Senin, 28 September 2020

Nyanyi Sunyi #Dirumahaja Karena Virus Korona (2)

Bekicot

Coba perhatikan binatang berlendir ini. Satu hal yang bisa kita ambil pelajaran dari hewan hama ini adalah “kesabaran”. Bagaimana tidak, dengan jargon “biar lambat asal selamat” si bekicot akan berjalan pelan dan hati hati dengan memilih menghindari jalan terjal dan sulit. Bukankah ini yang dimaksud “menjaga kesabaran”.  Bekicot memiliki kaki yang kuat mencengkeram landasan pijaknya, sehingga ia tidak mudah jatuh tergelincir apabila menaiki pohon atau batuan.

Kucing

Kalau binatang yang satu ini, ada pelajaran yang perlu kita tiru, yaitu saat bercinta. Kucing jantan akan melakukan serangan cinta, bila dirasa si kucing betina telah siap. Bila gagal menaiki si betinanya, maka si jantan akan sabar menunggu, hingga dilakukan serangan lagi. Binatang ini memiliki aksi kebiasaan, yaitu bersolek. Ia dengan sabar menjilati badannya untuk membersihkan diri.

Anjing

Pelajaran yang dapat kita ambil dari binatang ini adalah tentang “kesetiaan”. Tak dapat disangkal bahwa anjing akan selalu mengikuti  tuannya yang memberi makan pada dirinya. Bila bertemu dengan orang asing yang akan masuk rumah, anjing akan menggonggong, oleh karena itu anjing bisa disebut sebagai satpam yang baik.

Kupu Kupu

Binatang ini memberi  pelajaran bagi kita tentang pentingnya siklus kehidupan dan manfaat bermeditasi. Perjalanan hidupnya dimulai dari masa telur-ulat-kepompong hingga menjadi kupu kembali. Saat masih menjadi kepompong  si kupu  yang diam, tidak makan. Itu semua dilakukan  untuk  move on, ber” meditasi” . Si ulat yang berwajah buruk dan menjijikkan akan berubah menjadi kupu kupu yang berwajah cantik, bila meditasinya berhasil. Maknanya dengan bermeditasi, si kupu akan meninggalkan sifat buruk untuk berubah menjadi kebaikan.

Lalat

Keistimewaan yang ada pada lalat adalah indra penciumannya yang tajam. Lalat akan datang pada bangkai, sebab itulah rejekinya. Bisa diibaratkan kalau ia menjadi manusia yang insting bisnisnya baik, dimana ada penghasilan, disitu ia akan datang untuk menangguknya.

Nyamuk

Sungguh menjengkelkan binatang ini. Ia akan mencari celah celah pada badan kita untuk dicuri darahnya. Apakah benar ia mencuri? Sebab kadang biasanya nyamuk akan berbunyi dulu bila akan mengisap darah kita pada malam hari. Oleh karena bunyi kehadirannya itu nyamuk mudah dikalahkan dengan sekali tepuk. Nasehat baik dari keberadaan nyamuk adalah “Jangan mudah kalah dalam mengarungi kehidupan.” dan "Jangan Maenjadi Pribadi Yang Mejengkelkan"

Burung

Mengapa burung bisa terbang? Sebab memiliki bulu, ekor dan sayap. Burung memiliki sayap yang sama panjang baik disisi sayap kanan dan kiri. Ini menimbulkan keseimbangan dalam terbang. Dengan sayap, badan burung bergerak maju, dengan ekor bergerak naik turun untuk  pengendalian badan (juga berfungsi sebagai rem untuk berhenti). Bila ingin kebebasan, maka burunglah simbolnya. “Aku ingin terbang bebas sepert burung”. Tentunya ini tidak berlaku untuk burung piaraan yang ada didalam sangkar, sebab burung dalam sangkar dikurung untuk diambil kemerduan kicauan suaranya.

Lebah

Dimana ada sari bunga/nectar, maka disitulah biasanya lebah hinggap untuk menghisapnya. Dengan nectar itu lebah akan menghasilkan madu, makanan persediaan dikala musim tanaman tak lagi berbunga. Masyarakat lebah adalah masyarakat gotong royong. Demi sang ratu, lebah pekerja akan membuat sarang dan mencari sari bunga. Inilah wujud “pengabdian” pada sang ratu.

Waspada, Anak Sampeyan Kecanduan HP !

“Jangan sampai anak anda kecanduan gadget/ HP”

Inilah 7 poin negatip hasil terawangan Guru Agung, bila anak-anak kecanduan HP. Ciri cecaniri kduan HP adalah anak lebih suka/betah berjam-jam menyendiri bermain HP. Bagaimana cara mengatasinya?

1. Bobot HP yang ringan hingga bisa dibawa kemana-mana;  poin negatipnya adalah “Mama, aku tak butuh teman manusia lagi, temanku cukup HP saja, biarkan aku mengalami kesulitan untuk bermain gaul sesrawungan dengan teman sebayanya alias kesulitan untuk ber-sosialisasi dengan manusia lain”.

2. Fiturnya yang mudah diakses dengan cepat (sekali sentuh), poin negatipnya adalah “Mama, kau harus memenuhi keinginanku sekarang juga, aku tidak mau ditunda

3. Logo fiturnya yang banyak dan berwarn warni, poin negatipnya adalah “Mama aku bosan dengan kehidupan yang sederhana ini, aku ingin cepat kaya dan mendapatkan segera  kemewahan hidup

Bermain HP berjam-jam akan menyebakan anak malas bergerak, poin negatipnya “Mama akumalas bekerja, aku lebih suka bermain didunia maya/imajinasi saja, biarkan aku lupa waktu

5. Oleh karena kecanduan bermain HP, poin negatipnya adalah “Mama, biarkan aku suka menjadi anak yang keras kepala/bandel dan susah diatur/dikendalikan oleh nasehat baiik

6. HP dapat menyuguhkan permainan game, poin negatipnya adalah “Mama biarkan aku tumbuh menjadi manusia yang kejam dan suka perang

7. Asyik bermain HP, kadang kadang sambil berjalan, poin negatipnya ”Mama baiarkan aku mudah terlena dan hilang kewaspadaan pada lingkungan".

$$$

Minggu, 27 September 2020

Pitutur Agung #5 (Apa Itu Mati Muspro?)


“Jangan sampai punah hewan/tumbuhan langka. Ayo, tangkarkan!” 

Punah. Itulah kata yang paling menyakitkan bagi pemerhati lingkungan. Mereka, para pemburu liar itu membunuh binatang tak berdosa hanya untuk kesenangan semata dan juga dianggap binatang buruannya tersebut berkasiat pada anggota tubuhnya; sirip hiu, cula badak, gading gajah, kulit harimau adalah contoh bagian tubuh binatang liar itu yang dburu dan diperdagangkan. Ada juga yang diburu untuk diambil bagian tubuhnya yang dianggap berkasiat menjadi obat atau jamu kesehatan. Orang memburu binatang itu bukan karena lapar untuk memakan dagingnya tapi demi melampiaskan nafsu kuasa-nya atas mahluk Tuhan yang lemah itu. Sungguh menyedihkan. Mengapa harus binatang langka yang mati sia sia? Mengapa harus binatang yang dilindungi yang terus diburu. Barangkali para pemburu liar itu tak tahu kalau hewan yang diburunya termasuk satwa langka yang hampir punah. Siapa yang berani menegur manusia kurang kerjaan /pengangguran ini? Ataukah perlu ditancapkan papan larangan berburu? Atau mampukah hukum menjangkaunya dengan ganjaran penjara yang setimpal? Ya Gusti Yang Maha Agung, ampunilah dosa dosa para pemburu liar ini, serta berilah kesadaran atas pentingnya sumberdaya alam untuk kepentingan umat manusia. Ubahlah tabiat mereka ini dari pemburu liar menjadi manusia siap konservasi alias manusia penangkar/penyelamat hewan langka. 

         Kesaksian 

Dengan mata kepalaku sendiri aku menjumpai 3 orang pemuda usianya 20 tahunan. Dengan bermodalkan senapan angin dan suara burung betina yang direkam dalam perangkat MP3, mereka menanti si jantan untuk mendekat kearah suara pikatan itu, lalu menembak burung Sri Mbombok/Koreo Padi itu, bila sudah melampau jarak tembak. Siang itu 5 ekor jasad burung kurus yang tidak mengenyangkan itu tergeletak di pematang sawah. Mati muspro atau mati sia sia. Sekarang jarang terdengar suara ocehan yang khas dari burung ini. Mungkin sudah kapok tinggal di pesawahan kampong kami, karena terus diburu. 

Fakta 

Indonesia menjadi salah satu asset plasma nutfah dan keanekaragaman hayati dunia. Indonesia juga disebut sebagai negara terkaya kandungan biodiversity-nya, sehingga disebut Negara Mega-Biodiversity. Sudah kewajiban kita dan juga takdir kita, bahwa kita dilahirkan dinegara katulistiwa yang kaya akan sinar matahari dan hutan hujan tropis, sewajibnya kita menjaga kelestarian alam yang dianugerahkan oleh Allah. 

Daftar hewan yang telah punah di Indonesia

Daftar hewan di dunia yang telah punah.

Sabtu, 22 Agustus 2020

Sugeng Rawuh "New Normal"

 

Siapa sangka bahwa keadaan demikian cepat berubah. Apa yang disebut gaul itu penting, tapi tiba tiba menjadi aksi yang amat berbahaya. Tertular wabah/pandemi virus Covid-19 oleh kerumunan orang yang satu diantaranya telah tertular lebih dulu. Apa hendak dikata, ibarat buah pisang yang masak satu, lalu masak pula yang lainnya dalam beberapa waktu. WHO, organisasi kesehatan dunia itu memperingatkan bahwa virus Covid-19 bisa menular melalui udara dalam bentuk aerosol. Itu berarti dalam satu ruangan tertutup bila terisi manusia pembawa virus, maka kemungkinan akan tertular lebih besar daripada ruangan terbuka.Di Indonesia kabarnya 80% penularan virus ini dilakukan oleh OTG (Orang Tanpa Gejala), yang artinya orang tersebut bisa menularkan virus walaupun tanpa disertai tanda tanda kejangkitan. Oleh karena itu ada upaya hidup berdampingan dengan virus ini, karena menurut pehitungan WHO, tak cukup 5 tahun untuk menghilangkan virus ini dari planet bumi. Mau tak mau kita harus menyesuaikan diri dengan perilaku virus ini pada kehidupan gaul baru, yaitu tatanan New Normal, yaitu suatu perilaku hidup dengan 8 jaga, yaitu :

1. Jaga Lendir

Yang dimaksud lendir ini adalah lendir dari air liur yang keluar dari mulut saat bicara dan air ingus saat bersin. Lendir ini adalah media penularan paling efektif untuk memindahkan virus korona baru Covid-19. Oleh karena itu tutuplah mulut dan hidung sampeyan dengan masker. Benda sederhana ini akan menghindarkan anda dari penularan virus hingga 80%.

2. Jaga Jarak

Yang dimaksud jarak disini adalah jarak antar tubuh manusia satu dengan lainnya bila bertemu. Dengan jaga jarak diharapkan lendir yang keluar oleh penderita saat berbicara atau bersin tidak langsung menimpa sampeyan karena sampeyan hisap dan masuk kedalam sistim pernafasan. Jarak aman antar posisi tubuh adalah 1 - 1.5 meter.

3. Jaga Tangan

Jangan berjabat tangan, karena telapak tangan dapat menularkan virus yang bisa bertahan selama 9 jam sebelum tangan itu dicuci dengan sabun. Sekarang era New Normal, salam sembah saja. Sering seringlah mencuci tangan dengan sabun atau lumuri telapak tangan dengan handsanitizer -juga semprotkan desinfektan pada benda benda di fasilitas umum tempat orang ramai berkumpul.

4. Jaga Pergaulan

Batasi kumpul kumpul atau berkerumun dengan orang orang, terutama yang tak dikenal. Bila harus berkumpul juga, maka bersikaplah cerdas dengan melakukan protokol kesehatan. Selama pandemi, lebih baik melakukan kegiatan #dirumahaja.

5. Jaga Kesehatan

Jangan lupa untuk makan makanan yang bergizi disertai dengan asupan multi-vitamin (terutama vit.C dan B complex) agar daya tahan tubuh kuat, sehingga tak mudah terjangkit penyakit. Boleh juga mengkonsumsi minuman herbal yang mengandung jahe, kunir, temu lawak, serai dll.

6. Jaga Waspada

Bila menderita 3 gejala ini : suhu panas tinggi (diatas 38 derC), batuk-batuk dan sesak nafas segeralah pergi ke Puskesmas untuk mendapatkan Rapid Test (plus Swab Test jika diperlukan). Gratis atau berbayar Rp 150.000. Bila terkena virus korona atau positip, maka segera isolasi mandiri dirumah atau menuju rumah sakit rujukan untuk perawatan. Ingat bagi yang terkena virus ini masih bisa disembuhkan dengan tingkat kematian 2%.

7. Jaga Uang

Kawan, saat ini pertumbuhan ekonomi negara didunia melambat, bahkan banyak terjadi tumbuh minus. Dunia akan segera menuju resesi global, bila virus ini tak bisa diatasi segera dengan temuan vaksin penangkalnya. Saat ini banyak Negara sedang berlomba menemukan obat untuk mencegah penularan virus Covid-19. Berhematlah dengan uang yang ada ditangan karena semua kebutuhan hidup akan menjadi mahal.

8. Jaga Wilayah

Bagi anda yang berada di zona merah (klaster penyebaran virus) sebaiknya tidak bepergian keluar wilayah. Batasi gerakan sampeyan untuk tidak gampang kluyuran/bepergian ke mana mana sebab bila anda ternyata telah terjangkit, maka berarti anda pembawa virus yang siap menularkan virus ini ke orang lain. Taatailah himbauan pemerintah yang berkenan menerapkan PSBB atau Lockdown (karantina wilayah).

                                                            ###

Jangan lupa untuk terus berdoa’a agar wabah ini cepat sirna dari kehidupan umat manusia yang saat ini populasinya sudah 7.800.000.000 (7.8 milyar per-2020) di planet bumi. Padat memang. Apakah Tuhan menurunkan wabah ini untuk mengurangi jumlah penduduk planet biru ini agar nyaman untuk ditempati? Waallahualam bishawab.

Minggu, 16 Agustus 2020

AJARAN PADEPOKAN PENGGING (5)

11.                    (P) Ora ånå critané wóng kêjungkél iku margå kêsandhúng watu gêdhé, síng mêsthi mêrgå kêsandhúng watu síng cilík. Yèn tatuwå yå margå såkå watu krikíl-krikíl síng lancíp-lancíp. Bab mau awèh pitudúh supåyå kitå åjå nyêpèlèkaké marang barang síng katóné sêpélé ora mingsrå, nagíng sêjatiné kêpårå malah gampang dadi dhadhakané wóng njungkêl njêmpalík tibå ing påpå.

12.                    (P) Wóng sugíh síng lumúh kélangan bandhané nadyan kanggo kêpêrluwané dhéwé iku ora liya sababé margå tansah kuwatír yèn dhèwèké tibå ing kêmlaratan. Nangíng ora ngêrtiya yèn dhèwèké ing wêktu iku sêjatiné wis pådhå karo wóng mlarat. Uripé kêpårå luwíh sangsårå katimbang wóng kêsrakat, kang batiné tansah ora narimakaké marang adilíng Kang Múrbèng Dumadi.

13.                    (P) Dêrêng nêdyå pamèr utawa riyå iku têrkadhang munculé dadakan kåyå-kåyå tanpå rinåså ing nalikå kitå pinuju sêsrawungan karo wóng liyå. Mulå prayogå kita tansah waspådå ngêndhalèni dhiri. Déné kang kinaran dêrêng utåwå nafsu sênêng pamèr kang gampang dinêlêng lan sinêksèn déníng wóng liyå iku aran riyå kang pratélå (cêthå), utåwå ngêdhêng. Bêcík kitå singkiri. Wóndéné dêrêng sajróníng laku panêmbah, arang kang disumurupi wóng liya. Luwíh-luwíh yèn lagi kapinuju ånå ing papan kang sêpi. Sók ngonowa élinga, yèn Gústi Allah iku tansah ngudanèni.

14.                    (P) Kabèh salakuné (tumindaké) wóng bodho iku ésthiné nggawé híkmah lan piwulang bêcík tumrapíng wóng kang ahli budi. Awít såkå samubarang kang ora bêcík kang dilakoni wóng bodho déníng pårå ahli budi banjúr kari ngêmóhi lan dadi pandóming uríp kang pêrlu disiriki lan disingkiri. Suwaliké wóng bodho sungkan nyuplík lêlakón bêcík kang dialami pårå ahli budi. Mulå ora jênêng aèng yèn akèh pårå bodho síng uripé têtêp kasurang - surang lan pårå ahli budi kang tansah rahayu ing uripé.

15.                    (P) Åjå sók rumangsa tinitah apês nganti gawé pêpêsíng sêmangatmu. Malah prayogå dinarimå marang åpå kang wis sirå tampå såkå kanugrahaning Gústi Kang Maha Kuwåså. Awít ngélingånå mênåwå ora kurang-kurang titah kang luwih cingkrang lan luwíh cacad tinimbang sirå, suprandéné dhèwèké babar pisan ora kawêtu nutúh marang Gústi Allah. Kang mangkono mau ora liyå margå såkå kandêlé imané lan yakín marang kêadilaníng Pangéran Kang Måhå Kuwåså marang sakabèhíng lêlakón kang dumadi ing jagad raya iki.

16.                    (P) Ngalêmbånå lan panacad iku pådhå baé panindaké. Liré, tarikané napas pådhå, kêdalíng ilat pådhå lan obahíng lambé yå pådhå. Sók ngonowa najan rêkasané utåwå gampangé pådhå, nangíng olèh-olèhané utåwå wóhé síng ora pådhå. Ing ngadat kêjåbå sók adóh sungsaté, ugå malah sêríng kósók balèn. Sing siji biså ngrakêtaké pasêduluran sijiné pådhå baé karo golèk dadakan nandúr råså mêmungsuhan.

17.                    (P) Åjå ndarbèni pêpinginan dadi wóng kang linuwíh kang ngandhut idham-idhaman supåyå sarêmbúgé diandêlå wóng akèh. Luwíh prayogå tansah njågå baé barang rêmbúgira kanthi bêcík, patitís lan maédahi. Karo manèh tindak tandúk kang ngrêsêpaké, luwíh-luwíh kang bisa awèh paédah marang wóng liyå iku ajiné ngungkuli sakèhíng pitutur kang ndhakík-ndhakík nangíng kang durúng kabuktèn ånå ing panindak. Mulå kuwi tansah udinên amríh wêtuníng rêmbúg "Kêplók lumah kurêpé" karo tindakirå.

18.                    (P) Kang kinaran manungså winasís yåiku wóng kang wís kaconggah mbênêraké tindak kang mlèncèng. Déné asór-asóring budiné manungså iku ora kåyå wóng kang mlèncèngaké tindak kang wús bênêr. Adaté sipat kåyå mangkéné iki thukúl margå kasurúng déníng ati drêngki srèi. Kamångkå såpå kang ngadani ati drêngki lan panastèn iyå ing wêktu iku dhèwèké wiwít nyikså ing awaké dhéwé, lan uripé ora bakal bisa têntrêm.

19.                    (P) Samangsané kowé diclatu wóng kanthi sêngak åjå kók walês sanalika 
kanthi têmbúng (rêmbúg) kang sêngak lan atós. Prayogå tanggapana måwå pakarti kang alús lan sarèh. Jêr, yå klawan laku kang kåyå mangkono iku, kowé bisa ngêndhakaké watakkang panasbaran, lan bisa ngasóraké sipat kang lagi kasinungan iblís.

20.                    (P) Ing ngêndi dunungé pamarêm lan katêntrêman? Sakíng ungêlé mapanaké råså, nganti mèh ora ånå wóng rumångså marêm lan têntrêm uripé. Sabanjuré banjúr kêpiyé? Iyå kudu tlatèn ngolah budi. Dóh ånå råså mèri lan drêngki amríh gorèhing pikír bisa tansah sumingkír.

21.                    (P) Têpå slirå lan mawas dhiri iku dadi óbóríng laku nggayúh rahayu, minångkå jimat paripíh tumraping ngauríp. Munggahé biså nyêdhakaké råså asih lan ngêdóhaké watak drêngki lan dak-wênang marang sapêpadhané. Srêgêp mawas dhiri atêgês bakal wêrúh marang kêkurangan lan cacadé dhéwé, saénggå wusanané thukúl grêgêd ndandani murih apiké.

22.                    (P) Kita iki kêjåbå ndarbèni badan wadhag lan pancadriya, ånå siji êngkas darbèk kitå kang ora kênå ginrayang lan ora kasat måtå, nangíng ajiné tan kênå kinåyå ngåpå, yåiku osikíng ati kang ajêg ngélikaké kita marang lurusing laku samångså kita kêtaman plêtikíng cípta ålå, munggahé katuwúhan krêntêg nindakaké laku ngiwå. Mulå pomå-pomå, tansah bisowå ngrungókaké osikíng atimu, awít iku kang ngajak sapari-polahmu tumuju mênyang karahayóning urípmu.

23.                    (P) Nggayúh kaluhuran mono atêgês ngupåyå tataraníng uríp kang luwíh dhuwúr. Yå dhuwúr ing bab lahiré, ugå ing batiné. Liré, síng murakabi kanggo dhiri pribadiné, sumrambahé tumrap bêbrayan agúng. Såpå kang múng mligi nggayúh kaluhuraning lahír baé, atêgês múng mburu drajat, sêmat lan pangkat. Durúng aran jêjêg uripé. Suprandéné såpå kang múng ngêmúngaké kaluhuraníng batín, atêgês ora nuhóni jêjêríng manungså ing alam donya, yaiku tumandang ing gawé.

24.                    (P) Akèh wóng kang sadurungé nyobå ngayahi pagawéyan wís dipantók dhisík sarånå têmbúng "Ah, aku ora biså". Dayaning têmbúng "Ora biså" satêmah numusi ora biså têmênan. Awít êntèk-êntèkané pocap mangkono iku atêgês ngapêsaké awaké dhéwé. Luwíh déné manéh banjúr lumúh ing pambudi. Samubarang kang diudi ora bakal dadi. Kang ora diluru tangèh bisané kêtêmu. Mulå pêrcåyåå marang dhiri pribadi. Cíptanên kanthi manthêng ing ati lan énggal makartiyå. Kêkuwataning manungså iku dumunúng sajroníng cíptå, saugêr sinartanan pamarsudi klawan têmên-têmên. Dayaníng ciptå cêtha bakal nêkakaké sêdyå.

25.                    (P) Aja sók nggrêsulå!, Wruhana yèn pangrêsulå iku sawijiníng målå, déné panggrêsah mono agawé bubrah. Yèn wís nggrêsah padatané banjúr lali marang kêwajibané kang kudu diayahi sartå kêmba marang sadhêngah pakaryan. Síng såpå ésúk-ésúk wís sambat ngaru-årå ing bab ngrêkasané anggóné uríp, wóng mau prêsasat mbutóni sumbêríng pangupå-jiwané dhéwé. Ora trimå marang pandúm pêparingé Pangéran Kang Múrbèng Dumadi.

26.                    (P) Yèn kowé kêpingín mulyå urípmu, lakónan åpå kang kók gagas-gagas rikalané kowé nandhang sêngsårå utåwå lårå. Awít ing mångså-mångså kåyå mangkono mau manungså banjúr kêtuwuhan budiné kang murni, yåiku watak kang sarwå kêbak wêlas-asíh lan ngêrti sêpirå pêrluné wóng kang tansah ambudi amríh åjå nganti nêmóni kacingkrangan.

27.                    (P) Wóng kang wís kinaran "suksès" iku, yaiku : wóng kang wís ngêtóg kadibdyané, ngudidåyå nganti kêcandhak gêgayuhan lan idham-idhamané laras karo kêpinginané. Têkané "suksès" durúng atêgês tamatíng critå, nanging malah kudu tansah luwíh waspådå, prayítnå lan ngati-ati. Jalaran adhakané wóng síng wís "suksès" iku banjúr kurang kaprayítnané, sêmbrånå lan gumampang ing sabarang tumindaké, kang lupút sêmbiré biså klênggak. Mulå sawijiníng "suksès" iku anggêpan kayadéné sawijiníng pandadaran kanggo lêstariníng pênggayúh bêcík.

28.                    (P) Sabên wóng mono pancèn nduwèni nafsu. Awít tanpå nafsu wóng ora bakal duwé krêkat kêpéngín maju. Múng baé wóng kudu biså milah-milahaké nafsu êndi síng kudu dicandhêt, lan nafsu síng kêpriyé síng kudu diunggar. Nafsu kang bakal nêkakaké bilahi tumraping awaké dhéwé lan wóng liyå kudu biså dicandhét, déné nafsu kang pêrlu diunggar yåiku nafsu kang êmpané tumuju marang karahayóníng sapådhå-pådhå.

29.                    (P) Hukúm alam wís nêtêpaké, såpå kang nandúr mêsthi ngundhúh. Déné åpå kang diundhúh iya manut wijiné kang ditandúr. Yèn síng ditandúr winíh alang-alang, ing têmbé iya åjå ngarêp-arêp yèn bisa bakal panèn pari, iku gênah nyalahi kodrat. Mulå mumpúng isíh ésúk, nandura wiji cíptå lan pênggawé kang bêcík-bêcík. Awít élingånå, yèn akèh sêthithík anak putu kita ugå bakal katut mèlu ngrasakaké paít gêtiré wóng kang bibité ditandúr déníng wóng tuwané.

30.                    (P) Såpå síng duwé panjångkå kudu wani jumangkah, jêr katêkaníng sêdyå iku múng biså maujúd mênåwå dilakóni lan ora nyimpang såkå katékadané. Karêp lan sêdyå, jångkå lan panuwún, iku saumpama wóng lêlungan mono tumuju papan kang arêp diparani utåwå dijujúg. Déné kêkarêpan iku kudu ånå kanthiné, yåiku nalar utåwå pêcahíng nalar. Jalaran kêkarêpan kang tanpå nalar iku ora bédå karo karêpé bocah cilík. Kêjåbå tanpå têgês, ugå sók tanpå wasånå, satêmah ora ånå dadiné.

31.                    (P) Sêbab-sêbab kang gawé cilikíng ati lan cêklèkíng sêmangat iku adhakané dumunúng ing gêgambarané pikiran kang sarwå nguwatiraké marang lêlakón kang durúng kêlakón, têmahané pikiran dadi pêtêng, lumúh ihtiyar lan kóncadan grêgêtíng makaryå. Katimbang nyumêlangaké barang kang durúng biså ginrayang rak luwih bêcík åjå pêgat ing ihtiyar kanthi nênuwún marang sihíng Kang Múrbèng Kuwasa, jêr iyå múng Panjênêngané kang múrbawaséså uríp kitå iki. Klawan mangkono istingarah kowé ora bakal ngédhap ngadhêpi sakèhíng lêlakón.

32.                    (P) Kêrêp nggrêsah lan ngrêsulå iku nudúhaké karingkihané tékad. sênajan dingrêsulanan sêdinå píng pitulikúr, ora biså owah nasibé. Nggrêsah lan ngrêsulå iku pådhå karo sambat. Wóng sambat iku kênå baé, nangíng yèn isíh kêdugå åjå dhêmên sambat. Ngrêsulå biså dadi målå, panggrêsah biså gawé bubrah, déné pisambat iku dalané wóng kang sênêng mlarat, jalaran sakèhíng gêgayuhan kang disangkani sarånå sambat mono adaté múng gayúk-gayúk tunå, åpå kang digayúh tanpå ånå kabúl wusanané.

33.                    (P) Dhasar prêmati tumraping wóng duwé tékad lan duwé gêgayuhan yaiku tékad budi santoså. Sarana ndulu kåcåmåtå bênggålå kang kitå alami sabên dinå, têtêg kawêgigané pikír baé ora mujúdaké gaman pamungkas tumrap kasêmbadaníng sêdyå. Mulå yèn múng ngêndêlaké marang punjúlíng nalar lan móncèríng kawrúh baé, tanpå mêngkóni ing budi santoså, atiné gampang miyar-miyur, gampang kasinungan ing watak sêsóngaran síng adhakané síng uwís-uwís banjúr kacênthók påncåbåyå, ubayané banjúr mbalénjani.

34.                    (P) Ora ånå tindak kang luwíh déníng mbêbayani lan ndrawasi marang awaké dhéwé, kêjåbå nindakaké pégawéyan kanthi srêmpêng síng juntrúngé múng ngoyak dêrêngé panguwåså, drajad lan båndhå. Pakarti mangkono adaté ora mêmpan marang pitutúr bêcík lan panêmuné liyan kang wigati, anané múng råså mélík kang nggéndhóng lali.

35.                    (P) Siji-sijiníng margå amríh kalêksanané gêgayuhan iku yå kudu sarånå makarti. Yèn kitå múng kandhêg marang ngunggar-unggar karêp lan nganggít-anggít gagasan baé, tibaníng ênggón múng kåyå ing pangimpèn. Luwíh-luwíh mênåwå salaginé nggagas-nggagas mau kasêlak kêsusu ngrasakaké kanikmatané pêngangên-angên, wusånå tumús dadi lumúh ing gawé lan wêdi ing pakéwúh.

36.                    (P) Ngakóni kaluputan iku ora atêgês ngasóraké dhiri. Nangíng sawijiníng tåndhå yêkti yèn wóng mau wís biså kinaranan maju satindak ing laku kautaman. Kósókbaliné såpå kang suthík ngrumangsani kaluputané, atêgês wóng kang ora nduwèni budi pêkêrti. Wóng kang ora nduwèni donyå brånå iku sinêbut mlarat. Wóng kang ora nduwèni pikiran iku luwíh mlarat. Déné wóng síng ora kadunungan budi pêkêrti mono klêbu mlarat-mlaraté wóng.

37.                    (P) Kang kók kandhakaké putíh iku durúng karuwan putihíng (suciníng) ati, biså ugå múng wujúd putihíng pupúr síng kandêl waråtå. Lan síng kók kandhakaké abang iku durúng tinamtu abangíng (kêkêndêlaníng) bêbênêr nangíng biså ugå múng abangé lambé kang kêcónggah njlómpróngaké marang jurang kang jêro. Déné síng kók kandhakaké rêsík, iku durúng mêsthi rêsikíng ati, nanging adaté múng wujúd rêsikíng sandhangan rinênggå ing sotyå abyór kang biså mblêrêngaké mripat.

38.                    (P) Ngunggar wêtuníng kêkêndêlan síng múng kadêrêng såkå dayaníng pangójók-ójók iku kêrêp ora murni. Tandang lan trajangé kang akèh banjúr múng kabróngót panasbaran. Wusanané malah sók bakal nunjang palang, bêbathéné kósók balèn karo kang sinêdyå. Mulå minångkå gêgóndhèlané kapitayan, kêkêndêlan iku prayoga kadhasarana råså sumungkêm marang Kang Múrbèng Dumadi, niyat lêladi marang sapêpadhané titah. Yèn wís mangkono sakèhíng cak-cakané pakarti mêsthi tansah patitís lan mikolèhi.

39.                    (P) Têtêpíng råså kamanungsan iku ora margå såkå kawrúh lan kapíntêran kang wís dianggêp luwíh luhúr ing salumahé bumi, nangíng múng jalar såkå kadunungan têlêsíng råså asíh marang sapêpadhaning tumitah. Déné råså åsíh mau ciniptå såkå patrap anggóné rêkså-rumêkså lan sugíh ing pangapurå sartå tansah kinanthênan pangucap lan pasêmón síng bisa gawé rêsêp lan ora natóni atiníng liyan. Kawruhånå, mênåwå kapintêran kang ora kinanthènan kautaman iku sêjatiné luwíh mbêbayani tumrapíng bêbrayan katimbang karo bodho kang linambaran ing budi rahayu.

40.                    (P) Nglêngkårå wóng biså luwar babar pisan såkå panggodhå. Sêbab, sumbêré panggodhå iku ora liyå iyå múng såkå awaké dhéwé. Sing såpå múng nyingkiri panggodha kang kasat måtå baé, ora dibêdhól têkan óyód-óyódé, adhakané bakal kêtaman pakéwúh lan godhå kang luwíh gêdhé manèh. Sók ngonowå yèn wóng tlatèn lan sarèh, kanthi kêncêngíng tékad kang gilíg, mêsthi bakal bisa mêntas såkå rêridhu. Åjå múng mandhêg ing panggrantês, nutúh awaké dhéwé, åpå manèh yèn nganti nguman-uman marang wóng liyå.

41.                    (P) Yèn ing donyå iki manungsané síng sugíh uripé ora mbêthithil, kêpårå malah dhêmên têtulúng marang kang kêcingkrangan, déné sing duwé kêpintéran adóh såkå karêp kanggo mintêri liyan, kêpårå malah dadi papan jujugané wóng têtakón, gênah kahanané donyå bakal ayêm têntrêm, adóh såkå rêridhu lan kalís såkå godha rêncånå.

42.                    (P) Wóng kang lagi karêjêkèn åjå kadúk anggóné bungah, kósókbaliné åjå kadúk nêlångså samangsané nêmahi rêribêd lan nandhang susah, gêdhéné nganti nggêtuni barang kang wís kêlakón. Awít kadúk bungah mau bakal ngilangi kaprayítnan, kadúk susah njalari ati tansah kêmbå, lan tangèh lamún bisa uwal yèn ora dibudèni sarånå tumandang makaryå.
43.                    (P) Yèn darbé karêp lakónana kanthi gêmblèngíng tékad kang nyawiji, adhêpånå sarånå makarti kang madhêp lan mantêp. Sanguné kudu ati síng tatag, ora ngêdhap nadyan mangêrti yèn dalan kang diambah kêbak parang curi. Yèn tansah rongèh lan rangu-rangu, atêgês múng wani ing gampang, wêdi ing pakéwúh, samubarang kang sinêdyå ora bakal ginayúh.

44.                    (P) Manungså iku bisa kinaranan uríp yèn isíh duwé karêp lan pangarêp-arêp.Nangíng yèn karêp mau múng kandhêg ing pangangên-angên lan gagasan baé, ora bédå manungsa kang mati sajroné uríp. Kósókbaliné yèn anggóné nandangi karêpé mau kasêlak kêsusu nikmati pikolèhé kang durúng klakón, gênah anggóné makarti múng anggêr baé. Kêpårå bakal mundúr yèn ngadhêpi pakéwúh, satêmah dadi wóng lumúh.

45.                    (P) Wóng kang kêbak déníng pêpinginan iku adaté banjúr ngångså-ångså, mulå lakuné ugå banjúr miyar-miyur. Kêpêngkók gawé sêthithík baé síng digêdhèkaké pangrêsulané, tundhóné atiné gampang pêpês lan nglokro. Bédå karo wóng kang wicaksana uripé mêsthi måwå tékad lan tujuwan. Bêbasan tiba kapíng pitu gumrêgah tangi kapíng wólu ngrungkêbi tékad lan tujuwané.

46.                    (P) Anggêr wóng wís mêsthi suthík diarani cupêt nalaré, cilík atèn, lan kêndho tékadé. Mulané yèn darbé karêp åjå mundúr mêrgå lupút sêpisan pindho baé, prayogå ambalånå manèh nganti katêkaníng sêdyå. Samubarang pêgawéyan mênåwå kók têmêni wiwít saiki mêsthi bakal bisa ngundhúh bagéyan lan kauntungan. Åpå kang kók sêdyå bakal tumêkå, pituwasé lagi kêtêmu mburi.

47.                    (P) Sarupané pakaryan kang wís kók yakini bêcikíng asilé tumuli énggala katindakna, åjå ngêntèni liyå wêktu. Jêr kêkêncêngan sartå kêkarêpan iku yèn diêndhé-êndhé ora mundhak kuwaté. Nangíng malah mundhak ringkíh lan biså ugå ilang dayané. Sipat sênêng ngêndhé-êndhé iku mujúdaké dalan kang anjóg marang watak ora antêpan lan kêsèd, sungkan ing gawé síng tundhóné dadi tanpå aji uríp ing bêbrayan.

48.                    (P) Wóng kang sinêbút bêrbudi uríp ing bêbrayan iku ora múng wóng kang rumångså kasíkså nyumurupi sapêpadhané síng nandhang påpå, nangíng wóng kang gampang runtúh wêlasé kang tinumbalan runtuhíng barang darbèké lan dêduwèné kanggo têtulúng marang wóng síng kacingkrangan lan kasangsaran. Nangíng kang kåyå ngono mau pancèn angèl golèk-golèkané. Tåndhå yêktiné ing alam donyå iki ora sêthithík wóng síng mati margå kuwarêgên, lan akèh wóng síng mati marga kalirên.

49.                    (P) Wóng mono åjå múng tumandang anggêr barès nangíng kanthi laku kang ora bèrès. Dibiså tansah milah-milahaké êndi síng kêncêng lan êndi síng nalisír såkå paugêran, sartå kulinakna nyirík marang pênggawé musyrík, sinúng marang watak tulús lan ngukuhi kajujuran. Kawruhana, mênåwå ora ånå pusåkå kang ampuhé ngluwihi kajujuraning ati lan wêningíng pikír kang sêpi ing pamríh. Pamrihé múng sawiji, yåiku mangan karahayóning bêbrayan, ngluhúraké kamulyaning bangsa lan nagara.

50.                    (P) Pangråså, pikiran lan kêkarêpan iku tansah mbudidaya rêbut unggúl lan rêbút panguwåså anggóné murbå sapari polahé manungså. Pangråså êmóh diungkuli pikiran. Pikiran sêmono ugå suwaliké. Wóndéné kang móncól dhéwé sumêdyå mbalap ora gêlêm dipêkak yaiku kêkarêpan. Mulå wajibíng manungsa kudu biså ngukuhi sifat manungsané. Dèn sranani kanthi nanjakaké uripé mèlu ngrasakaké lan mêmikír marang ombak umbulíng jaman. Tumandang ing gawé ngêsthi marang rahayuníng bêbrayan munggahé marang ajuníng jaman.

51.                    (P) Sêlawasé uríp nglêngkårå wóng biså uwal babar pisan såkå panggodha, jêr panggodhå iku sumbêré ora liya yå såkå awaké dhéwé. Asalé tumuwúh såkå uwóhíng pikír kang ngayåwårå, banjúr katarík marang kêkarêpan ålå kang wusanané mbabaraké pakarti nisthå. Såpå kang wiwitané énggal tumandang nanggulangi panggodhå, bakal mundhak kasampurnané lan patut sinêbút wóng kang santoså ing budi. Balík kang såpå tansah ngujå panggoda sêmåyå nanggulangi, kêkuwatan batiné såyå lungkrah, bakalé bubrah dadi lêlêthêging jagad.

52.                    (P) Wóng nandúr pari iku bakal ngundhúh pari, ora bakal ngundhúh jagúng utawa kacang. Sêmono ugå pikiraníng manungså, ora bédå karo mau. Yèn pikiran kita tansah kitå kulinakaké lan kitå pigunakaké kang bêcík-bêcík yå bakal nduwèni dåyå kêkuwatan kang bêcík, satêmah biså awèh pakaryan kang pêngaji tumraping bêbrayan. Mulå katimbang nggagas kang ora-ora lan ngayawara, prayogané nggagaså marang laku utåmå lan múlyå. Lan luwíh utama manèh mênåwå gagasan kang mangkono mau diwêdharaké dadi pakarti pisan.

53.                    (P) Råså was sumêlang iku nêrakané wóng síng arêp nggayúh kêmajuan. Såpå kang wís kêtaman råså iki salawasé ora bakal biså maju. Ing sabarang tandang tanduké sarwå tidhå-tidhå lan tansah awang-awangên ngadhêpi kangèlan kang bakal mêmalangi laku. Kósókbaliné tékad iku rasa cíptaníng karså kang wís gêmblèng. adi yèn ånå kêpénak lan orané bakal didhadhagi lan ditêrjang wani. ang pinandêng múng bakal têkaning sêdyå. Nangíng tékad mono bédå bangét karo nékad, jêr nékad kuwi uwóhíng pakarti kang tuwúh såkå kajudhêganíng nalar síng tundhóné kêconggah tumindak nistha, mêrgå kóncadan pêpadhang.

54.                    (P) Abótíng abót iku ora kåyå yèn kudu nuruti préntah lan pitutúr. Pait lan ngrêkåså dikåyå ngåpå préntah lan pitutúr iku prayogå lakónånå baé. lng suwaliké barang pait mau, kowé mêsthi bakal nêmu barang lêgi síng ora klêbu ing pêtunganmu. Pancèn luwíh prayogå paité dhisík, tinimbang lêginé. Awít bisané kowé ngrasakaké lêgi iku rak margå kowé wís ngrasakaké pait. Biså níkmati kabungahan margå wís naté ngalami nandhang kasusahan.

55.                    (P) Wóng kang múng dhêmên cêlathu lan muni-muni, mangkå ora gêlêm tumandang gawé, gênah ora sumurúp marang kaluputané cêlatuné, sabab cêlathu mono múng obahíng ati kang ånå ing lati, dudu obahing tangan síng kanggo tumandang. Nangíng yèn wís tumandang gawé dhéwé, cêthå bakal mêruhi marang luputíng cêlathuné. Mulå saibå bêgjané wóng kang biså cêlathu klawan énggal-énggal tumandang gawé dhéwé.