ke dunia (bumi). Allah meniupkan Roh Adam dan Hawa pada janin Pithecantropus Erectus (monyet yang berdiri tegak) yang berada di wilayah Wadi Al Shatii - Libya (Wadi adalah wilayah dengan sumber mata air purba - lihat gambar dengan lingkaran merah), lalu janin itu membesar dan lahirlah seorang "anak manusia" yang kelak setelah besar merasa malu dalam kondisi telanjang  lalu menutupi alat kelaminnya dengan dedaunan dan kulit kayu, penutupan ini juga untuk menlindungi organ vital itu. Hanya Adam dan Hawa yang memiliki rasa malu, sementara inangnya tidak, oleh karena itu dalam perkembangannya Adam dan Hawa berevolusi menjadi manusia yang lebing tinggi tingkatannya dari monyet. Adam dan Hawa memiliki 3 anak, dua laki (Habil dan Kabil) dan 1 anak perempuan (Siti Romlah) . Pada saat menjelang dewasa, Habil dan Kabil berebut adiknya, Siti Romlah untuk dikawini. Atas kebijaksanaan sang ayah, Adam, maka Habil berhak mendapatkan Siti Romlah, dengan persembahan sebuah domba ke pada ALLAH, tapi Kabil berhasil membunuh Habi dan merebut Siti Romlah. Dari perkawinan ini menghasilkan 13 keturunan, yang akhirnya menjadi cikal bakal bangsa bangsa di muka bumi, maka beranak pinaklah Adam dan Hawa di bumi hingga sekarang. Jadi keberadaan kita di dunia ini karena leluhur kita Bapa Adam dan Ibu Hawa telah melanggar larangan. Itu berarti leluhur kita itu telah melakukan perbuatan dosa. Lalu keturunan Adam dan Hawa menebus dosanya dengan tinggal di planet bumi, sampai waktu yang ditentukan (kiamat).

(Wilayah Wadi Al Shatii, Libya : tempat awal diturunkan Adam dan Hawa dari sorga)