Selasa, 29 Maret 2022

Apa Itu Pawang?

 


Adalah sifat manusiawi, bila kita ingin lepas dari bencana. khususnya bencana  akibat gaya alam yang merusak, semisal bencana hujan badai, gempa, gelombang laut tinggi, tanah longsor juga letusan gunung berapi. Berbagai upaya penyelamatan sewajarnya dilakukan. Baik upaya fisik dan spiritual. Upaya fisik  itu berupa pemasangan instalasi  peringatan dini, ramalan cuaca, pembangunan rumah tahan gempa, penanaman pohon reboisasi atau pengalihan awan agar menetes menjadi hujan di tempat lain dengan penyemaian bahan kimia. Untuk memberi peluang atas kepercayaan kita bahwa gejala alam ada yang mengatur, maka kita butuh usaha yang bersifat spiritual dan hal ini termasuk memberi peluang kepada “teknik” kearifan local yang tersembunyi, yang dimiliki oleh orang orang professional yang sudah lama bergelut dengan ilmu itu. Ya, bencana memang amat menyengsakan bila gagal mengantisipaisnya. Orang yang biasa mengendalikan kekuatan alam dengan kekuatan supranaturalnya disebut pawang. Pawang adalah pengendali. Apa yang dikendalikan oleh pawang  biasanya adalah hal yang krusial atau penting. Keahlian menjadi pawang diperoleh dengan cara menjalankan lelaku spiritual dengan syarat2 yang ketat. Membaca mantra dan meditasi adalah dua hal yang amat penting, disamping syarat ketersediaan ubo rampe yang mengiringi ritual yang disebut sesajen. Dunia tak kasat mata itu memang ada. Di dunia ini bersemayam roh halus atau mahluk ghoib. Dalam dunia klenik ,  sudah biasa membuat ritual pemanggilan roh halus yang berupa arwah leluhur untuk diajak bekerjasama mengendalikan kekuatan alam. Bahkan ritual pemanggilan roh halus yang asyik dan menegangkan biasa dilakukan para remaja saat membuat boneka jaelangkung. Ya, ternyata  bercengkerama dengan dunia ghoib merupakan permainan yang menyenangkan. Itu bukan syirik, karena kita diberi kepintaran untuk berhubungan dengan roh halus yang ciptaan Tuhan itu. Dan kita percaya bahwa yang ghoib itu memang ada. Ayo kita belajar ilmu spiritual untuk menghasilkan "manusia baru" yang menebar kebaikan pada umat manusia.

$$$

Kamis, 10 Februari 2022

Makna HONOCOROKO

Makna dalam Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka, yang mengandung ajaran Tauhid…

01. Hananira Sejatine Wahananing Hyang,

      Asalmu karena kehendak Allah


02. 
Nadyan ora kasat-kasat pasti ana,

      Walaupun tidak nampak tetapi ada


03. 
Careming Hyang yekti tan ceta wineca,
      Allah yang Kuasa tidak bisa ditebak (dinyatakan),

 

04. Rasakena rakete lan angganira,
      Rasakan dalam tubuhmu

 

05. Kawruhana ywa kongsi kurang weweka,
      Ketahui sampai kurang waspada

 

06. Dadi sasar yen sira nora waspada,
      Jadi salah kalau kurang waspada

 

07. Tamatna prahaning Hyang sung sasmita,
      Nyatakan Allah memberi petunjuk

 

08. Sasmitane kang kongsi bisa karasa,
      Petunjuk sampai bisa merasakan

 

09. Waspadakna wewadi kang sira gawa
      Waspadalah rahasia yang kau bawa

 

10. Lalekna yen sira tumekeng lalis (sekarat),
      Lupakan sampai sekaratil maut (menjelang ajal/koma),

 

11. Pati sasar tan wun manggya papa,
      Mati yang salah menjadi susah

 

12. Dasar beda lan kang wus kalis ing goda;
      Dan beda bagi yang tidak tergoda

 

13. Jangkane mung jenak jenjeming jiwarja,
      Tujuannya hanya tentram jiwanya

 

14. Yitnanana liyep luyuting pralaya (angracuta yen pinuju sekarat ),
      At’tauhid atau khusyuk waktu sekaratil maut,

 

15. Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan,
     Ternyata sepi (hilang) sifat dunia,

 

16. Madyeng ngalam paruntunan (?) aywa samar,
      Dalam alam barzah ternyata samar (gaib),

 

17. Gayuhane tanalijan (tan ana lijan) mung sarwa arga,
      Tujuan tidak lain hanya satu

 

18. Bali Murba Misesa ing njero-njaba
      Pulang menguasai Lahir Batin (Esa),

 

19. Tukulane wida darja tebah nista,
      Tumbuhnya benih menjauhkan aniaya

 

20. Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.

      Hati-hati manuju jalan kedunia.

 

Sumber : Buku Wedaran Wirid I,

karangan Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono.

Surabaja : Djojobojo, 1962-64


Selasa, 29 Juni 2021

Negeri Atas Air


Ini kuasa Tuhan. Kita dilahirklan di negeri atas air. Dimana 66% luas wilayahnya adalah air. Selayaknya budaya air perlu kita ajarkan pada anak cucu, semisal kepintaran berenang dan pembuatan perahu/kapal. Kita patut bangga pada para leluhur kita, yang merupakan ‘nenek moyangku orang pelaut’. Air mempersatukan wilayah pulau pulau kita yang ribuan jumlahnya. Masih ingatkah kita akan jargon geopolitik kita yaitu - Indonesia sebagai poros maritim dunia? Kita boleh berharap melalui semangat kejayaan maritim di masa lalu, kesejahteraan rakyat akan manis tercapai. Lantas apa harapan kita agar kejayaan maritime kita akan terwujud. Pertama, tempat bergantung kita adalah profesi nelayan dan pedagang antar pulau. Segera sarana dan prasarana tata kelola kelautan kita bisa dijangkau oleh nelayan kita yang masih dikuasai oleh para nelayan tradisional. Kedua, sudah sepatutnya kita harus mampu berswadaya pembuatan kapal dalam negeri yang murah, tapi kuat. Ketiga, laut sebagai asset perairan harus dimanfaatkan sebaik baiknya, agar kandungan potensi kelautan semisal ikan, tidak mati tua, karena tak dipanen. Dan keempat, yang tak kalah pentingnya adalah untuk menyadari bahaya air, maka perlu diedukasi pada para nelayan dan para penumpang kapal kita, agar patut waspada pada potensi gelombang laut yang dapat menimbulkan bencana, kelalaian karena sarat penumpang atau kapal rusak karena sudah tua. Ini penting, sebab banyak kejadian kecelakaan atas air yang timbul karena tak menyadari potensi bahaya air yang melimpah ini.

                                                                      

Senin, 28 Juni 2021

Korupsi? No Way...



Korupsi adalah pencurian. Ia sama predikatnya dengan pencuri ayam, yaitu maling. Hanya pelaku korupsi biasanya kaum cerdik pandai, yang menggunakan kepintarannya untuk menangguk uang negara atau korporasi. Perilaku korupsi itu seperti penyakit gudik, bisa menular, bila tidak diredam dengan semangat hidup sederhana. Jalan pintas untuk menjadi kaya yang salah jalan ini, kian hari kian menggurita. Mungkin disebabkan hukumannya yang terlalu ringan, sehingga tak menemukan jera untuk melakukannya. Seandainya sampeyan jadi pejabat, tentu akan bersuka cita, apalagi bila diserahi sejumlah uang untuk anggaran belanja. Amanat ini bila tak difasilitasi dengan moral pengabdian sepenuhnya, maka bukan tak mungkin akan sampeyan selewengkan.  Biasanya para koruptor lupa kalau perbuatannya merupakan kejahatan besar dan massif. Lantas siapa saja yang jadi korban? Tentu para sanak saudara alias keluarga serta Negara/korporasi. Keluarga  akan diterpa malu yang tak berkesudahan, sedang Negara/korporasi akan terganggu ” jalan hidup”nya. Korupsi akan terjadi bila ada niat jahat dari para pelakunya, juga adanya kesempatan. Korupsi akan membuat pilar pembangunan keropos dan roda pemerintahan akan terganggu. Saya setuju bila korupsi dihukum berat dan dilakukan pemiskinan dengan cara menyita semua uang hasil korupsi itu.

Minggu, 27 Juni 2021

Apa Itu Suluk Jagad ?


Memang benar kita lahir tidak meminta, tapi Tuhan telah menciptakan sarana untuk mencapai hidup berkecukupan di planet bumi. Tidak kurang suatu apa. Di planet ini, manusia tidak sendirian. Ia ditemani oleh binatang dan tumbuhan. Juga ditemani oleh gejala alam, yaitu panas sinar matahari,  hujan, gaya grafitasi dan lain lain. Semuanya itu sudah diatur sedemikian rupa, sehingga terciptalah siklus kehidupan mahluk yang saling bergantungan satu dengan lainnya. Lantas kenapa masih ada juga manusia yang merasa kesepian? Itu karena dalam jiwa masih kosong pemahaman tentang kemurahan Tuhan. Manusia cerdas selalu mencari nilai nilai baru untuk menopang kehidupan spiritualnya. Lantas, apa yang ia perbuat untuk mengusir sepi itu? Ya, ada yang terima begitu saja apa adanya  dan ada pula yang terus mencari dan mencari keberadaan si pencipta dan kreator alam yang Maha Jenius ini. Pencarian Sang Kreator alam itu bisa terjadi di dalam kitab kitab suci, didalam rumah rumah ibadah melalui kepemelukan agama. Ada juga yang secara sadar mengakui keagungan Tuhan itu melalui semua ciptaanya baik di langit dan di bumi. Pola pendekatan ini akan menemukan jati diri Tuhan dengan sebuah pertanyaan kenapa alam diciptakan Tuhan dengan fana atau rusak? Tidakj kekal, tapi penuh dengan perencanaan yang mengikat “keabadian alam” sampai batas waktu yang ditentukan. Proses pemahaman dan pencarian sang pencipta alam ini melalui pemahaman alam jagad ciptaan Tuhan disebut Suluk Jagad. Dengan kata lain, pencarian Tuhan bisa didekati dengan pembelajaran dan pengkajian eksistensi  alam semesta yang Maha Indah ini.

                                                                    $$$


Jumat, 25 Juni 2021

Gerakan Islam Minimalis (Islam Wektu Siji)

(Saya, Ahmad Nur Syifa Al-Kedurusi bertanggung jawab penuh akan akibat dari ijtihad/pemikiran ini dihadapan Allah. Mohon tidak komentar, sebab komentar dalam tulisan ini akan kami hapus, agar tidak menimbulkan perdebatan yang tidak perlu)

Dari jutaan pemeluk Islam di Indonesia, berapa yang mengamalkan sholat 5 waktu? Pasti sedikit, tidak lebih dari 20% atau malah kurang. Ya, sholat memang ibadah yang –entah kenapa orang pada malas melakukannya. Bisa dengan alasan sibuk atau alasan tetek bengek lainnya. Lalu dalam tulisan saya kali ini ingin membangkitkan gairah sholat bagi pemeluk Islam yang belum melaksanakan sholat sama sekali. Saya menamakan gerakan ini sebagai Gerakan Islam Minimalis atau Islam Wektu Siji, atau Islam sholat 1 (satu) kali sehari saja, tidak 5 kali karena itu masih terlalu berat. Nanti diharapkan setelah mencoba sekali dan mampu menikamti lekezatan sholat, maka yang bersangkutan akan menambah porsi sholatnya sehingga bisa 5 kali sehari. Apa alasan gerakan ini saya sampaikan kepada sampeyan yang belum sholat, agar jumlah pemuluk "Islam KTP" di Indonesia berkurang dan membuat dunia Islam semakin semarak. Menilik sejarahnya Rosul Muhammad wahyu perintah sholat oleh Allah menurut Al-quran tidak menyertakan jumlah serta waktunya. Sholat dengan 5 waktu (Subuh, dhuhur, ashar, magrib dan Isya) adalah murni gagasan pribadi Rosul. Oleh karena gagasan, maka jumlah waktu itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi bangsa Arab saat itu. Perlu diketahui bahwa saat turunnya Islam  terjadi pada saat jaman kebodohan|(jahiliyah) dan situasi perang dengan kaum quraish yang memerangi dakwah. Coba kita perhatikan, bukankah cara berbaris dalam sholat dengan 1 imam didepan itu mirip dengan barisan perang? Dan alasan seruan adzan 5 kali sehari itu mungkin dibuat sebagai  latihan komando untuk berperang melawan nafsu. Mari kita sholat, agar bila nantinya pengadilan akherat itu ada, maka kita sudah siap, bila ternyata orang mati tak dapat dibangkitlkan kembali untuk dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya selam hidup didunia, kita tidak rugi, hitung hitung sholat kita itu, untuk relaksasi spiritual/meditasi. Sekian dan Ihdinas sirothol mustakim.***   


Kamis, 24 Juni 2021

Maaf, Ya Alloh !



Hujan baru saja berhenti.

Tanah masih lembab dan becek disana sini.

Becek yang membawa berkah suasana – dingin senja.

Sementara, orang pada malas keluar rumah.

Apakah mereka menghangatkan diri di kamar, gelisah?

Sungguh hening suasana.

Rembulan purnama yang menjadi saksi.

Kebisuan alam.

Terkadang melintas kelelawar di atas atap.

Apa gerangan yang kau cari, wahai sahabat malam ?

Bermandi cahaya rembulan itu, aku bersemedi.

Meditasi  untuk mencari jati diri.

Dupa sudah kunyalakan.

Baunya menebarkan magis, sampai ketulang sumsum.

Cahaya remang rembulan, memaksaku menatap langit.

Awan masih tersisa, terserak,  menggumpal menebarkan kedamaian.

Sementara nun jauh disana.

Dirona temaram cahaya rembulan,  menerangi atap genting,

Yang basah dan dingin seperti embun diujung daun.

Tiba tiba terdengar suara adzan subuh dari corong masjid.

Tapi aku relakan tidak sholat pagi ini - ampuni aku Tuhan.

Hanya kuganti dengan eling dan dzikir Al Iqra', sebagai gantinya.

Ya Allah Ya Jibril Ya Rosul Ya Salam lalu baca Al- Fatihah 4x

Dalil eling pada Allah  QS Ali Imran 191:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ

السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

$$$