Minggu, 07 Juni 2020

Pitutur Agung #3 (Apa Itu Cahyo Srengenge?)

"Manfaatkan Secara Maksimal Energi Gratis (Sinar Matahari) Yang Ramah Lingkungan"



Kemunculanya di ufuk timur, pagi hari terjadi setiap hari.
Selama bumi masih berputar, memujanya.
Saat ia muncul, cahayanya yang kuning keemasan terang merona, membelah langit.
Disambut oleh riuhnya kicaun burung kutilang, yang baru bangun dari peraduannya.
Panasnya yang membakar, ditunggu oleh semua mahluk planet bumi.
Dan disambut gembira oleh binatang malam, sebab saat itulah yang tepat untuk waktu tidurnya.
Cahayanya yang menerangi, mejadi sumber kehidupan.
Untuk tumbuh dan mengusir dingin.
Untuk bernafas dan hidup.
Untuk menerangi dan sumber energi terbarukan –gratis.
Tak terhitung jumlah srengenge di jagad raya yang maha luas ini.
Matahari kita, salah satunya.
Dan bisa hilang menjadi kabut nebula, bila telah meledak dimasa akhir usianya.
Srengenge pernah dipertuhankan oleh manusia, termasuk nabi Ibrahim.
Sayang sekali masih kurang dimanfatkan panasnya.
Sekaranglah saatnya beralih dari energy fosil, yang mencemarkan udara itu.
Energi panas srengenge bisa diubah menjadi energi yang tersimpan dalam baterai.

Selasa, 02 Juni 2020

Pitutur Agung #2 (Apa itu Banyu Urip ?)




“Jernihkanlah air, jangan sampai kotor dan keruh”

Air adalah sumber kehidupan yang nyata ada dan tak akan hilang di muka bumi,
sampai waktu yang ditentukan Tuhan (kiamat).
Air menghidupi tubuh manusia, hewan dan tumbuhan. 
Penampilan anda yang harum dan necis-rapi tak luput dari jasa air,
karena pakaian yang anda kenakan tidak bau dan kotor. 
Ya, sifat air itu membersihkan, men-sucikan menghilangkan yang kotor dan berdebu. 
Jangan sakiti air dengan sampah atau limbah yang beracun, sebab ia akan marah. 
Ia marah dengan meluapnya banjir dan hempasan gelombang laut. 
Ya, air bisa marah bila tertampar angin badai dan rusaknya permukaan/kulit bumi.
Waspadalah dengan sahabat air, bisa berupa tumbuhan pepohonan di hutan, 
bebatuan atau tanah pada lapisan permukaan kulit bumi, tempat air bersembunyi. 
Banjir bandang yang mengangkut batuan dan balok pohon,
tanah longsor yang menggusur pemukiman serta tsunami adalah 
perbuatan pembalasan air yang paling merepotkan 
serta membahayakan umat manusia. 
Kerna itu marilah kita bersahabat dengan air. 
Buatlah lubang resapan, sumur atau empang untuk menampung dan memanfatkannya, 
Air yang hidup itu juga membutuhkan rumah dan 
jangan lupa bersihkanlah selokan, sungai dan laut 
agar air bisa bernafas dengan lega, 
menguap bersama udara dan tidak marah lagi. 

"Terimakasih ya, akhirnya aku bisa bernafas lagi" kata si Air.



Apakah Urat Candi Itu?



Bangunan itu tetap tegar berdiri ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.
Sayangnya luput dari amatan detail-perhatian kita.
Tubuh candi yang kokoh sarat menyimpan pesan, kesan dan makna.
Lihatlah lapuknya tak termakan oleh rayap, tapi oleh waktu dan tangan jahil manusia.
Dibuat disain oleh para ahli bangunan pada jamannya.
Strukturnya yang ciamik, simple dan membukit membuat onggokan 
yang eksotis itu terserak ditempat tempat sepi. 
Apakah tidak kesepian kau, wahai candi?
Jarang atau bahkan tak ada candi di dalam kota, tapi biasanya nyempil disudut wilayah.
Dulu mungkin banyak candi di tengah kota, tapi kini telah musnah karena tergusur bengisnya jaman.
Coba berikan sejenak perhatian kita. Sanggup dan bersediakah sampeyan?
Pada dinding candi, terlihat urat candi, berupa gambar ornament yang biasanya terpahat –menempel kuat, tapi sekarang sudah buram karena terkikis oleh cuaca dan waktu.
Gambar mosaik itu bisa berisi pesan moral atau kisah kisah yang dialami oleh sang empunya candi pada jamannya. Bisa peristiwa ditataran lingkungan kerajaan atau rakyat jelata. Biasanya cerita berasal dari kisah pewayangan dan ritual keagamaan. Sering terpahat gambar orang, binatang dan tumbuhan. Kadang terdapat pula gambar media transportasi dan peralatan-perkakas pada jaman itu, misalkan  perahu dan garu (alat cangkul).
Sampeyan yang berusaha memindahkan gambar pahatan urat candi itu ke media computer atau mencoba me-rekonstruksi-nya diatas kertas –lalu menghimpunnya dalam bentuk buku. Semoga berhasil!
Selamatkanlah mosaik kuno warisan leluhur kita itu. Agar tidak musnah terkubur jaman. Semoga sampeyan beruntung dan diberkahi oleh roh leluhur sebagai penghormatan atas usaha mulia ini.
Yakinlah bahwa karya-usaha ini termasuk ibadah atau laku suci. Maturnuwun.



Ornamen pada batu nisan jaman Kuno


Relief kapal layar yang terpahat pada dinding candi
 Borobudur berusia lebih dari 1200 tahun.




Minggu, 31 Mei 2020

Pitutur Agung #1 (Apa itu Pohon Gimbal?)


"Tanamlah pohon, agar langit tidak runtuh"

Pohon Gimbal

Beri perhatian pada Pohon Gimbal itu.
Ia hidup dan menghidupi.

Hidup karena telah menghasilkan buah, 
yang menghidupi burung kutilang dan kelelawar bila lapar.

Ia menjadi tempat istirah bagi burung yang kehujanan dan kecapekan karena harus hidup dengan terbang yang melelahkan.

Lihatlah dengan seksama, ia memiliki kalung akar yang meng-gimbal -menghisap zat hara dari dalam tanah dan oksigen di udara. 
Akar itu kuat dan berotot bak otot binaragawan
,menopang berat tubuhnya yang gendut,  kira kira 2 ton.
Juga kuat tegak berdiri dari tiupan angin yang nakal di musim penghujan.
Disaat menjelang musim kemarau tiba, atau pada saat-saat tertentu,
Pohon Gimbal akan menggugurkan daun-nya agar tidak kehausan, 
hingga tampak kerangka meranggas seperti pohon mati. 
Pintar bukan? benarlah pohon juga memiliki kepandaian alam dan 'roh'. 
Jadi bila menebang pohon harap ucapkan bismillah atau haleiloya puji Tuhan dahulu sebelum membabatnya dengan kejam. Bila pohon hilang dari dunia kepada siapa hewan-hewan akan berharap untuk menopang kehidupannya.
Buahnya yang sebesar kelereng mengkilat bak mutiara coklat
Bunganya yang mungil sebesar lidi berbentuk kuning gading kehijauan, bila rontok.
Getahnya keras-masif berkilap kaca bak berlian. 
Daun yang berguguran berwarna kuning emas.
Kala rontok bersama, sungguh eksotis seperti hujan emas.

Dengan cara membuat dirinya berkalung akar yang berserabut coklat gimbal.

Ia berdiri kokoh sejak 200 tahun yang lalu 
dan pulau Jawa beruntung memiliki pohon langka ini.
Tiada yang berani mengusiknya, 
sebab ia tumbuh menaungi-teduh makam rakyat Kebraon.

Pohon Gimbal adalah "pohon pilihan" aliran kebathinan Budhiroso (Paguyuban Budhiroso Sejati).
Terletak di area makam Islam Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Kota Surabaya. 
Konon Pohon ini merupakan pohon terbesar dipulau Jawa dan tinggal satu satunya. Sebenarnya Guru Agung bermaksud meng-keramat-kan pohon ini, tapi tiba tiba pohon ini tumbang salah satu batang raksasanya. Pohon ini rupanya menolak untuk dikeramatkan.
Cara mencapainya untuk berfoto-ria :
-          Naik angkot Lin G, jurusan Joyoboyo – Sepanjang, turun di gang Kebraon Tegal. Masuk menuju lokasi makam Kebraon  kurang lebih 150 meter dengan berjalan kaki. Jangan lupa melempar koin Rp 1000 (seribu rupiah sebagai ongkos foto)