Sabtu, 29 Maret 2014

Teori Asal Usul Manusia

Teori 1
"Drama Bukit Kapur" by Stanley Miller + Charles Darwin
Teori klasik ini dimulai dari teori generatio spontanea
hingga Teori Survivel Darwin, bahwa manusia berasal hewan bersel-satu untuk kemudian berubah menjadi Primata (sebangsa kera) yang bervolusi dalam rentang waktu jutaan tahun. Masalahnya saat ini belum ditemukan sebuah "tengkorak primata malihan" dalam rantai evolusi itu, yang diyakini sebagai jembatan dari "kera" ke " Primata Humanoid - Kera berjalan tegak - Pithecantrhopus Erectus)"




Teori-2
"Drama Pembuangan Ras Humanoid" by Mr. Compromistiko
Teori ini lebih dipopulerkan sebagai teori transponder ala Startrek, dimana ras manusia utama Viking, Mongoloid dan Afrikanis di buang ke planet bumi karena telah melakukan perbuatan dosa di sebuah planet yang berasal dari koloni bintang tertentu di langit.






(Proses pemindahan badan manusia dari suatu tempat ke tempat lain)

Selasa, 24 Desember 2013

Puisi Pecah Asa

Aku mendengar suara jeritan tonggeret di ujung sana
Yang tiba tiba berhenti menyaksikan ketelanjanganku
Aku melihat laba laba bersorak manakala jerat cintanya
tersambut rama rama

Aku bermimpi hidup abadi dengan energi planet bumi
yang mengharapkan ketinggian menjadi daya
yang mengharapkan gerak menjadi kerja
yang mengharapkan cahaya menjadi terang dunia
Aku bermimpi menenteng kit elektronic saat bercinta

Aku bersumpah atas tanah bumi yang gersang
dan akan merengek manja minta sedekah pada lenguhan purba
jerit nikmat para perempuan ditingkahi goyangan rambutnya yang menjuntai juntai
Aku bersumpah pada panas bumi
yang mengharumkan tubuh tubuh bersahaja menghiasi malam

Aku menangis diujung rasa
menyaksikan kekhilafan yang tiada henti tiada tara
menyaksikan kebodohan merebak membius para cendikia yang tak berdaya
menyaksikan ketakutan akan bunyi letupan kecepek di padang senja
Aku terpana pada kekosongan pikiran yang tak juga terisi belati.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Apa Itu Santet?



Santet atau Tenung adalah ilmu sihir yang menggagas tindak laku mempengaruhi/mencederai seseorang dengan serangan ilmu ghoib yang bermuara pada kesyirikan, karena sang dukun berkolaborasi dengan "kekuatan anti Tuhan". Kekuatan ini diperoleh dengan "lelaku prihatin" atau "persembahan jiwa" pada sang pemberi kekuatan, yatu setan/roh kegelapan. Budhiroso percaya bahwa manusia memiliki sisi gelap, yaitu nafsu angkara murka yang kalau tidak dikendalikan, maka akan membuat kerusakan di muka bumi.

 $$$

Senin, 07 Oktober 2013

Jalan Tak Terduga

Ini jalan tak biasa, walaupun demikian melaluinya pun tidaklah sesederhana yang kau kira. Maaf saja bila segala karsaku kau rengkuh jua. Tak apalah dirimu berlaga di pembaringan, senantiasa menepikan harapan dan sejumput sayang. Kalau kau kembali, bilang terus terang, kerna rasa sayang ini tak hilang jua, walaupun turun gerimis bernada pilu. Aku pasti pulang, kapan itu, tanyakan pada buluh perindu yang berderit lirih menanti sebilah keputusan menentukan. Kemaren lusa, katanya ada kabar dari saudara, kabar apakah itu? Tak sudah engkau berbilang kata, berbusa busa, menyemprot keheningan malam nan manja. Mari sini, ini sengaja kurangkai untukmua. Seuntai kembang mayang berwarna ceria, kesetiaan itu sudah usang, tapi cobalah untuk bertandang bersama hembusan angin, yang terbawa dari gulma, ladang, atau lelapangan. Tak ada sepi bagiku, seonggok piring sisa pesta kemarin masihlah membayang dalam cerocos dingin malam. Tak sabar aku menunggu, segera tinggalkan kenangan masa lalu, bersenda gurau bukanlah tabu, asal waktu remang tiba segera pulang. Ini kembang belumlah layu benar, segera sirami dengan sekedar ungkapan, tak pandang bulu tak pandang sembilu. Tuan, tadi pagi ada tamu, katanya tuan harus segera menghadap, pesannnya, jangan bawa masa lalu, mungkin itu ada benarnya, tak tahulah Tuan, bahwa hidup dan kehidupan itu, jalin menjalin bak tikar pandan. Pakaian putih ini, selalu kau jaga agar bersih senantiasa menjelang. Aku ini citra lagak lagumu, yang berkokok leksana ayam jantan berkalang, menantang, menerjang, mencari pengganti tahta dan kekuasaan. Lekaslah berdandan Tuan, bersimbah harum kesuma lautan. Tak inginkah Tuan beristirah barang sejenak, setelah seharian berkubang keringat berlanjut lanjut. Segera lantunkan lagu kenangan, walaupun tak jua ketemu, riangkan waktu bersama setitik kehangatan. Jangan ragu, hidup bukanlah sekedar memakan kayuhan dan menguapkan masa lalu. Segera datang dan jumpa, saudara jauh mungkin masih bisa dikenang. Melajulah kedepan, angin buritan tak akan mengganggu. Melajulah cinta, angin muson kan segera tiba. Mari bersua, menepi pantai harapan.$$$

Balada Pekerja Kontrak

Pagi buta bermenung diri menanti lolongan mentari. Keringat ini masih meneteskah, kuharapkan begitu adanya. Sudah saatnya berhenti menari diatas gunungan pasir, melembutkan pinggir pinggir jalanan. Saat bunyi desing sekop menyalak bertalu bergantian, didera sayang napas jalanan. Tak sudi aku mampir, walaupun sejenak. Kerinduan pada tingkah gadis yang bermanja diselera candanya, masih membuatku muak. Deru nafas ini jangan dianggap tabu, tak berkesudahan, sebab pijakan dunia bisa saja mengkilirkan jejarian telapak kaki kita. Keaatas mana berlelahan pergi? Mungkin hanya berputar putar menuangkan pesona diri, mari bersolek selagi sempat, tertundapun tak biarkan kau barang semenit. Berjalan kaki kearah temaram cahya padang rembulan seraya menekuk perasaan cinta yang menghempas diatas buih kenangan, berlalu lalang dalam doa yang dihibahkan keharibaan sang bumi, meranggas. Kutunggu suara merdu bunyi pasir yang jatuh diatas peraduan bak truk, yang dulu sempat kita jalani lekuk lakunya diantara desah nafas manja gadis merana. Saat yang paling menyenangkan bagi laku kita, mungkin panggilan lembut akhir minggu, ketiga sejumput uang hinggap berselip. Lusuh itu memang, tapi kalaulah pacar tak juga datang, sebatang cerutu klobot mungkin bisa mengundang. Sudahlah, kita jalani saja sisa hidup ini, toh tetap saja gurih nikmat itu hanya nuansa. Kunanti kau diujung bukit, saat saat ku merasa merindu, pada dera manja anak juragan, bolehlah kau tawarkan sebagai teman sepenunggu. Ini bukit menunggu saudara, bertetakan godam, berhingar di telinga para saudagar yang datang menawarkan harapan. Bukit ini terasa hampa tanpa kehadiran awan, bersenda gurau disaat jeda kerja tiba. Berharap pada belas kasihan adalah fatamorgana, semuanya harus diperjuangkan, dilelahkan, dilayukan. Sampai suatu saat terdengar suara roboh matahari yang kelelahan saat segumpal terang datang menjelang diterpa lampu malam. Selesai sudah bias mengkilat di tubuh ilalang, yang bakal pergi saat kemarau tiba. Semuanya bisa saja dirunding, asalkan ada saat bicara. Jangan anggap enteng pertemuan itu, dipandang sebelah mata tak usah bimbang.

Angin Liar Retak

Malam remang melantunkan lagu lamanya, dingin berkesepian, menakutkan. Tak tahukah engkau, saat ini bintang dilangit lagi bermuram durja, disaput mendung menggantung, tak henti hentinya merengek rengek pada rembulan, agar segera diturunkan serinai hujan. Sebahagia akukah engkau, yang bermalam dengan sepotong daging kambing rebus, kuah belimbing berbacam ikan sepat kering dan saos wijen. Hidup ini agak liat memang, tapi kalau engkau mengunyahnya dengan pelan dan hati hati, tak ada kenikmatan yang tak bisa dikecap. Jangan dikenang. Siapa yang menghujat? Entahlah, kebosanan kadang sering datang tanpa diundang. Siapa takut? Kejenuhan bisa jadi membawa nikmat bila sempat kau hantarkan beserta sekaleng bir dan sebungkus popcorn rasa pedas. Lupakan semuanya, kekasih yang malas berdandan lagi, setelah puas mengarungi berlekuk kenikmatan berhidup ranjang. Ayo tunggu apalagi, kekasih lama menanti di perempatan jalan. Bagaimana dengan kenangan ikan panggang di pantai lapuk, bukankah baunya terasa gurih dan menantang. Dimana para pecundang? Lupakan saja, toh permainan hidup tak boleh dibawa ke tempat tidur, apalagi mempermasalahkan dengkur kekasih yang kelelahan. Bagaimana dengan anak anak? Wah, biarkan saja, mereka adalah dunia kecil kita, yang merasa tak memilikinya tanpa tangisan merajuk, merengek, memanja. Kekasihku, katanya dengan menggelayutkan selingkar tangannnya yang kukuh dan sedikit ramping, masak apa kita hari ini, atau kita serahkan saja sementara, pada koki langganan kita, nan gendut dan sedikit menjengkelkan, kala merasa hidangannya belum sempurna benar, sementara tangan kita tak sabar, ribut melulu memainkan sendok garpu di meja pesanan. Segeralah berangkat dewasa wahai kekasih kecilku, kapan kita bersua. Aku sudah tak ragu menunggu, sebait puisi, segelas sampanye, sepotong daging panggang, cukup untuk menorehkan kenangan runyam pada malam purnama menjelang. Katanya, tak suka daging panggang, baunya yang mengundang dan meranggas selera, serasa membuatku selalu ingin berlarian di padang rumput ilalang sepi. Sebaiknya kita menepi saja, disini sudah terasa lapang, segera lepas seleramu, jangan sampai aku memendam makian yang tak berkesudahan.

Jumat, 13 September 2013

Horor Terik Pagi


Masih kuingat masa itu,masa kecil saat bermain naik-loncatan di bibir perahu pasir,yang bergerak perlahan, didayung-pundak sebilah bambu ditepi kali Brantas ini, tapi media menyebutnya kali Mas, Karena, konon dulu airnya keruh berwarna kuning-mentah, sekarang tatkala kisah ini mengalir dalam guratan nadi rasaku, airnya bening kehijauan. Pertanda, kwalitas air Brantas mulai sehat.
Pagi yang melahirkan angin semilir, disela hanyutan onggokan sampah softex,  buntalan bulu-ayam dan kemasan plastik, membuatku miris-gelisah. Kenapa dibuang ke sungai, menjadikan sesak nafas para ikan-penghuni air dan merusak pemandangan. Angin pagi dibulan sembilan  menggoyang-anggukkan daun pisang yang tumbuh ditepiannya, membuat sekelompok ikan cucut mengambang dipermukaan pinggir, air kali yang mengalir tenang, saling bermesraan,  meng-kencani betinanya bergantian, tanpa perseteruan.
Pohon ketepeng yang tumbuh liar, daunnya  menjuntai ke permukaan kali, membuat keteduhan asri, hingga sekelompok ikan cucut sesapu lidi itu kerasan berada dalam naungan-teduhnya. Di sebelah sana, terdapat seonggok gulma-enceng gondok berdaun lebat, akarnya yang lembut tampak membayang dipermukaan, tempat para ikan dan siput air menitipkan telurnya. Terlihat seekor anak biawak melompat lompat, berayun didedaunan itu, mencoba meraih seekor capung yang hinggap, untuk melepas rasa laparnya di pagi itu. Perahu tambang, dengan juru mudi bercaping, dengan pakaian lorek-Madura, bergerak mengendalikan perahu, tubuhnya yang ringkih, berlenggak-lenggok lembut-menetegang, mengantarkan para penyeberang ber-sepeda motor, pejalan kaki atau buruh pabrik berseragam, berangkat kerja, yang siap memacu produksi demi kemajuan perusahaan para tuannya. Lengannya yang berotot, lembut-kuat, menari-nari merambati 2 tambang sejajar, sebagai tambatan perahu itu, yang hanyut-mengalir. Hanya dengan 10 sen dollar atau seribu rupiah, kali itu sudah terseberangi, katanya daripada jalan memutar panjang menyita waktu. Pangkalan perahu itu terbuat dari jalinan bambu, yang dipatok mengitari dermaga mini terbuat dari papan.
Dulu 1293, konon delapan perahu Jung-Mongol, mengaliri sungai ini menuju Kediri, untuk melakukan hukuman pada Kertanegara. Sekarang tiada lagi perahu yang mengaliri kali ini, walaupun untuk mengeruk pasir-dasarnya, katanya dasar kali ini sudah dipenuhi dengan endut atau ekstrak sampah limbah kertas, hilang sudah kenangan indah masa kecilku, 1970-an.
Beberapa bulan yang lalu, ikan kali pada mabuk, menggelepar-gelepar menanti ajal. Walaupun telah membuat penduduk tepian kali bersoak karena rejeki dadakan, dengan berrkintal tangkapan, tapi tetap saja bibit-anak ikan pada mati sia-sia, memupuskan harapan hidupnya dan musnah tak bersisa, seperti ikan sili, papar, bulus, areng-areng dan kijing.
Kali ini harus diberdayakan dengan menjadikannya tempat wisata air dan studi biota air tawar, jika ingin tampak mengalir, bening bersih, asri dan sehat.
(Kali Brantas-Kebraon, Surabaya 10 September 2013)