Tampilkan postingan dengan label Kedurus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kedurus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2022

Pasar Malam Kagetan

Bundaran GSI Kedurus - Surabaya

Mari kita rehat sejenak di bundaran ini untuk melepas lelah sambil ngeceng ria sembari menikmati seruputan kopi atau wewedangan. Bila malam minggu atau week end ramainya bukan main seperti pasar malam. Rakyat tumplek blek lesehan diatas rerumputan atau bercengkerama di atas motor. Lokasinya di pinggir perumahan GSI Kedurus – Surabaya. Jajanan disini dipajang dengan harga kisaran 1000 – 15.000 rupiah. Cukup murah untuk biaya kongkow2 melewatkan dinginnya malam, ditemani lampu2 lapak pedagang kecil mikro yang datang dari penjuru Surabaya, bahkan ada pedagang pendatang yang datang dari jauh, dari Brebes – Jawa Tengah untuk mengais rejeki malam hari.

 


Wahai bundaran GSI Kedurus

Dihalamanmu kami bertemu kawan baru.

Semoga dapat menjadi sahabat yang lekat tak lekang oleh waktu.

Suasanamu yang asri dan ramai penuh insan yang bertemu

 untuk memadu kasih atau sekedar melepas rindu ditemani

 jajanan yang murah dan lezat, menyatu dengan selera.

Disini para keluarga bertemu dengan pedagang kaki lima

untuk rehat sambil mengasuh anak cucu

Ayo kawan mari datang kemari, sebab tikar lesehan sudah digelar.

Itu berartai kisah nyante sudah bisa dimulai untuk menuai syahdu.

 

Jumat, 17 Juni 2022

Sawah Berkah

Sawah Kedurus

Di Pulau Jawa, luas lahan sawah pertanian, kian menyusut. Kenapa? Karena tergusur oleh pembangunan perumahan penduduk yang kian hari terus bertambah atau berubah fungsi menjadi properti perusahaan/pabrik. Tak dapat disangkal lagi, nasib keberadaan sawah akan terancam musnah, bila taka ada upaya yang serius untuk mempertahankan keberadaannya. Bila sawah di Jawa musnah, maka kemana nasib perut kita akan bergantung? Mungkin ke hasil sawah di Pulau Papua atau Kalimantan. Pembukaan lahan sawah di kedua pulau ini merupakan proyek besar untuk menunjang kebutuhan asupan pangan rakyat Indonesia. Demikian juga lahan sawah di kelurahan Kedurus – Surabaya, hanya menyisakan sekitar 25 petak atau kira kira 2 hektar saja. Namun demikian, sawah Kedurus merupakan destinasi wisata murah oleh penduduk sekitar atau para pendatang yang datang berkumpul dengan keluarga menggelar tikar di pinggir jalan. Pemandangan deru mesin traktor pembajak lahan dan burung bangau yang mencari makan disamping Pak Tani merupakan pemandangan yang eksotis kala datang jelang musim tanam tiba. Saat ketekunan para petani tersirat dalam aksi penanaman bibit padi menimbulkan suasana yang nyaman karena lahan telah berfungsi seperti biasanya.  Ya rutinitas tanam padi di sawah merupakan pemandangan yang penuh optimisme akan hasil panen padi yang kelak akan dituai. Sementara itu, bila musim petik padi telah tiba, maka gairah petani sedikit terganggu dengan keberadaan ratusan burung pipit yang terbang berkelompok lalu hinggap di batang padi untuk makan bulir padi yang sudah menguning. Kentong-pun dibunyikan bertalu talu, katapel disiapkan untuk mengusir hama padi musiman itu. Hidup sebagai petani memang akan dituntut kesabarannya, serta selalu mohon pada Tuhan agar panen musim ini, lahan bisa menghasilkan padi yang maksimal dengan harga gabah petani yang stabil. Petani selalu berharap agar harga pupuk murah bersubsidi tidak berhenti mengucur, serta serangan hama tidak terjadi. Selamat panen, Pak Tani!
 
Wahai sawah Kedurus,
Janganlah engkau pergi dari sisiku.
Hamparanmu yang sejuk menghijau membuat kami selalu bangga
Akan kesuburan tanah katuilistiwa ini.
Engkaulah anugerah Tuhan yang paling kami syukuri.
Bulir padimu yang kuning keemasan kami nanti siang dan malam.
Puji Tuhan atas hasil panen yang melimpah ini.
Demi ketahanan pangan bangsa ini,
Kami tak segan berjibaku mengolahmu, 
walaupun bermandikan keringat dan lumpur.
Melenyapkan gulma dan hama merupakan tugas rutin kami,
disamping memberikanmu asupan pupuk yang memadai.
Cepat besar dan tumbuhlah, wahai padiku, agar datang rasa cintaku

pada kemurahan Tuhan, yang melindungi.
 
 

Sungai Merana

Sungai Brantas – Kedurus

Masih teringat dengan jelas, bagaimana aku menyelami pinggiran sungai Brantas saat masa kanak kanakku. Airnya bening bersemu hijau sebagai tanda bahwa sungai masih bersih dan sehat. Saat itu mandi bluron di aliran sungai selalu dihampiri oleh perahu penambang pasir. Perahu yang melaju itu aku gandoli, sehingga tubuh kecilku terseret sampai jauh.  Demikian kisah gaulku yang penuh dengan riuh teriakan anak anak saat membuang waktu dengan mandi di sungai. Kini kenangan itu sudah sirna, kerna warna air sungai saat ini sudah kuning kecoklatan, pertanda keruh dan kotor, serta banyak kandungan sampah yang dibuang kesungai, sehingga tak ada lagi anak anak yang mandi bluron disungai ini. Banyaknya pabrik yang berdiri di sepanjang aliran sungai, membuat sungai ini sekarat karena polusi. Nafas sungai yang menanggung beban kehidupan rakyat semakin sesak.  Jumlah ikan menyusut bahkan ada yang kini langka, yaitu ikan areng areng, sili dan papar. Jangan menangis wahai sungai Brantas, kami percaya dengan kehadiran warga yang semakin sadar akan kebersihan lingkungan, suatu saat nanti kau akan bersih kembali.
 
Wahai sungai  Brantas
Kami tahu beban hidupmu semakin berat
Sebab sarat akan limbah dan sampah
Bersabarlah, sebab generasi baru kami, akan hadir dengan 
visi kebersihan lingkungan yang lebih baik.
Mereka mau tak mau akan membentuk komunitas pecinta sungai, atau
LSM yang sarat dengan gagasan hidup bersih dan berkelanjutan.
Akan ada komunitas Jogo Kali yang dengan berkala 
akan memunguti sampah di badanmu serta memberi peringatan 
bagi warga pinggir sungai untuk tak membunag sampah atau kotoran ke tubuh sucimu.
Akan ada anggaran yang mengalir dari pemda untuk membuat sungai bersih kembali.
Cepat atau lambat kau akan berubah menjadi bening, seperti sungai Aare di Swiss.
Percayalah!

 

Kamis, 16 Juni 2022

Romantisme Waduk


Waduk Kedurus - Surabaya

Pada dasarnya banjir memang menjengkelkan. Luapan air itu bila tak diberi jalan kerendahan, maka akan meluber ke jalanan dan akhirnya masuk ke rumah. Lantas apa usaha kita, agar air kotor itu tak masuk wilayah kenyamanan? Jawabnya tentu tendon air raksasa harus dibangun sebagai muara untuk penampungan sementara sebelum dialirkan ke sungai. Betapa senangnya hati rakyat yang biasa tenggelam oleh luapan air dimusim hujan, kini bisa bernafas lega karena limpahan air bah itu,  yang sering  masuk rumah kini bisa ditampung dalam waduk.  Salah satu waduk itu bernama Waduk Kedurus. Waduk ini fungsinya tidak melulu menampung air, tapi sudah menjadi destinasi wisata air oleh warga sekitar kampong. Bila musim kemarau, debit air waduk akan menyusut sehingga akan nampak lumpur  dasarnya  Pada saat inilah anak anak akan turun beramai ramai ke waduk untuk gogo menangkap ikan. Berkah  air susut ini akan dimanfaatkan oleh burung bangau atau blekok untuk mengais ikan ikan kecil, sehingga menimbulkan pemandangan yang eksotis bagi penikmat satwa burung ini. Sungguh mengejutkan karena hanya bermodalkan dua  tangan, bisa diproleh sampai 5 kg ikan nila. Sedangkan bila air pasang, maka akan mengundang orang untuk datang menebarkan jala atau pancing. Waduk ini pernah dipakai sebagai media olahraga air oleh para pemain ski air, tapi sejak air sering menyusut, maka olahraga ini tak bisa beraksi lagi. Juga korps mariner karangpilang pernah berlatih renang dan dayung di waduk ini. Sesekali para pemburu ikan dengan senapan modifikasi dan katapel akan berburu nila dengan meluncurkan tombak panah mini. Mampirlah bila ada waktu, Bung!
 
Wahai waduk Kedurus,
Tubuhmu yang selalu menganga lebar siap untuk menelan luapan air hujan.
Dan ikan nila-pun kian riuh berkembang biak.
Lekaslah besar sayang, agar para pelancong suka menangguk rejeki musiman.
Janganlah engkau kering kerontang, sehingga pemandangan deretan para pemancing hilang dari pandangan.
Engkaulah tujuan para ksatria marinir beradu renang dan mendayung gagah di garbamu.
Atau para sejoli memadu kasih dan para remaja gaul ditepianmu.
Kehadiranmu di kampong kami tuk mengusir sepi dan membunuh waktu
Canda ceria tawa berderai menggema di pinggiranmmu yang asri.
Buatlah jiwa kami tentram dan nyaman disampingmu
             
                                                                                                                                             

Selasa, 14 Juni 2022

Jembatan Gaul

                                                 


Lokasi Jembatan Kembar 
Waduk Kedurus Dukuh - Surabaya

Apa perlunya kita membuat jembatan? Tentu untuk menghubungkan wilayah terisolir dengan dunia luar, agar keterbelakangan hidup bisa diatasi. Memang jembatan diperlukan untuk menyatukan wilayah, agar kawasan bisa menjadi satu kesatuan ekonomi dan budaya. Ada satu jembatan yang berfungsi untuk gaul dan adu nyali, yaitu jembatan kembar Kedurus, yang bertengger kokoh diatas waduk. Inilah satu satunya jembatan yang dibangun untuk asesori wilayah, bukan bermanfaat untuk menyatukan wilayah, karena ujung jembatan yang satu tak memiliki akses jalan ke perkampungan, tapi ke area pesawahan, hingga kalau sampeyan berjalan melewati jembatan ini akan balik kucing alias kembali karena taka ada jalan lanjutan. Jembatan ini menjadi destinasi untuk wisata rehat pagi dan sore hari. Pagi hari menjadi akhir tujuan lari pagi warga sekitar, sedangkan siang hari menjadi tempat latihan panjat rangka jembatan sehingga nyali dan keberanian bisa terasah sejak kecil, akhirnya sore hari tiba dengan diiringi canda ria tawa mengantarnya untuk menutup hari.

 

Wahai, Jembatan Kedurus                                                                                        
Tubuhmu yang kuat dan kokoh membuat,
Kuserahkan jiwa raga  nyali anak anak kami
Untuk kamu asuh dengan berbaluryang kuat dan berani.
Merayapi tubuh rangkamu yang berbalut beton licin.
Tubuh tubuh kecil itu dengan sigap memanjat rangka bak pemanjat tebing pro.
Ya dengan kaki kaki mungilnya anak anak kami mencoba untuk menapaki licinnya kehidupan.
Sebagai bekal untuk menjalani kerasnya tantangan, kelak yang akan mereka hadapi.