Jumat, 12 April 2013

Pitutur #3 (Apa itu KB?)

"Jumlah penduduk bumi makin meningkat kira kira 1.200.000 (tahun 2020)  kelahiran bayi  per-hari, daya dukung alam terbatas, planet bumi terasa kian menyempit. Generasi baru hidup dalam kekerasan persaingan untuk memperoleh kesejahteraan, yang kalah akan tersisih dan hidup dalam kemiskinan, maka kejahatan akan merajalela bila manusia tak memiliki moralitas yang baik. Batasi kelahiran sekarang juga, 2 anak cukup. Bila perlu yang selalu hidup dalam kesusahan tak perlu memiliki keturunan. Itu hanya akan menambah beban manusia yang lainnya saja"

Minggu, 07 April 2013

Manusia Jawa?



Apa itu Manusia Jawa?
Adalah sebuah masyarakat yang memiliki filsafat hidup yang berpusat pada konsep harmoni. Konsep hidup bermasyarakat ini memiliki 2 landasan pokok yaitu,
Pertama, menghindari konflik dan menjaga sifat hidup rukun seperti tercantum dalam peribahasa rukun agawe santoso crah agawe bubrah artinya “kerukunan akan menjadi kuat, perselisihan hanya akan mendatangkan kehancuran”.
Kedua, sikap hidup ini harus dilandasi dengan siksp saling menghormati yang bertujuan pada terciptanya keselarasan hidup. Prinsip hidup manusia Jawa juga diungkapkan dalm ungkapan tata titi tentrem karta raharja yang berarti “tertata, cermat, tenteram dan sejahtera”. Dan untuk mengontrol nilai itu manusia Jawa memiliki beberapa norma sosial yang merupakan kendali perilakunya dalam hidup bermasyarakat, yaitu rukun, tepa-slira, jujur, andhap asor, aja dumeh, tulung-tinulung, wani ngalah, wani wedi, wani isen, kepotangan budi dll.

Manusia Jawa juga mengakui adanya kekuatan yang Maha Tinggi.  Terhadap kekuatan ini manusia berada pada posisi yang lemah dan tak memiliki kekuatan apapun seperti dalam ungkapan ora ono daya pikuwat saka manungsa kajaba among saking pitulunganing Gusti Allah artinya “tiada daya dan kekuatan apapun dari manusia kecuali hanya dengan bantuan Allah”

Manusia Jawa memiliki kepercayaan bahwa “hidup itu ada yang menghidupkan”. Oleh sebab itu segala kejadian yang dialami manusia merupakan kehendak Tuhan. Pandangan ini memberikan kekuatan dan semangat hidup manusia Jawa bahwa segala perbutan  dunia ini diupayakan sebagai sarana manecapai ridho Tuhan yang membutuhkan kebaikan hidup ketika didunia (utama) dan meninggalkan perbuatan buruk atau (nistha) sehingga dapat mencapai derajat manusa utama (manungsa utama). Kehendak yang kuat ini bertujuan untuk mencapai manunggaling manungsa kelawan gusti atau “bersatunga antara manusia dengan Tuhan” yang secara simbolis harus dipahami sebagai kembalinya manusia pada asalnya. Dalam hal ini manusia Jawa melambangkan kesatuan itu sebagai warangka (sarung keris) dengan curiga (mata keris).
 
Manusia Jawa percaya pada takdir Allah, pasrah ing ngarsa gusti atau pasrah pada kehendak Tuhan. Segala sesuatu yang menimpa dirinya selalu dikembalikan dan dilandasi pada adanya kemurahan Tuhan sesuai dengan ungkapan nrimo ing pandum, artinya segala rejeki yang diterimanya dipercaya merupakan kehendak Tuhan.

Manusia Jawa meyakini bahwa hidup itu hanya sebentar dan harus dilanjutkan untuk menjalani perjalanan panjang untuk menuju Tuhan Yang Maha Pencipta, sesuai ungkapan urip iku mung saderma mampir ngombe artinya “hidup itu hanyalah sekedar mampir untuk minum”. Oleh karena itu hidup adalah kesempatan untuk mencari bekal sebanyak banyaknya, bukan bekal harta melainkan bekal kebajikan dan amal perbuatan luhur.

Manusia Jawa memiliki sifat pasrah dan sumarah, dalam artian manusia sekedar berusaha sedangkan Tuhanlah yang menentukan sesuai dengan ungkapan beja cilaka dipesti pangeran atau “kebahagiaan dan penderitaan manusia ditentukan oleh Tuhan”

Manusia Jawa memiliki kebiasaan laku prihatin, yaitu pengekangan hawa nafsu yang diungkapkan dengan cegah dahar kelawan guling atau “mengurangi makan dan tidur” Bila ini dilaksanakan, maka akan diperoleh kebersihan lahir batin yang dilandasi oleh sikap eling lan waspada (selalu ingat dan waspada kepada Tuhan) terhadap keburukan yang datang dan godaan nafsu. Beberapa laku lain yang biasa dilakukan oleh manusia Jawa adalah semedhi, tirakat, tingkeban, brokohan, sepasaran, selapanan dan tedhak siten.
(Sumber : Ismail Yahya MA Dkk, 2009-3)

Ritual Adat Kejawen?



Apa itu ritual adat kejawen?
Adalah prosesi upacara kegiatan budaya lokal Jawa yang dikreasi untuk memperingati hari atau peristiwa penting yang berhubungan dengan keagamaan. Ritual ini dilakukan untuk mengakomodir budaya lokal agar kearifan lokal tidak hilang dan masih dapat diruntut jejak asal muasalnya. Ritual ini digagas oleh para walisanga, yaitu para penyebar agama Isl;am di pulau Jawa yang amat toleran pada budaya lokal sebelum kedatangan Islam, yaitu budaya animisme dinamisme Hindu dan Budha. Para wali tidak menghilangkan budaya yang sudah mengakar dan sudah ada tetapi mereka cukup mengubah substansinya.

Bersama ini kami sajikan beberapa ritual adat masyarakat Jawa yang masih kental pengaruh kebudayaan kerajaan Jawa Islam di lingkungan keraton Surakarta dan Jogjakarta.

1. RitualKirab pusaka keraton, yaitu arak arakan mengusung pusaka keraton (tombak, keris dll) meneglilingi keraton Surakarta pada tanggal 1 Sura/ Muharram. Ritual ini berasal dari ritual hajat dalem wilujengan nagari atau ritual untuk keselamatan negara yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit. Upacara ritual kirab pusaka memiliki sifat religius magis, paercaya pada hal hal yang bersifat magis, keramat, sacral dalam pengertian memiliki 4 hal pokok yaitu arwah leluhur, pepunden, pusaka pusaka keraton dan mahluk ghaib.

2. Ritual Yaqawiyyu, yaitu ritual memperingati hari meninggalnya / haul Ki Ageng Gribik, yang adalah penyebar agam Islam di wilayah Klaten yang dilakukan tiap bulan Sapar/Saffar. Upacara ini berupa rebutan gunungan kue apem, yang dulunya diberikan oleh Ki Ageng Gribik dalam mengatasi bahaya kelaparan di wilayah Jatinom, Kalten. Dengan demikian maka masyarakat di wilayh ini dapat meneladani kesederhanaan, kemuliaan budi pekerti dan keteladanan hidup yang diberikan oleh Ki Ageng Gribik atau Sunan Geseng..

3. Ritual Sekaten, yaitu upacara riual memperingAti maulId atau kelahiran Rasul Allah Muhammad SAW yang dilaksanakan oleh keraton Surakarta maupun Jogjakarta setiap tanggal 5 – 12 bulan Mulud / Rabiul Awal.
Terdapat 4 makna Sekaten, yaitu :

a. Merupakan ungkapan rasa kecintaan pada Nabi Muhammad dalam bingkai budaya Jawa. Sekaten berasal kata syahadatain atau kalimat syahadat (asyhaduallah illahaillah wa asyhaduanna Muhammadarasulullah) yang artinya Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan Sealin Allah dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad adalah Rasul Allah..

b. Startegi dakwah. Dahulu ketika musik gamelan dibunyikan di dalam masjid, maka orang yang datang ingin mendengarkan diminta untuk mengucapkan kalimat syahadat terlebih dulu.

c. Ucapan rasa syukur atas limpahan rahmat dan kesejahteraan Allah pada Raja dan rakyatnya yang ditandai dengan ritual simbolik uapacara pemeberian Raja yang berupa gunungan hasil bumi yang diperebutkan.
d. Buah buahan dan sayuran merupakan smbol rakayat Jawa yang agragis.

4. Ritual Grebeg, yaitu ritual selamatan beriringan mengikuti gunungan tumpeng besar berupa hasil bumi yang diarak. Gunungan tumpeng diarak ke masjid yang diikuti oleh penghulu keraton, ulama dan rakyat. Terdapat 3 grebeg yang dilakukan oleh keraton Surakarta dan Jogjakarta, yaitu :
  1. Grebeg Mulud, untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad yang diadakan tiapa bulan Mulud/ Rabiul Awal.
  2. Grebeg Sawal, untuk memperingati datangnya Hari Raya Idul Fitri diadakan tiap bulan Sawal.
  3. Grebeg Besar, untuk memperingati Hari Raya Idul Adha/ Hari Raya Qurban yang diadakan tiap bulan Besar/Dzulhijah

5. Ritual Peksi Buraq, yaitu upacara memperingati peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad SAW yang dilakukan oleh keraton Jogjakarta setiap bulan Rajab.  Dalam ritual ini digambarkan burag dengan simbol 2 ekor burung jantab dan betina yang bertengger di taman sorga. Buraq adalah kendaraan rasul pada saat Isra' Mi’raj yaitu Isra’ yang merupakan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, Palestina dan Mi'raj yaitu perjalanan dari Masjidil Aqsa ke sidratul muntaha (langit ke-7) untuk memenuhi panggilan Allah..

6. RitualSadranan, yaitu upacara pemberian sesaji untuk menghormati arwah leluhur yang diadakan pada setiap tanggal 17 – 24 bulan Ruwah/Sya;ban. Biasanya ritual ini dilakukan dengan membersihkan kuburan leluhur yang telah meninggal, acara munjung atau berkunjung ke sanak famili dan ditutup dengan acara kenduri.
(Sumber : Ismail Yahya Ma. Dkk, 2009)




                

Apa Itu Kejawen?



Apa itu Kejawen ?
Kejawen adalah pandangan hidup orang Jawa, yang menekankan pada ketentraman batin, keselarasan, keseimbangan, sikap menerima terhadap semua peristiwa yang terjadi, sambil menempatkan individu dibawah masyarakat dan alam semesta.

Apa isi Kejawen?
Isi dari Kejawen adalah nilai nilai, etika dan spiritualitas yang terinspirasi dari tradisi Jawa. Masyarakat secara turun temurun mewarisi kekayaan, pengetahuan dan kebudayaan Kejawen ini.
Secara umum masayarakat Jawa diajarkan untuk menjalani hidup dengan mengikuti :
1. Tata urip atau tata hidup yang bermakna dalam kehidupannya, seseorang harus merencanakannya dengan baik agar tercapai apa yang dicita-citakannya.
2. Tata krama yang bermakna seseorang harus memiliki perilaku sopan santun dan unggah ungguh dalam hidup bermasyarakat.
3. Tata laku yang bermakna dalam setiap langkah kehidupannya seseorang harus memperhitungkannya dengan cermat.
Untuk memperoleh hidup yang bahagia dunia akhirat dengan jalan Kejawen, maka seseorang harus mampu memahami jagad gede (alam semesta) dan jagad cilik (diri pribadi). Setelah mampu memahami kedua jagad itu, maka harus mampu pula untuk menyatukannya agar diperoleh  keselarasan hidup. Konsep filosofi ini diwujudkan dalam 5 hal, yaitu :

1. Manunggaling kawula kalawan Gusti (bersatunya manusia dengan Sang Pencipta), yang diwujudkan dalam bentuk melenyapkan egoisme dan ke-akuan sehingga akan tercapai dunia yang sesungguhnya. Berikut 4 jalan mistik atau laku batin yang harus dilalui : 

a. Panekung, artinya semedhi secara khusyuk dan tak tergoda oleh ap
b. Dyana, artinya tekad kuat lahir bathin yang untuk sampai kepada Tuhan. 
c. Sumarah / Sumeleh artinya tidak mengharap apapun kecuali haknya. 
d. Paramita artinya kehidupan lahir batin yang menuju kesempurnaan, yaitu sikap legawa (baik hati), susila (sopan), waspada, tepa slira (rendah hati) dan wicaksana (bijaksana)

2. Memayu hayuning bawana (penciptaan hidup dalam kedamaian di bumi), yang dilakukan untuk memberikan rasa tenteram, tidak tertekan, nyaman dan mengedepankan prinsip kemanusiaan (semua harus dihormati tanpa melihat status dan pangkat derajatnya)

3. Sepi ing pamrih rame ing gawe (giat bekerja bukan karena dilandasi besarnya imbalan)

4. Sangkan paraning dumadi (memahami darimana berasal, dimana ia hidup dan hendak kemana) 

5. Budi luhur (berakhlak mulia)

(Sumber : Ismail Yahya, MA dkk, 2009-18)

Sabtu, 30 Maret 2013

Pitutur #2 (Apa itu sumber daya alam"?)

"Daya dukung sumber daya alam, bakal tak akan mampu mengimbangi keserakahan umat manusia yang terus memanjakan dirinya dengan kenikmatan sesaat. Bencana alam bakal terus menimpa dan bahkan semakin hebat. Sadarlah mulai sekarang rawatlah alam dan pulihkan kerusakannya, serta batasi nafsu mengeksploitasi bumi yang tak menghiraukan keseimbangan alam" 



Jumat, 08 Maret 2013

Pitutur #1 (Apa itu kebatinan?)

"Barangsiapa mengikuti aliran kebatinan Budhiroso, pasti bahagia hidupnya, sebab segala tingkah laku hidup di marcapada atau alam dunia yang fana ini, apabila didasari dengan kejernihan hati, perasaan dan pikiran, akan menghasilkan buah kebaikan terutama bagi diri pribadi".


Senin, 09 Juli 2012

Apa itu Sakaratul Maut?

Bagaimana rasanya menjelang ajal atau sakaratul maut, saat di pembaringan? Saya akan coba gambarkan situasi itu buat anda. Ketika anda sehat, maka anda mampu menggerakkan seluruh anggota badan anda, sesuai dengan arah gerak sendi engsel tulang rangka. Anda bisa menggenggam sebuah HP dengan lembut, hingga HP itu tidak jatuh atau rusak. Disini syaraf motorik dan sensorik bekerja dengan baik, sesuai dengan keinginan anda. Lalu bagaimana jika anda sakit menjelang ajal? Anda tak mampu meraih sebuah HP apalagi menggenggamnya. Anda tak mampu menggerakkkan tangan anda. Apabila gerakan ini tak dapat anda lakukan, maka dapat dipastikan anda sedang mengalami kematian syaraf kesadaran, lalu menunggu datangnya sakaratul maut. Semua indera perasa anda tak berfungsi dengan baik. Anda tak mampu lagi merasakan manis atau pahit, pendengaran jadi lamur/berkurang daya tangkapnya, penglihatan jadi kabur. Nah, malam harinya ketika anda bangun dari tidur, anda akan merasakan dingin yang luar biasa, sehingga anda ingin diselimuti untuk mengusir dingin itu. Lalu dengan perlahan mata anda akan terpejam. Antara sadar dan tidak, tiba tiba akan terdengar suara sesuatu yang berdengung mirip suara lebah, mengitari anda. Itu pertanda datangnya utusan Allah, yaitu molekat Mikhail, malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk mencabut nyawa manusia. Suara itu berputar putar mendekat lalu menjauh, seakan memberi tahu kepada anda bahwa sesuatu mahluk akan datang dan mengajak anda untuk pergi. Nyawa anda akan dicabut lewat mana? Hidung atau ujung kuku ibu jari kaki (jempol). Sesuai aliran nafas, maka yang paling ringan sakitnya adalah dicabut dari perut lalu keluar melalui nafas di lubang hidung. Sakit tidaknya waktu nyawa keluar, tergantung kesiapan anda untuk rela mati atau tidak. Jika anda masih memberati hidup di dunia atau masih ingin hidup terus atau tidak rela mati, maka nyawa akan dicabut terbalik, yaitu dari ubun ubun tereus ke perut lalu keluar melalui ujung ibu jari kaki. Sakitnya luar biasa. Oleh karena itu, mungkin anda pernah mendapat cerita bahwa sebelum meninggal seseorang meludah ludah dan bergulingan di tempat tidur sambil terus merintih, itu dapat disebabkan karena si calon mati belum rela melepas kehidupan didunia. Setelah nyawa keluar dari badan, maka suara yang berdengung itu (mirip helicopter), terus berputar putar disekitar anda. Seakan mau menuntun anda untuk mengikutinya keluar dari alam fana/dunia. Biasanya selama 3 hari, anda masih menekuni tubuh anda. Anda ingin berbicara dengan sanak sedulur yang menangisi tubuh anda, tetapi suara tak bisa keluar. Ya anda sudah mati. Anda ingin memegang sesuatu, tapi tak bisa karena tanpa raga. Setelah dimakamkan, maka malaikat Mungkar Nakir segera datang, begitu para pelayat sudah membalikkan badan. Anda akan ditanya tentang segala sesuatu mengenai tindakan anda ketika hidup didunia. Bersikaplah setenang tenangnya, jawablah semua petanyaan dengan pelan dan mantap. Pertanyaannya sekitar “apakah pernah membaca kitab suci?”, “Apakah pernah mendapat bimbingan dari GURU? Dan “ Apakah segala perbuatan yang anda lakukan sudah menyebut nama Tuhan lebih dulu, bila risikonya berkaitan dengan nasib orang lain?”

Pada hari ke-4, maka anda akan dibangkitkan dari kubur, lalu diajak oleh suara itu (suara isyarat saja, tanpa memakai bahasa apapun) untuk bertemu dengan sanak sadulur yang sudah meninggal. Anda akan diarahkan menuju suatu pintu yang bersinar terang, itu pintu pelepasan namanya. Pintu untuk menuju alam barzah (alam penantian). Bila anda menolak untuk mengikuti suara penuntun itu, maka akan terdengar suara angin ribut yang menakutkan, maka mau tidak mau anda akan menuruti kemana suara itu menuntun. Setelah anda melewati pintu pelepasan, maka anda akan dipertemukan dengan sanak sadulur. Berkumpulnya  anda dengan sanak sadulur ini menandakan bahwa keberadaan anda sudah berada  di alam barzah (alam penantian). Semua amalan anda sudah terputus, kecuali bila anda memiliki keturunan yang baik, ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah (amalan yang bisa dinikmati orang banyak, misalkan bikin jembatan, sumur, tempat ibadah dll).

 (Pengetahuan tentang skaratul maut diatas didapat dari hasil terawangan dengan laku samadhi dan berdoa di makam -yang baru dikubur)

$$$